TAHAPAN-TAHAPAN KEJADIAN HARI KIAMAT

TAHAPAN-TAHAPAN KEJADIAN HARI KIAMAT

Beritahu yang lain

Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Di tulis oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

 

Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalus Syaikh rahimahullah menyatakan:

Ini adalah (pembahasan) permasalahan tentang urut-urutan perkara-perkara yang terjadi pada hari kiamat. Ini adalah perkara yang penting. Karena sesungguhnya hal-hal yang terjadi pada hari kiamat berdasarkan alQuran dan Sunnah sangat banyak. Seperti yang disebutkan tentang berdirinya manusia, telaga, timbangan, lembaran-lembaran (catatan amal), hisab, al-Ardl (penampakan amal), membaca (catatan amal), bertebarannya lembaran-lembaran (catatan amal), kitab, ash-Shirath, kegelapan, dan hal-hal yang bermacam-macam. Bagaimanakah urut-urutannya?

Pendapat yang nampak (benar) dan disetujui oleh para Ulama Muhaqqiqun (para peneliti) bahwa urut-urutan kejadian pada hari kiamat adalah sebagai berikut:

Pertama: Ketika manusia dibangkitkan dan mereka berdiri dari kubur mereka, mereka pergi ke bumi Mahsyar. Kemudian mereka berdiri di bumi Mahsyar sangat lama. Keadaan mereka sangat menderita dan kehausan. Mereka mengalami ketakutan yang sangat karena demikian lamanya masa berdiri dan keyakinan mereka akan adanya hisab (perhitungan amal) dan apa yang akan Allah berikan balasan untuk mereka.

Kedua: Pada saat lama berdiri, Allah Azza Wa Jalla mengangkatkan untuk Nabi-Nya (Muhammad) shollallahu alaihi wasallam pertama kali telaga beliau yang akan didatangi (umatnya). Sehingga telaga Nabi shollallahu alaihi wasallam berada di pelataran kiamat ketika sudah sangat lama masa berdiri (manusia di hadapan) Rabb semesta alam pada hari yang kadarnya adalah 50 ribu tahun.

Barangsiapa yang meninggal di atas Sunnah beliau, tanpa merubah, mengada-adakan dan tidak mengganti, akan mendatangi telaga itu dan mendapatkan minum darinya. Sehingga permulaan keamanan baginya adalah mendapatkan minuman dari telaga Nabi kita shollallahu alaihi wasallam. Kemudian setelahnya, untuk setiap Nabi diangkat telaganya, sehingga orang-orang sholih yang menjadi umatnya bisa minum.

Ketiga: Kemudian manusia berdiri sangat lama. Kemudian terjadilah asy-Syafaa’atul ‘Udzhmaa – syafaat Nabi shollallahu alaihi wasallam- yaitu Allah Azza Wa Jalla menyegerakan hisab bagi para makhluk dalam hadits panjang yang sudah dikenal: bahwa mereka meminta kepada Adam kemudian Nuh kemudian Ibrahim dan seterusnya. Kemudian mereka datang kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam dan berkata: Wahai Muhammad, mereka menyebutkan keadaan mereka dan hendaknya manusia berlindung dari kesengsaraan (waktu itu) dengan disegerakannya hisab. Maka Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda setelah permintaan mereka: Berikanlah syafaat untuk kami di sisi Rabbmu. Nabi bersabda: Akulah yang berhak demikian, akulah yang berhak demikian. Kemudian beliau mendatangi Arsy, kemudian tersungkur (sujud) memuji Allah Azza Wa Jalla dengan pujian-pujian yang dibukakan (diwahyukan) oleh Allah Azza Wa Jalla untuk beliau. Kemudian dikatakan kepada beliau: Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, engkau akan diberi. Berikan syafaat, niscaya engkau akan diizinkan memberi syafaat. Jadilah hal itu merupakan syafaat yang terbesar dalam menyegerakan (pelaksanaan) hisab

Keempat: Kemudian terjadi al-‘Ardl (penampakan) amalan-amalan.

Kelima: Setelah al-‘Ardl adalah hisab

Keenam: Setelah hisab yang pertama, bertebaranlah lembaran-lembaran (catatan amal). Hisab yang pertama berada dalam bagian al-‘Ardl, karena di dalamnya terdapat perdebatan dan penyampaian udzur-udzur (alasan). Kemudian setelah itu bertebaranlah lembaran-lembaran (catatan amal). Ahlul Yamiin mengambil kitab (catatan amal) mereka dengan tangan kanan. Sedangkan Ahlusy Syimaal mengambil kitab mereka dengan tangan kiri mereka, kemudian pembacaan kitab (catatan amal itu).

