ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻰﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

Faidah dari Ustadz Usamah al Banjari, Pengajar di Ma’had an-Najiyah Kaliwinasuh Banjarnegara.

Bahwasanya dikisahkan ada seorang pemuda telah ikut berperang di jalan ALLOH sekian lamanya.

Dan menginginkan agar dirinya bisa mati syahid namun belum kunjung untuk meraihnya.

Maka diapun mengajak bicara kepada dirinya sendiri dan mengatakan: “Demi ALLOH apabila aku telah kembali kepada sanak keluargaku, maka aku akan menikah.

Kemudian pemuda tersebut tidur siang di dalam tenda dan beberapa saat kemudian para sahabatnya membangunkannya untuk sholat dzuhur.

Ternyata setelah bangun tiba tiba pemuda tersebut menangis sehingga para sahabatnya khawatir kalau kalau pemuda tersebut tertimpa sesuatu.

Ketika pemuda ini melihat kekhawatiran yg terjadi pada para sahabatnya maka pemuda tersebut mengatakan:

“Sungguh aku tidak apa-apa, akan tetapi aku bermimpi didatangi seseorang, maka orang itu mengatakan padaku:

“pergilah engkau bersamaku menemui istrimu AL ‘AINA (GADIS JELITA YANG LEBAR MATANYA).

“Maka akupun bangkit bersamanya dan pergilah dia denganku dan berjalan dihamparan bumi yang putih bersih”.

Kemudian kami mendatangi taman yang aku belum pernah melihat taman seindah taman itu sama sekali. Dan di dalamnya terdapat sepuluh gadis yang akupun belum pernah melihat gadis secantik mereka, maka aku berharap salah satunya adalah AL ‘AINA, dan aku katakan pada mereka:”apakah diantara kalian ada AL ‘AINA?”

Merekapun menjawab:”Dia ada di antara kami dan kami semua yang di sini hanyalah dayang dayang yang mengasuh AL ‘AINA.”

Akupun berlalu bersama temanku dan mendapati lagi sebuah taman yang berkali lipat indahnya dari taman yang tadi aku tinggalkan, dan di dalamnya ada duapuluh gadis yang berkali lipat kecantikannya dari sepuluh gadis aku yang tinggalkan tadi.

Maka aku berharap AL ‘AINA salah satu dari mereka dan kukatakan pada mereka:”apakah diantara kalian ada AL ‘AINA?”

Mereka menjawab:”dia bersama kami tapi yang disini semuanya hanya dayang-dayangnya.”

Selanjutnya pemuda tersebut menyebutkan pertemuannya dengan tigapuluh gadis yang lain berkali lipat kecantikanya di bandingkan gadis gadis yang dilewatinya, yg tigapuluh gadis itupun adalah dayang-dayang AL ‘AINA.

Pemuda tersebut melanjutkan cerita yang dialami didalam mimpinya dia berkata :”kemudian sampailah perjalananku di depan kubah dari permata yaqut yang berwarna merah berkilauan yang gemerlap cahayanya menerangi sekitarnya. Maka temanku yang mengantarku mengatakan padaku:”masuklah engkau!!” temuilah istrimu!”

Maka segera akupun memasukinya. Dan terlihatlah didalamnya seorang gadis yang cahaya kubah yaqut tadi kalah dan tidak ada apa apanya di bandingkan kemilau cahaya yang terpancar dari kecantikan paras gadis tersebut.

Akupun duduk dan mengajak gadis jelita tersebut bercakap-cakap sesaat dengannya. Dan akupun menjadikanya mau berbicara kepadaku.

Sesaat kemudian sahabatku berkata kepadaku:”Keluar engkau dan pergilah!!”

Dan akupun tidak mampu menolak perintahnya sehingga aku berdiri untuk keluar dalam keadaan gadis tersebut memegang ujung selendangku sambil mengatakan padaku:

“Berbuka puasalah anda malam ini di sisi kami,”

“Maka ketika itulah kalian membangunkan aku dan tahulah aku kalau itu semua hanya didalam mimpi sehingga akupun menangis sejadi jadinya.”

_______________

Tidak berapa lama pasukan diseru agar mengendarai kendaraan untuk bertempur, maka pasukanpun menaiki kendaraan masing-masing dan saling serang dgn musuh sampai terbenamnya matahari dan telah halal bagi orang yang berpuasa untuk berbuka.

Dan terbunuhlah pemuda tersebut saat itu, sedangkan pemuda tersebut dalam keadaan BERPUASA hari itu.

