Bersiap Kembali ke Madinah (Perang Tabuk – bagian 3)

Bersiap Kembali ke Madinah (Perang Tabuk – bagian 3)

Beritahu yang lain

Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

 Oleh  Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Peperangan tidak terjadi. Tidak diketahui alasan yang pasti mengapa peperangan itu tidak terjadi, walaupun ada yang menyebutkan salah satu alasan itu di antaranya; pasukan Romawi lebih senang tinggal di dalam wilayah Syam untuk berlindung di benteng-bentengnya ketika sampai kepada mereka berita tentang kekuatan pasukan muslimin.

Apa pun alasannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap di Tabuk selama beberapa hari, dan mengirim beberapa pasukan kecil ke sekitar daerah Tabuk. Tindakan yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini menambah kekuatan wibawa Islam di wilayah utara jazirah ‘Arab dan membuka jalan ke arah penaklukan daerah Syam sesudah itu.

Walaupun tidak terjadi pertempuran, ada sahabat yang meninggal dunia.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menceritakan, pada suatu malam yang sunyi dia terjaga dari tidurnya dan melihat ada selarik api di bagian agak jauh dari pasukan. Beliau berusaha mendekati cahaya api tersebut. Ternyata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr dan ‘Umar sedang mengurus jenazah ‘Abdullah Dzul Bijadain (kain hitam yang tebal) Al-Muzani.

Rupanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersama kedua sahabatnya itu sudah menggali kuburan untuk jenazahnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam liang kubur itu, sementara Abu Bakr dan ‘Umar mendekatkan jenazah itu kepada beliau yang berkata, “Kemarikan jenazah saudara kamu itu.”

Setelah meletakkannya di dalam kubur tersebut, beliau berdoa, “Ya Allah sesungguhnya aku meridhainya, maka ridhailah dia.” Mendengar doa itu, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata dalam hati, “Duhai, kiranya akulah yang dikuburkan itu.”

Makar Kaum Munafik

Perang Tabuk dinamakan juga ghazwatul ‘usrah (Perang Kesulitan), karena menyatunya berbagai kesulitan terhadap kaum muslimin, baik dalam hal kendaraan, perbekalan, air, cuaca, jalan, maupun gangguan orang-orang munafik. Akan tetapi, sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam begitu tabah memikul semua kesulitan tersebut di jalan Allah. Semoga Allah meridhai mereka.

Bagaimanapun, kaum munafik tidak pernah membiarkan satu peluang pun untuk menjatuhkan Islam dan kaum muslimin. Terlebih lagi, di dalam peperangan ini. Sejak awal persiapan, mereka sudah mulai berusaha meruntuhkan semangat kaum muslimin agar tidak berangkat berjihad di panas yang terik ini.

Dalam masa-masa perang Tabuk inilah turun surat At-Taubah membeberkan watak asli kaum munafikin. Allah l benar-benar membuka aib mereka dan menampakkan kejahatan hati mereka kepada kaum mukminin dengan lengkap dan jelas. Allah l menerangkan alasan yang mereka buat-buat agar tetap tinggal di Madinah, tidak ikut berperang.

Allah l berfirman:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam uzurnya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. (AtTaubah: 42-44)

Ibnu Katsir t dalam tafsirnya menerangkan, “Allah Subhanahuwata’ala mencela orang-orang yang tertinggal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perang Tabuk sesudah meminta izin dan menampakkan bahwa mereka adalah orang-orang yang mempunyai uzur, padahal tidak demikian.”

Allah Subhanahuwata’ala berfirman: لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا (Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh), kata Ibnu ‘Abbas c, “(Artinya) ghanimah yang dekat (mudah diperoleh); وَسَفَرًا قَاصِدًا (dan perjalanan yang tidak berapa jauh), yang dekat juga; pasti mereka mengikutimu untuk mendapatkannya, tetapi perjalanan ke Syam amat jauh terasa oleh mereka. Apabila kamu kembali kepada mereka, tentu mereka akan bersumpah, “Seandainya kami tidak mempunyai uzur, pasti kami berangkat bersamamu.”

Itulah sebagian alasan mereka yang dibuat-buat.

