PENDAPAT SAHABAT NABI IBNU ABBAS TENTANG JARAK MINIMUM SAFAR

PENDAPAT SAHABAT NABI IBNU ABBAS TENTANG JARAK MINIMUM SAFAR

Beritahu yang lain

Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

Salah satu hal yang banyak ditanyakan adalah tentang berapa jarak minimum safar sehingga seseorang boleh mengqoshor shalat ataupun mendapat keringanan tidak berpuasa di bulan Ramadhan.

Insyaallah pendapat yang rajih dan memudahkan sebagai acuan dalam hal ini adalah pendapat jumhur (mayoritas Ulama), yaitu jarak safar adalah minimal 4 barid atau 16 farsakh. Kalau dikonversikan ke ukuran kilometer adalah sekitar 80 km.

Pendapat ini adalah pendapat dari Sahabat Nabi Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Dari para imam madzhab, yang berpendapat demikian adalah al-Imam Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad. Di antara Ulama abad ini yang juga berpendapat demikian adalah Syaikh Bin Baz rahimahullah.

Jadi, jika jarak antara rumah kita dengan daerah yang dituju adalah minimal 80 km, itu sudah terhitung safar. Sedangkan jika kurang dari itu, belum terhitung safar.

Sebagai contoh, jarak dari Kraksaan Probolinggo ke Kota Situbondo adalah sekitar 70-an kilometer. Ini masih belum terhitung jarak safar. Sedangkan jarak Kraksaan Probolinggo ke Kota Pasuruan adalah sekitar 80-an kilometer. Ini sudah terhitung safar.

Jarak itu adalah jarak tempuh perjalanan sehari semalam. Perjalanan sehari semalam itu adalah perjalanan dengan berjalan kaki dalam kecepatan sedang atau perjalanan unta yang membawa beban safar, dikurangi masa untuk istirahat, makan, dan shalat.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

>لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ

Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan safar sejarak sehari semalam tidak didampingi oleh mahram (H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menyatakan:

بَاب فِي كَمْ يَقْصُرُ الصَّلَاةَ وَسَمَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا وَلَيْلَةً سَفَرًا وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ يَقْصُرَانِ وَيُفْطِرَانِ فِي أَرْبَعَةِ بُرُدٍ وَهِيَ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا

Bab Dalam Jarak Berapakah Boleh Mengqoshor Shalat. Nabi shollallahu alaihi wasallam menyebut (perjalanan) sehari semalam sebagai safar. Ibnu Umar dan Ibnu Abbas –semoga Allah meridhai mereka- mengqoshor (sholat) dan berbuka (tidak berpuasa) dalam perjalanan sejarak 4 barid yaitu 16 farsakh (Shahih al-Bukhari Kitab Taqshir as-Sholah pada Bab ke-4)

Dalam Shahih al-Bukhari tersebut, al-Imam al-Bukhari meriwayatkan atsar perbuatan Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud itu secara ta’liq. Riwayat itu disampaikan secara bersambung sanadnya dengan sanad yang shahih dalam riwayat al-Baihaqiy di kitab as-Sunan al-Kubro:

عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِى رَبَاحٍ : أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ كَانَا يُصَلِّيَانِ رَكْعَتَيْنِ ، وَيُفْطِرَانِ فِى أَرْبَعَةِ بُرُدٍ فَمَا فَوْقَ ذَلِكَ.

Dari Atha’ bin Abi Robaah bahwasanya Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas keduanya shalat dua rakaat dan berbuka (tidak berpuasa) dalam (perjalanan) 4 barid atau lebih dari itu (riwayat al-Baihaqiy dalam as-Sunan al-Kubro, dinyatakan sanadnya shahih oleh Syaikh al-Albaniy)

Dalam riwayat yang lain, Atha’ bin Abi Robah yang berada di Makkah menanyakan jarak ke beberapa tempat apakah termasuk safar atau bukan. Kemudian Ibnu Abbas menjelaskan dengan menjawab serta mencontohkan daerah-daerah lain yang jaraknya dari Makkah sudah termasuk safar.

عَنْ عَطَاءٍ قَالَ: سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ: أَقْصُرُ الصَّلَاةَ إِلَى عَرَفَةَ؟ قَالَ: «لَا»، قُلْتُ: إِلَى مِنًى؟ قَالَ: «لَا، وَلَكِنْ إِلَى جُدَّةَ، وَإِلَى عُسْفَانَ وَإِلَى الطَّائِفِ

Dari Atha’ ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abbas: Apakah aku (boleh) mengqashar shalat (dari Makkah) menuju ‘Arafah? Ibnu Abbas berkata: Tidak. Aku (Atha’) berkata: Kalau menuju Mina? Ibnu Abbas berkata: Tidak. Namun, (yang termasuk safar adalah) menuju Jeddah, Usfaan, dan Thaif (riwayat Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya, seluruh perawinya adalah rijal Shahih al-Bukhari dan Muslim)

Dalam penjelasan Ibnu Abbas itu terdapat wilayah-wilayah yang terhitung bukan safar dan yang terhitung safar dari Makkah. Yang terhitung bukan safar adalah Arafah (± 21 km) dan Mina (± 13 km). Sedangkan yang terhitung safar adalah Jeddah (± 80 km) , Usfaan (± 84 km), dan Thaif (± 91 km).

Pembahasan di atas adalah pembahasan tentang jarak safar. Yaitu, jarak minimal adalah sekitar 80 km.

Pembahasan lain terkait ini adalah jarak minimal bolehnya mengambil keringanan berupa mengqoshor shalat atau tidak berpuasa saat dalam perjalanan menuju sasaran safar. Jaraknya adalah 3 mil atau 1 farsakh. Jika 1 mil adalah 1,609 km, maka 3 mil atau 1 farsakh adalah 4,827 km. Atau sekitar 5 km.

Artinya, apabila dalam perjalanan menuju tujuan safar, sudah menempuh perjalanan setidaknya 3 mil dari kediaman, seseorang sudah boleh mengqoshor shalat. Demikian juga saat pulang dari safar belum sampai tempat tinggal, selama jarak dengan tempat tinggal masih lebih dari 3 mil, maka masih bisa mengqoshor shalat.

عَنْ يَحْيَى بْنِ يَزِيدَ ‏الْهُنَائِيِّ قَالَ سَأَلْتُ‏ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ‏ قَصْرِ الصَّلَاةِ فَقَالَ‏كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى‎اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ‏ ثَلَاثَةِ أَمْيَالٍ أَوْ‏ثَلَاثَةِ فَرَاسِخَ (شَكَّ شعبة) صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Dari Yahya bin Yazid al-Hanaa-i beliau berkata: Aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang mengqoshor dalam sholat. Beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam jika keluar sejarak 3 mil atau 3 farsakh – keraguan pada perawi bernama Syu’bah- beliau sholat 2 rokaat” (H.R Muslim)

عَنِ اللَّجْلاَجِ, قَالَ : كُنَّا ‎نُسَافِرُ مَعَ عُمَرَ بْنِ ‏الْخَطَّابِ فَيَسِيرُ ثَلاَثَةَ ‏أَمْيَالٍ فَيَتَجَوَّزُ فِي ‎الصَّلاَة وَيَفْطُرُ

Dari al-Lajlaaj beliau berkata: Kami pernah safar bersama Umar bin al-Khottob. Beliau melakukan perjalanan sejauh 3 mil mengqoshor sholat dan berbuka” (riwayat Ibnu Abi Syaibah no 8221 juz 2 halaman 445)

Nabi shollallahu alaihi wasallam dalam perjalanan haji dari Madinah menuju Makkah, saat beliau sudah berada di Dzulhulaifah, beliau sudah mengqoshor shalat. Jarak antara Masjid Nabawi dengan Dzulhulaifah (orang awam banyak menyebut Bir ‘Ali) adalah kurang lebih 10,9 km. Jarak itu sudah lebih dari 3 mil.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ صَلَّيْتُ الظُّهْرَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَبِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ

Dari Anas bin Malik –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Aku shalat Dzhuhur bersama Nabi shollallahu alaihi wasallam di Madinah 4 rokaat, dan di Dzulhulaifah 2 rokaat (H.R al-Bukhari)

📋 Kesimpulan:

Jarak minimum safar adalah sekitar 80 km. Sedangkan jarak mulai boleh mengqoshor saat dalam perjalanan safar adalah ketika sudah meninggalkan kediaman setidaknya 3 mil atau kurang lebih 5 km.

🗒️ Contoh:

Jika kota A dan C sejarak lebih dari 80 km, sedangkan kota B berada di antara kota A dan C, serta jarak antara A dengan B lebih dari 3 mil, dalam perjalanan dari A ke C atau C ke A, seseorang mengqoshor shalat saat berada di kota B. Namun, kalau seseorang hanya akan melakukan perjalanan pulang pergi dari A ke B, ini masih belum terhitung safar. Belum boleh mengqoshor.

Nabi berangkat dari Madinah menuju Makkah adalah terhitung safar, karena jarak Madinah ke Makkah adalah lebih dari 80 km. Saat dalam perjalanan menuju Makkah dan singgah di Dzulhulaifah yang sejarak lebih dari 3 mil, Nabi sudah mengqoshor shalat. Namun bukan berarti penduduk Madinah yang hanya akan melakukan perjalanan ke Dzulhulaifah saja sudah terhitung safar. Karena jarak Dzulhulaifah dari Madinah belumlah sampai 80 km. Jika seseorang dari Madinah berangkat ke Dzulhulaifah di waktu Dhuha, kemudian shalat Dzhuhur di Dzulhulaifah, setelah itu kembali ke Madinah, mestinya shalat Dzhuhurnya adalah 4 rokaat, bukan 2 rokaat.

Wallaahu A’lam