..Perlu diketahui …

Yaman pun juga mengalami masa yang distilahkan oleh sebagian orang dengan ‘darurat untuk memilih demi membendung sebagian partai atau tokoh berbahaya’. Kita sudah melihat beberapa bahaya di atas. Ada partai syi’ah rafidhah, ada partai sosialis komunis.Yang agak ‘mendingan menurut kamus sebagian orang’ adalah Partai Ishlah (yang mirip PKS), dan Partai Rasyad (yang mengaku salafy).

 Namun…

Mari kita tengok sejenak, apa sikap para ulama ahlus sunnah mengahadapi situasi ini.Apakah mereka menganjurkan memilih Partai Ishlah?Apakah mereka menganjurkan memilih Partai Rasyad?

Tidak yang pertama, tidak pula yang kedua. Mereka tetap berjalan sesuai tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alihi wa salam dan diwarisi oleh para ulama, kurun demi kurun.

Mereka lebih berkosentrasi dalam mendidik masyarakat agar dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Mereka justru serius menanamkan kepada masyarakat untuk kokoh berpegang kepada Allah Ta’ala dan ajaran-Nya dalam menghadapi berbagai problema hidup. Karena dengan sikap itulah keselamatannya akan terjaga. Terjaga dari kekeliruan, dan setelahnya menjadi sebab datangnya kemudahan dan pertolongan Allah Ta’ala.

 Para ulama Yaman justru mengeluarkan banyak pernyataan bahwa Partai Rasyad bukan dari salafy, bahkan partai ini dan orang-orangnya menyimpang dari jalannya salafy. Para ulama dan salafiyin Yaman menyatakan berlepas diri dari partai yang mengaku salafy ini.

Silahkan dilihat pada link-link berikut:

تبين حال حزبي الرشاد اليمني والنور المصري وعمرو خالد المصري والقرضاوي وطالبان الأفغاني

(Penjelasan tentang hakikat Partai Rasyad Yaman, Partai Nur Mesir, Amr bin Khalid Al-Mishry, Al-Qrdhawy, dan Taliban Afghanistan), oleh Syaikh Muhammad Al-Wushaby -berupa suara-:

http://www.olamayemen.com/download.php?attachement=1|2682&d=download

كلمة عن الحزب الجديد

(Pernyataan tentang partai baru -Partai Rasyad-), oleh Syaikh Muhammad Al-Imam -berupa suara-:

http://www.olamayemen.com/download.php?attachement=1|1967&d=download

براءة السلفيين في اليمن من الحزبية

(Salafiyun di Yaman berlepas diri dari perpartaian), sebuah jawaban dari Syaikh Muhammad Al-Imam -berupa tulisan-:

http://www.olamayemen.com/index.php?article_id=7881

براءة أهل السنة من حزب اتحاد الرشاد اليمني

(Ahlus Sunnah berlepas diri dari Partai Rasyad Yaman), sebuah pernyataan sikap dari Syaikh Abdul ‘Aziz Al-Bura’i -berupa tulisan-:

http://www.olamayemen.com/index.php?article_id=4307

الاستقامة و البراءة من حزب اتحاد الرشاد

(Istiqamah dan sikap berlepas diri dari Partai Rasyad), oleh Syaikh Abdul ‘Aziz Al-Bura’i -berupa suara-:

http://www.olamayemen.com/download.php?attachement=1|2819&d=download

كلمة للشيخ البرعي حفظه الله حول حزب اتحاد الرشاد اليمني

(Pernyataan Syaikh Abdul ‘Aziz Al-Bura’i seputar Partai Rasyad), ceramah oleh Syaikh Abdul ‘Aziz Al-Bura’i:

http://www.olamayemen.com/download.php?attachement=1|2818&d=download

(Partai baru), ceramah oleh Syaikh Utsman As-Salimy:

http://www.olamayemen.com/download.php?attachement=1|2718&d=download

القول الرشيد في الرد على من سمى نفسه بالحزب السلفي الجديد

(Pernyataan bijak dalam menyangkal orang-orang yang menamakan dirinya: Partai Salafy Baru), oleh Syaikh Muhammad Bamusa -berupa suara-: http://www.olamayemen.com/download.php?attachement=1|267&d=download

Apa yang kita pahami dari sikap para ulama di atas??

 Pertama: Mereka tidaklah ikut berpartisipasi dalam demokrasi, meski situasinya seperti ini. Dan tidak pula mereka menganjurkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi.Dan inilah yang kami saksikan langsung dengan mata kami dan kami dengar langsung dengan telinga kami.

 Kedua: Mereka begitu keras menyikapi partai yang mengaku salafy. Lalu, kira-kira apa sikap mereka terhadap partai yang selain itu, semacam Partai Ishlah yang memilki unsur kemiripan dengan PKS???

 Lihat lengkapnya di:

http://thalibmakbar.wordpress.com/2014/04/09/sekelumit-kisah-perpataian-di-yaman-dan-sikap-ulama-terhadapnya/#more-1021

 Terusan dari Abu Zubair Ma’bar

melalui al akh abu Abdillah Zaki ibnu salman

 WhatsApp Salafy Indonesia

 Oleh  Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Tiga tahun lamanya Rasulullah berdakwah memperkenalkan Islam dari orang perorang dengan sembunyi-sembunyi. Sedikit demi sedikit mulai banyak yang menerimanya. Mereka yang mula-mula masuk Islam ini dikenal dalam sejarah Islam dengan As Sabiqunal Awwalun (yang lebih dahulu dan pertama-tama masuk Islam), dan terdiri dari berbagai golongan masyarakat, seperti:

Abu Bakr Ash Shiddiq, salah seorang bangsawan Quraisy yang menjadi    sahabat Rasulullah.

Bilal bin Rabah, budak dari Habsyi (Ethiopia) yang kemudian dibeli dan dimerdekakan oleh Abu Bakr.

Khadijah bintu Khuwailid, isteri Rasulullah sendiri.

Zaid bin Haritsah, bekas budak Khadijah yang dihadiahkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

‘Ali bin Abi Thalib, putera paman beliau Abu Thalib.

Disebutkan oleh para ahli sejarah, jumlah mereka hampir lima puluh orang. Sementara itu orang-orang Quraisy belum begitu perduli dengan keadaan ini.

Kemudian turunlah wahyu Allah:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu, dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Al Hijr: 94).

Dengan ayat ini beliau mulai menjalankan dakwah ini dengan terang-terangan. Disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab bahwa ketika Rasulullah mulai menyampaikan dakwah terang-terangan ini, orang-orang  musyrikin Quraisy belum mengambil sikap menjauhi dan menentang dakwah beliau, sampai beliau mulai menyebut-nyebut sesembahan mereka dan mencelanya. Dan ketika mereka melihat hal ini, merekapun bersatu menunjukkan permusuhan terhadap beliau dan dakwah beliau. (Mukhtashar Sirah Ar Rasul, hal 117).

Ibnu ‘Abbas mengisahkan: Ketika Allah turunkan ayat: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat! (Asy Syu’ara’: 214), Rasulullah shallalhu ‘alaihi wa sallam mendaki bukit Shafa kemudian berteriak lantang membangunkan penduduk Makkah, sehingga mereka berkumpul di sekitar beliau. Ada yang datang sendiri dan ada yang mengutus wakilnya. Rasulullahpun berkata,”Wahai Bani Abdil Muththalib, Wahai Bani Fihr, bagaimana pendapat kalian kalau saya beritakan bahwa ada sepasukan berkuda di balik bukit ini siap untuk menyerang kalian. Apakah kalian akan mempercayaiku?”

Mereka menjawab,”Ya.”

Kata beliau lagi,”Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan buat kalian sebelum datangnya adzab yang sangat pedih.”

Tiba-tiba Abu Lahab menukas,”Celakalah kau selama-lamanya. Apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?”

Allah pun segera menurunkan:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

“Celakalah kedua tangan Abu Lahab!” (Al Lahab: 1).

Diceritakan pula oleh Abu Hurairah dalam Shahih Muslim ketika turun ayat tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam berdakwah menyeru mereka secara keseluruhan kemudian beliau sebut mereka satu persatu. Kata Rasulullah,”Wahai masyarakat Quraisy. Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Ka’ab, selamatkan jiwa kalian dari api neraka. Wahai Bani Hasyim, selamatkan diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Abdil Muththalib selamatkan diri kalian dari api neraka. Wahai Fathimah bintu Muhammad, selamatkan dirimu dari api neraka. Karena sesungguhnya aku, demi Allah, tidak bekuasa sedikitpun membela kalian dari (adzab) Allah kecuali sekedar kalian itu ada kekerabatan (denganku). Dan saya akan berusaha menyambungnya.”

Sedikit demi sedikit mulailah Islam tersebar di kota Makkah. Dan mereka yang masuk Islam terpaksa harus sembunyi-sembunyi. Karena tekanan kaum Quraisy mulai meningkat.

Abu Bakr yang juga sahabat beliau ikut berjuang menyebarkan Islam dengan sembunyi-sembunyi. Beliau adalah seorang pedagang sukses dan terpandang di tengah masyarakat Quraisy. Mulailah ia berdakwah kepada teman-teman duduknya yang biasa mendatanginya. Dengan izin Allah masuk Islam di tangan beliau Utsman bin ‘Affan, Sa’ad bin Abi Waqqash, Zubair bin ‘Awwam, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, dan Thalhah bin ‘Ubaidillah.

Wahyu diturunkan ketika itu sedikit demi sedikit berupa ayat-ayat pendek dengan bahasa yang begitu indah berbicara tentang jannah dan neraka.

[Bersambung]

 Oleh  Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

            Di antara kondisi masyarakat jahiliyah yang diwarnai dengan paganisme dan kemaksiatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lahir di tengah keluarga Bani Hasyim di Makkah pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan dalam keadaan yatim karena ayahnya, ‘Abdullah bin ‘Abdul Mutthalib meninggal ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam rahim ibunya, Aminah bintu Wahb. Kelahiran ini disambut dengan sukacita oleh kakeknya, ‘Abdul Mutthalib, yang kemudian memberinya nama Muhammad, suatu nama yang pada waktu itu belum dikenal di kalangan Arab.

            Sebagaimana adat di kalangan bangsa Arab, Aminah bintu Wahb mencari ibu susuan bagi putranya yang baru lahir. Wanita pertama yang menjadi ibu susu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Tsuwaibah, sahaya Abu Lahab. Kemudian bersama Halimah bintu al-Harits as-Sa’diyyah, ibu susunya setelah Tsuwaibah, dan al-Harits bin ‘Abdil ‘Uzza, suami Halimah, beliau tinggal di tengah-tengah Bani Sa’d. Dengan hadirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di tengah keluarga al-Harits, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan limpahan barakah-Nya bagi keluarga ini.

            Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam – yang waktu itu masih berusia kanak-kanak – berada di tengah Bani Sa’d, terjadi peristiwa pembelahan dada beliau oleh dua orang malaikat. Dikeluarkan dari dalam hati beliau gumpalan darah hitam, kemudian hati itu dicuci dan dituangkan ke dalamnya ketenangan, serta diberikan kepada beliau tanda kenabian. Peristiwa ini mengantarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kembali dalam asuhan ibunya.

            Tak lama beliau menikmati kebersamaan itu. Aminah meninggal dunia karena sakit di Abwa’ dalam perjalanan kembali ke Makkah dari Madinah, setelah mengajak putranya berkunjung pada keluarga ayahnya dari Bani ‘Adi bin an-Najjar. Saat itu usia beliau baru menginjak enam tahun. Maka berpindahlah asuhan pada kakek beliau ‘Abdul Mutthalib bin Hisyam yang amat sangat mencintai cucunya ini.

            Akan tetapi, asuhan yang penuh kasih sayang itu tidak berlangsung lama pula, karena ‘Abdul Mutthalib meninggal dunia ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berusia delapan tahun. Kini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam asuhan Abu Thalib bin ‘Abdul Mutthalib, saudara kandung ayah beliau. Abu Thalib sangat mengasihi dan mengutamakan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lebih daripada anak-anaknya sendiri.

            Tatkala berusia dua belas tahun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam turut dalam rombongan Abu Thalib beserta beberapa orang Quraisy untuk berdagang ke Syam. Dalam perjalanan itu mereka bertemu dengan pendeta yang bernama Bahira. Pendeta inilah yang mengabarkan kepada mereka bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kelak akan menjadi seorang nabi. Dia mengetahui hal ini dari sifat-sifat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang dia kenali sebagai tanda-tanda kenabian. Bahira menyarankan agar tidak membawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perjalanan mereka ke Syam karena khawatir orang-orang Yahudi akan menimpakan bahaya kepada beliau apabila mengetahui di antara rombongan itu ada seseorang yang kelak akan diangkat sebagai nabi.

            Ketika usia beliau mencapai dua puluh lima tahun, beliau pergi ke Syam membawa barang-barang perdagangan Khadijah bintu Khuwailid. Perjalanan beliau disertai oleh pembantu Khadijah yang bernama Maisarah. Selama bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Maisarah terkesan dengan sifat-sifat beliau yang mulia serta kejujuran beliau. Maka diceritakanlah semua yang dilihatnya pada diri beliau kepada Khadijah yang tercengang dengan keuntungan dagangan yang melimpah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tergeraklah hati wanita yang mulia ini untuk menikah dengan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima tawaran tersebut dan meminang Khadijah bersama paman-paman beliau. Dari pernikahan ini Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniai anak-anak, al-Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah dan ‘Abdullah. Namun di antara putra-putri beliau hanya anak-anak perempuan beliau saja yang mencapai usia dewasa.

            Dengan sifat beliau yang mulia, beliau mendapatkan gelar al-Amin (yang terpercaya). Oleh karena itulah para pemuka Quraisy mempercayai beliau untuk menjadi penengah ketika mereka bertikai tentang siapa yang paling berhak menempatkan Hajar  Aswad ke tempatnya semula dalam renovasi Ka’bah yang mereka lakukan. Maka beliau meminta sebuah kain dan meletakkan Hajar Aswad di atasnya, lalu meminta masing-masing pemuka kabilah untuk memegang ujung-ujung kain tersebut dan mengangkatnya bersama-sama,  kemudian beliau letakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula dengan tangan beliau.

            Dengan penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala, di kalangan kaumnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi orang yang paling utama kesantunannya, paling baik akhlaknya, paling mulia pergaulannya, paling besar kesabarannya, paling benar perkataannya, dan paling menjaga amanah yang dibebankan. Berbeda dengan kondisi kaumnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat membenci penyembahan berhala. Bahkan tidak ada yang lebih beliau benci daripada hal ini. Beliau senang mengasingkan diri ke gua Hira’. Di sana beliau merenungkan keadaan manusia yang diselimuti kegelapan jahiliyah yang tidak akan diterima oleh akal dan fitrah yang selamat. Hal ini menjadi kebiasaan beliau hingga suatu saat nanti Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Jibril ‘alaihis salam menemui beliau di gua itu untuk menyampaikan wahyu.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

 

Sumber bacaan :

Ar-Rahiqul Makhtum, karya asy-Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, Mukhtashar Sirah ar-Rasul, karya asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, Shahihus Sirah an-Nabawiyah, karya asy-Syaikh Ibrahim al-’Aly

majalah syariah_02