Ada pula di antara mereka yang ikut serta sampai di Tabuk, ternyata berusaha menyebarkan keraguan dalam hati kaum muslimin.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kehilangan untanya, seorang munafik mengatakan, “Kalau memang Muhammad mengaku nabi dan menyampaikan kepada kamu berita dari langit, mengapa dia tidak mengetahui di mana untanya berada?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata, sementara ‘Umarah, salah seorang sahabat ada di dekat beliau, “Ada orang yang mengatakan, ‘Kalau memang Muhammad mengaku nabi dan menyampaikan kepada kamu berita dari langit, mengapa dia tidak mengetahui di mana untanya berada?’ Demi Allah, saya memang tidak mengetahui apa-apa kecuali yang diberitahukan oleh Allah. Dan Allah telah menerangkan kepada saya di mana unta tersebut. Unta itu di lembah anu, di jalan anu, dan talinya tersangkut sebatang pohon.”

Tak lama, beberapa sahabat berangkat hendak mencarinya.

‘Umarah pun kembali ke tendanya dan berkata, “Demi Allah, sungguh ajaib yang diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tadi, tentang perkataan seseorang yang diberitakan oleh Allah kepada beliau.” Mendengar ucapan ‘Umarah ini, salah seorang yang ada di situ, tapi tidak mendengar langsung perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, berkata, “Demi Allah yang diucapkan oleh Rasulullah itu adalah perkataan yang diucapkan Zaid bin Lushaid, sebelum engkau datang.”

‘Umarah menjadi marah, dia pun mencekik leher Zaid dan mengusirnya dari tenda itu dan melarangnya menyertai dirinya lagi, “Di tendaku ada kejadian begini, dalam keadaan aku tidak tahu? Keluarlah kau dari tendaku, hai musuh Allah. Jangan menyertaiku lagi.”

Ucapan berbahaya ini masih ringan. Kaum munafik tidak berhenti sampai di situ. Mereka pun berencana membunuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mulai bertolak menuju Madinah. Dalam perjalanan, beberapa gelintir munafik mengadakan tipu daya untuk membunuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan cara mendorong beliau jatuh dari puncak tebing di jalan tersebut. Kemudian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Siapa di antara kamu mau melalui dasar lembah, itu lebih luas bagi kamu.”

Akhirnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melalui jalan yang mendaki, sedangkan pasukan muslimin melewati dasar lembah, kecuali beberapa orang yang ingin membunuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tadi. Karena itu, ketika mereka mendengar ucapan beliau, mereka segera bersiap-siap dan menutupi muka mereka.

Alangkah keji rencana mereka terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Hudzaifah Ibnul Yaman dan ‘Ammar bin Yasir agar berjalan bersama beliau. Lalu beliau memerintahkan ‘Ammar memegang tali kekang unta, sedangkan Hudzaifah menuntunnya.

Pada waktu mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba terdengar suara di belakang mereka. Rupanya, orang-orang munafik tadi sedang berusaha menyusul beliau.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam marah dan memerintahkan agar Hudzaifah menjauhkan mereka. Karena melihat kemarahan di wajah Rasulullah, Hudzaifah segera berbalik sambil membawa sebatang tongkat yang berkeluk kepalanya. Kemudian, dia menghadang kendaraan mereka dan memukulnya dengan tongkat.

Hudzaifah pun melihat orang-orang munafik itu dalam keadaan menutup wajah mereka. Hudzaifah mengira mereka menutupi wajah itu sekadar kebiasaan musafir, padahal tidak. Mereka ingin menyembunyikan identitas yang sesungguhnya.

Demikianlah keadaan kaum munafik, mereka menutupi diri, bersembunyi dari manusia, tetapi tidak dapat menyembunyikan diri dari Allah, karena Allah beserta mereka. Allah sudah memperhitungkan semua tindak-tanduk mereka dan telah menyiapkan balasan yang setimpal buat mereka di dunia dan akhirat.

Rasa takut muncul dalam hati mereka ketika melihat Hudzaifah berdiri di jalan yang akan mereka lalui. Mereka mengira tipu daya mereka sudah diketahui oleh Hudzaifah. Akhirnya, mereka segera bergabung dengan pasukan, sementara Hudzaifah berbalik menuju Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Setelah mendekat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Pukullah kendaraan ini, hai Hudzaifah! Dan berjalanlah, hai ‘Ammar!”

Rombongan mempercepat jalan mereka hingga tiba di puncak bukit, lalu keluar dari jalan itu menunggu pasukan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Hudzaifah, “Tahukah engkau siapa rombongan pengendara tadi?”

Kata Hudzaifah, “Saya mengenal kendaraan si Fulan dan si Fulan. Waktu itu malam sangat gelap dan mereka menutupi wajah mereka.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi, “Tahukah engkau apa yang mereka inginkan?”

Keduanya berkata, “Tidak. Demi Allah, wahai Rasulullah.”

Kata beliau, “Sesungguhnya mereka berencana hendak ikut berjalan bersamaku, dan kalau sudah tiba di jalan yang berbukit, mereka akan mendorongku sampai jatuh.”

Serempak mereka berkata, “Kalau begitu, mengapa Anda tidak memerintahkan mereka dipanggil, agar kami penggal leher mereka?”

Beliau pun berkata, “Saya tidak suka orang akan mengatakan bahwa Muhammad (n) membunuh sahabatnya.” Kemudian beliau menyebut nama-nama mereka dan berkata, “Rahasiakanlah oleh kamu berdua!”[1]

Sejak saat itu pula Hudzaifah dikenal sebagai pemegang rahasia nama-nama kaum munafik lengkap dengan ciri-ciri mereka. Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat mengetahui seseorang adalah munafik, apabila Hudzaifah tidak mau menyolatkan jenazahnya.

Pada suatu kesempatan, dalam perjalanan melelahkan itu, terdengar pula sebuah ucapan dari salah seorang prajurit, “Kita belum pernah melihat qurra` (tamu, ahli baca Quran) kita seperti mereka ini,” yang dimaksudkannya adalah pribadi Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat, “paling gendut perutnya, tidak (pernah kita lihat) yang paling dusta ucapannya, dan tidak (pernah kita lihat) yang paling takut ketika bertemu (musuh).”[2]

Ketika dilaporkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka ditanya, mereka mengatakan, “Kami hanya bergurau.”

Namun, ternyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya menjawab dengan membacakan firman Allah Subhanahuwata’ala:

أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (AtTaubah: 65)

Dengan tegas pula Allah Subhanahuwata’ala menyatakan bahwa berolok-olok dengan Allah, ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya adalah kekafiran:

لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.”

Para ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa menampakkan kata-kata kekafiran, baik dengan sungguh-sungguh maupun bergurau (main-main) hukumnya kafir. Bahkan, tidak ada perselisihan di antara para imam, sebagaimana dinukil oleh Ibnul Jauzi t.

Demikianlah keadaan kaum munafik. Di zaman itu mereka menyembunyikan jati dirinya agar tidak turun ayat membeberkan kejahatan mereka. Di zaman ini, mereka dengan terang-terangan menampakkan kejahatan tersebut. Mereka terang-terangan menjadikan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya sebagai bahan ejekan, cemoohan dan hinaan. Mereka berusaha menampilkan citra kekafiran, apa pun bentuknya, adalah baik, sedangkan seruan kembali kepada Islam adalah keburukan, radikal, ekstrem, jumud, statis, kemunduran, dan segudang ejekan lainnya. Mereka lebih bangga dengan semua yang serba-Barat. Kemajuan adalah apa yang datang dari Barat.

Hanya kepada Allah kita memohon, semoga Allah tidak memperbanyak jumlah mereka.

(insya Allah bersambung)

 


[1] HR. Ahmad (5/453), pentahqiq Zadul Ma’ad mengatakan rawi-rawinya tsiqat (terpercaya) dan ada penguatnya dalam Shahih Muslim (2779) (11). Wallahu a’lam.

[2] Artinya, mereka adalah orang-orang yang sangat gendut perutnya karena kebanyakan makan, tidak ada pekerjaan lain kecuali makan, selalu berbicara dusta, dan sangat takut jika bertemu musuh serta pasti melarikan diri. (Syarah Riyadhis Shalihin, Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah, 1/124).