______________

WA Forum Berbagi Faidah

Muhammad bin Mutsana rohimahullohu berkata:” Telah bercerita kepadaku Abdulloh bin Sinan rohimahulloh, beliau mengatakan:”Aku waktu itu bersama Abdulloh ibnul Mubarok dan Mu’tamar bin Sulaiman rohima humullohu ajma’in, di daerah Torosus. Maka para manusia berteriak:” wahai pasukan bersiaplah kalian menghadapi musuh!!!”

Maka keluarlah Ibnul Mubarok bersama pasukan muslimin. Hingga ketika kedua pasukan (yaitu pasukan muslimin dan pasukan orang kafir romawi) sudah saling berhadapan hadapan, maka majulah seorang jagoan dari barisan pasukan kafir romawi menantang pasukan muslimin untuk berperang tanding satu lawan satu. Maka keluarlah kepada jagoan romawi itu seorang dari jagoan islam. Maka jagoan romawi tersebut segera menyerang dan mendesak serta membunuhnya. Bahkan jagoan romawi itu terus membunuhi satu demi satu jagoan muslimin yang berusaha menerima tantanganya hingga enam jagoan muslimin sudah berhasil di bunuhnya.

Sehingga kemenangan itupun menjadikan jagoan romawi tersebut kemudian berbangga diri dan berjalan dengan sombongnya diantara dua pasukan yang saling berhadapan tersebut dan kembali menantang jagoan muslimin yang lainnya untuk berperang tanding dan kali ini tidak seorangpun dari pasukan muslimin yang keluar dari barisan pasukan untuk bertanding menghadapinya.

Maka ketika itu Ibnul Mubarok rohimahulloh berpaling kepadaku dan mengatakan:”Wahai fulan kalau aku terbunuh(dalam perang tanding melawan jagoan romawi itu) maka lakukanlah olehmu demikian dan demikian!!!”

Kemudian beliaupun memacu hewan tunggangannya dan menerima tantangan jagoan kafir romawi tersebut keduanya saling menyerang beberapa saat dan beliau kemudian berhasil membunuh jagoan romawi tersebut.

Setelah itu beliau (Ibnul Mubarok) kembali menantang jagoan yangg lainnya dari pihak pasukan kafir romawi, maka maju menerima tantangan beliau, jagoan romawi yang lainnya dan beliaupun berhasil membunuhnya pula. terus beliau bertanding satu lawan satu hingga mencapai enam orang jagoan romawi saat itu berhasil beliau bunuh.

Terus menerus beliau mengajak lagi jagoan kafir romawi yang lain untuk perang tanding melawannya namun hingga beberapa lama tidak ada yang maju bertarung dengan beliau, sepertinya para jagoan kafir romawi sudah merasa akan kalah kalau melawan beliau sehingga tidak ada lagi yang berani menerima tantangan beliau lagi.

Sehingga beliaupun kemudian memacu hewan tunggangannya menjauh dari dua pasukan dan menghilang hingga kami pun tidak mengetahui jejaknya sama sekali(wallohu a’lam boleh jadi agar tidak diketahui oleh siapapun kalau beliaulah yang telah berhasil mengalahkan para jagoan romawi tersebut)

Hingga ketika aku telah bersama beliau lagi di tempat biasanya beliau berada maka beliaupun mengatakan padaku:”Wahai Abdulloh awas jikalau kamu ceritakan kejadian (perang tanding) itu kepada seseorang sedangkan aku masih hidup…..!!!!!!! , selanjutnya beliaupun (yaitu Ibnul Mubarok) memberikan peringatan kepadaku dengan beberapa kalimat peringatan.

(SIYAR A’LAMIN NUBALA’ 8/408 , 409)

KITAB AINA NAHNU MIN AHLAQIS SALAF PENYUSUN ABDUL AZIZ BIN NASIR AL JALIL BAHAUDDIN BIN FATIH ‘AQIL

faedah ustadz usamah al banjari pengajar di ma’had an najiyah kaliwinasuh banjarnegara

w.a banjarnegara

Biarlah kisah ini telah masyhur. Biarpun cerita ini telah banyak yang tahu. Namun penulis, sebagai makhluk yang penuh dengan noktah kelabu, hanya ingin mengenang momen-momen indah saat Rabbul Izzah menegur dengan penuh sayang kaum muslimin. Mengenang jatuh bangunnya Rasululloh mempertahankan kekuatan Islam. Dan juga mengenang perjuangan para shohabat menebus kesalahan-kesalahan mereka.

Semoga dengan tergoresnya kisah ini, mencuatlah tekad untuk memperbaiki cacat dan aib dalam diri.

________ooOoo________

Jauh kearah selatan bukit uhud, dendam terus membara dalam dada-dada kaum kafir Quroisy. Kekalahan telak di perang Badr membuat kalbu terasa sesak, pedih dan benar-benar menyakitkan. Terlebih jika mengingat korban yang terbunuh, oh.. kalbu bagaikan tersayat-sayat.

Bagaimana tidak ? Kebanyakan yang terbunuh adalah orang-orang terpandang. Sebutlah Abu Jahl, Umayyah bin Kholaf dan 24 tokoh lainnya.

Syawwal tahun ketiga hijriyah, atau setahun lebih beberapa hari pasca perang Badr, dendam benar-benar sampai pada puncaknya. Hanya tinggal menunggu pemantiknya saja. Dan Abu Sufyan-lah pemantiknya.

Dalam sekejap, 3000 pasukan menyambutnya. Termasuk 200 kavaleri di dalamnya. Strategi disusun dan taktik dimatangkan.

Dipilihlah Abu Sufyan sebagai jendral tertinggi dan Kholid bin Walid sebagai komandan kavaleri dengan Ikrimah bin Abi Jahl sebagai wakilnya. Adapun bendera perang diserahkan kepada salah seorang dari Bani Abdid Daar.

Tekad mereka satu, bunuh Muhammad dan hancurkan Islam.

Bahkan, saking seriusnya untuk meluluh lantakkan Islam, mereka ikut sertakan para wanita di belakang mereka. Agar setiap prajurit bersemangat melindungi keluarganya dan tidak bergampang hati mundur kebelakang.

Madinah kini ditatap. Beribu pasang kaki bergerak menuju kesana. Terus menyusuri sahara hingga tiba di ‘Ainain, sebuah tempat dekat Uhud.

Sementara di Madinah, aura kecongkakan Quroisy telah terasa. Segera Rasululloh menggelar musyawarah dengan para petinggi shohabat.

“Aku bermimpi sedang mengenakan baju besi yang begitu kuat. Aku juga melihat seekor lembu tersembelih.

Sepertinya baju besi itu berarti Madinah. Adapun lembu, wallohi  lembu lebih baik, ” Rasululloh memulai musyawarah.

“Bagaimana kalau kita bertahan di Madinah. Jika benar mereka berani masuk, kita serang habis-habisan, ” lanjut Rasululloh -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

“Rasululloh, demi Allah tidak ada yang bisa menyerang kami sampai ke Madinah di masa jahiliyah. Lalu bagaimana kita biarkan mereka memasuki kota ini padahal kami telah berislam,” kata salah seorang petinggi Anshor mengutarakan pendapatnya.

“Baik. Kita ambil pendapat kalian,” Rasululloh memberi keputusan.

Beliau masuk rumah. Keputusan menyongsong kuffar telah tertancap dalam kalbu beliau. Srek.. sepasang baju besi beliau kenakan. Tangan menggenggam senjata sembari kalbu menggenggam doa.

Lain halnya dengan Nabi yang tekadnya sekokoh Uhud, rasa sesal malah menyapa petinggi Anshor.

“Mengapa kita menolak pendapat Rasululloh !?” bisik-bisik diantara mereka.

Bersegera mereka mendatangi Rasul, “maafkan kami, Nabiyyulloh. Tentu pendapatmu lebih tepat.”

Mendengarnya, jiwa pembimbing Nabi muncul. Beliau tak rela shohabatnya memiliki prinsip yang mudah goyah. Beliau tak ingin shohabatnya mudah merubah keputusan yang telah terikat. Bukankah Allah berfirman

فإذا عزمت فتوكل على الله

“Jika kamu telah berazam, maka bertawakkallah kepada Allah”

Nabi pun mencoba merangkai kata, berharap tekad mereka kembali membaja.

“Tidaklah pantas seorang Nabi meletakkan baju besi yang telah ia sandang sampai selesai pertempuran.”

Benar saja. Seketika tekad shohabat yang hampir lebur padat kembali. Membaja dan membatu. Mereka segera menyusul Rasululloh yang terlebih dahulu bersiap diri.

Akhirnya 1000 prajurit berkumpul membentuk formasi. Strategi disusun matang dan semangat prajurit beliau lecutkan.

Walaupun dengan senjata seadanya dan serba pas-pasan, tak membuat pasukan islam takut, gentar atau istilah pengecut lainnya.

Allahu ma’ana. Allah bersama kita. Allahu Akbar !! Sekali layar berkembang, pantang mundur ke belakang !!

Itulah moto yang selalu menggema dalam kalbu setiap prajurit Islam. Benar-benar tekad membaja. Derap langkah diayunkan, menyongsong kuffar Quroisy yang telah menunggu di luar sana.

oleh Al-akh yahya al-windany (salah satu thulab di Darul Hadist fuyus,Yaman)