Ketujuh: Kemudian setelah membaca kitab (catatan amal) terdapat hisab juga untuk menepis alasan-alasan dan penegakan hujjah dengan membaca isi kitab-kitab (catatan amal) itu

Kedelapan: Kemudian setelah itu adalah penimbangan (al-Miizaan), sehingga ditimbanglah hal-hal seperti yang telah kami sebutkan

Kesembilan: Kemudian setelah al-Miizaan, manusia terbagi menjadi kelompok-kelompok dan azwaaj. Azwaaj artinya adalah sekumpulan orang-orang yang sama bentuknya (sifatnya, pent). Ditegakkanlah bendera-bendera para Nabi: bendera Muhammad shollallahu alaihi wasallam, bendera Ibrahim, bendera Musa, dan seterusnya. Manusia bermacam-macam mengikuti bendera sesuai jenis mereka. Setiap bentuk bergabung dengan bentuk yang serupa dengannya.

Orang-orang dzhalim dan kaum kafir juga dikumpulkan bersama kelompoknya yang serupa. Sebagaimana firman Allah:

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ * مِنْ دُونِ اللَّهِ…

Kumpulkanlah orang-orang dzhalim dan teman yang sejawat (serupa, pent) dan sesembahan –sesembahan yang mereka sembah selain Allah (Q.S as-Shoffaat ayat 22-23)

Maksud teman sejawat adalah yang serupa bentuk dan tipe mereka. Ulama-nya kaum musyrikin dikumpulkan dengan Ulama-nya kaum musyrikin. Orang dzhalim dikumpulkan dengan orang dzhalim. Orang yang mengingkari hari kebangkitan dikumpulkan dengan orang yang mengingkari hari kebangkitan. Demikian seterusnya

Kesepuluh: Kemudian setelah itu Allah Azza Wa Jalla menimbulkan kegelapan sebelum Jahannam – wal ‘Iyaadzu billaah – sehingga manusia pun berjalan sesuai cahaya yang diberikan kepada mereka. Maka umat ini pun berjalan dan di dalamnya masih terdapat kaum munafik. Kemudian ketika mereka berjalan dengan cahaya mereka, dibuatlah pagar (pemisah) yang sudah dikenal:

فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ * يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى

Kemudian diadakan di antara mereka pagar (pemisah) yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya terdapat rahmat dan di sebelah luarnya terdapat adzab. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (kaum beriman): Bukankah kami dulu bersama kalian? Kaum beriman berkata: Ya….(Q.S al-Hadid ayat 13-14)

Kemudian Allah Azza Wa Jalla memberikan cahaya kepada kaum beriman, sehingga mereka bisa melihat jalan (menuju) as-Shirath. Adapun orang-orang munafik, tidak diberi cahaya. Bahkan mereka menjadi bersama kaum kafir kebingungan di anNaar. Mereka berjalan sedangkan di depannya terdapat Jahannam. Wal ‘iyaadzu billah (semoga Allah melindungi kita dari hal itu)

Kesebelas: Kemudian datanglah Nabi shollallahu alaihi wasallam pertama kali dan berada di atas (seberang, pent) as-Shirath, meminta kepada Allah Azza Wa Jalla untuk beliau dan umat beliau dengan berkata: “Ya Allah, selamatkanlah. Ya Allah selamatkanlah”. Kemudian Nabi shollallahu alaihi wasallam dan umatnya menyeberangi as-Shirath. Masing-masing melintasinya sesuai kadar amalannya. Mereka mendapatkan cahaya juga sesuai kadar amalannya. Maka bisa melintasinya orang-orang yang Allah Azza Wa Jalla mengampuninya dan ada yang berjatuhan ke anNaar, (bahkan terdapat) orang yang mentauhidkan Allah yang Allah adzab sesuai dengan kehendak-Nya (karena dosanya, pent).

Kemudian jika mereka telah melewati anNaar, mereka berkumpul di pelataran Surga yaitu di halaman yang telah Allah Azza Wa Jalla sediakan untuk melaksanakan qishash antar orang-orang yang beriman dan menghilangkan perasaan dendam (antar mereka) sehingga mereka masuk Surga tanpa ada perasaan dendam (sedikit pun, pent).

Keduabelas: Kemudian masuk Surga pada giliran awal, setelah Nabi shollallahu alaihi wasallam: kaum faqir Muhajirin, kaum faqir Anshar kemudian kaum faqir (yang lain) pada umat ini. Orang-orang kaya diakhirkan (masuk Surga) karena mereka masih mengalami hisab antara mereka dengan para makhluk dan karena (kesibukan menghadapi) perhitungan mereka terhadap hal itu.

(Demikianlah) hingga akhir kejadian yang disebutkan dalam al-Quran al-Adzhiim..

(Ithaafus Saa-il bimaa fit Thohaawiyyah minal Masaa-il karya Sholih bin Abdil Aziz Aalisy Syaikh (38/4))

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman