MENINGGAL DI ATAS KEBID’AHAN YANG BELUM SAMPAI TARAF KAFIR

MENINGGAL DI ATAS KEBID’AHAN YANG BELUM SAMPAI TARAF KAFIR

Beritahu yang lain

Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

Syaikh Ahmad bin Yahya anNajmiy rahimahullah menyatakan:

أصحاب البدع دائمًا هم يقصدون التقرب إلى الله، ولكنَّهم لم يعرفوا الطريق التي يتقربون بها إلى الله، وليس عندهم من العلم ما يمنعهم من الدخول في البدع؛ فإن كان هذا الذي يريد الخير يسَّر الله له من يدعوه ويبيِّن له، وصرف عنه شر أصحاب البدع الذين يحذِّرونه من طاعة الناصحين، فإنَّه إن تاب تاب الله عليه، وإن بقي على بدعته حتى يلقى الله بها كان ذلك نقصًا في إسلامه، وأمره إلى الله إن شاء عفا عنه، وإن شاء عذَّبه

Para pelaku kebid’ahan selalu bermaksud untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun mereka tidak mengetahui jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mereka tidak memiliki ilmu yang menghalangi mereka untuk tidak masuk ke dalam kebid’ahan. Jika orang yang menginginkan kebaikan ini dimudahkan oleh Allah untuk bertemu dengan orang yang mengajak (kepada sunnah, pent) dan menjelaskan kepadanya, memalingkannya dari keburukan Ahlul Bid’ah yang memperingatkan dia agar jangan taat kepada orang yang memberi nasihat, kalau ia bertobat, Allah akan menerima tobatnya. Jika ia tetap di atas kebid’ahannya hingga bertemu dengan Allah, itu adalah kekurangan pada keislamannya. Urusannya (dikembalikan) kepada Allah. Jika (Allah) menghendaki, Allah memaafkannya. Jika (Allah) menghendaki (hal lain) Allah mengadzabnya (Irsyaadusy Syaariy bi Syarhi Syarhis Sunnah lil Barbahaariy halaman 63)

📋Catatan:

Ini adalah salah satu bentuk keadilan Ahlus Sunnah dalam menilai. Ahlus Sunnah (Salafy) tidak serta merta langsung memvonis seseorang yang secara dzhahir berada dalam kebid’ahan sudah pasti masuk neraka. Apalagi divonis kafir. Tidak demikian.

Hal ini berbeda dengan anggapan miring terhadap Ahlus Sunnah (Salafy) yang banyak digembar-gemborkan oleh para pembenci dakwah sunnah.

Kebid’ahan adalah kemunkaran yang harus dijauhi dan diingkari. Namun pengingkaran terhadap kemunkaran tersebut bukanlah berarti vonis dan penghakiman bahwa individu yang terjatuh padanya pasti masuk neraka.

Ahlus Sunnah memperingatkan umat akan bahaya kebid’ahan adalah karena kasih sayang mereka terhadap kaum muslimin serta meneladani Nabi dan para sahabatnya.