KISAH ZAID BIN ARQOM DAN UCAPAN BURUK KAUM MUNAFIK

KISAH ZAID BIN ARQOM DAN UCAPAN BURUK KAUM MUNAFIK

Beritahu yang lain

Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

di tulis oleh al ustadz Abu Utsman Kharisman

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ عَمِّي فَسَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَيٍّ ابْنَ سَلُولَ يَقُولُ لَا تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا وَقَالَ أَيْضًا لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعَمِّي فَذَكَرَ عَمِّي لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ وَأَصْحَابِهِ فَحَلَفُوا مَا قَالُوا فَصَدَّقَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَذَّبَنِي فَأَصَابَنِي هَمٌّ لَمْ يُصِبْنِي مِثْلُهُ قَطُّ فَجَلَسْتُ فِي بَيْتِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ إِلَى قَوْلِهِ هُمْ الَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ إِلَى قَوْلِهِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ } فَأَرْسَلَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَرَأَهَا عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ صَدَّقَكَ

Dari Zaid bin Arqom –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Aku pernah berjalan bersama pamanku. Kemudian aku mendengar Abdullah bin Ubay bin Salul berkata: “Janganlah kalian berinfak kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah hingga mereka pergi (meninggalkan beliau)”. Ia juga berkata: “Kalau kita kembali ke Madinah, orang-orang yang mulia akan mengusir orang-orang yang hina”. Aku pun menyampaikan hal itu kepada pamanku. Kemudian pamanku menyampaikan kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pun mengutus seseorang kepada Abdullah bin Ubay dan rekan-rekannya. Mereka bersumpah tidak berkata demikian. Kemudian Rasulullah shollallahu alaihi wasallam membenarkan mereka dan mendustakan aku. Aku pun merasa sangat sedih dengan kesedihan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku pun duduk di rumahku. Kemudian Allah Azza Wa Jalla menurunkan firman-Nya (dari permulaan surah al-Munafiqun hingga):

يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ…

Mereka berkata: Jika kami kembali ke Madinah orang-orang yang mulia akan mengeluarkan orang-orang yang hina…(Q.S al-Munafiqun ayat 8)

Kemudian Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mengirim utusan kepadaku (agar aku menemui beliau, pent) kemudian beliau membacakan ayat-ayat itu kepadaku. Beliau pun bersabda: Sesungguhnya Allah telah membenarkan engkau.

(H.R al-Bukhari)

🗒️ Pelajaran Berharga yang Bisa Dipetik dari Hadits ini:

1. alQuran bukanlah buatan Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam, namun merupakan wahyu dari Allah Ta’ala yang Maha mengetahui dan mendengar semua percakapan manusia.

2. Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam tidaklah mengetahui hal yang ghaib. Beliau hanya mengetahui hal-hal yang diberitahu oleh Allah Azza Wa Jalla. Kemudian setelah mendapatkan wahyu, Nabi shollallahu alaihi wasallam adalah manusia yang amanah dalam menyampaikannya. Meskipun dalam hal-hal yang merupakan koreksi bagi beliau.

3. Para Sahabat Nabi adalah orang-orang yang paling memahami ayat-ayat alQuran. Karena mereka mengetahui benar peristiwa yang melatarbelakangi sebab turunnya ayat. Di antara para Sahabat Nabi itu ada yang terlibat langsung dalam peristiwa yang menjadi sebab turunnya ayat-ayat alQuran tersebut. Di antaranya adalah Sahabat Nabi Zaid bin Arqam radhiyallahu anhu. Karena itu, pemahaman para Sahabat Nabi terhadap makna suatu ayat adalah rujukan bagi kaum muslimin.

4. Kejujuran akan berakibat baik. Meskipun pada awalnya terasa pahit. Zaid bin Arqam radhiyallahu anhu sempat merasakan kesedihan yang sangat atas peristiwa itu. Namun kemudian Allah Ta’ala memberikan jalan keluar yang diabadikan dalam alQuran.

5. Adakalanya masih tetap diperlukan klarifikasi meski nukilan berita dari orang yang terpercaya. Sebagaimana saat Nabi mendengar nukilan ucapan dari paman Zaid bin Arqam, beliau masih memastikan klarifikasi kebenaran ucapan itu dari Zaid bin Arqam. Meskipun pamannya adalah seorang Sahabat Nabi yang tidak diragukan keadilannya.

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:

وهذا الحديث ينبغي أن يتخذ أصلا للتثبت فيما ينقل وإلا فمن المعلوم أن عم زيد بن أرقم من الصحابة, وهم عدول , لكن أراد النبي صلى الله عليه وسلم أن يتثبت من الأمر حتى يأتي الأمر على بصيرة, وهكذا ينبغي للإنسان فيما ينقل إليه أن يتثبت منه

Hadits ini semestinya dijadikan landasan untuk bersikap tatsabbut (mengklarifikasi berita) yang dinukil. Padahal sudah dimaklumi bahwasanya paman Zaid bin Arqam termasuk Sahabat Nabi. Mereka adalah orang-orang yang adil. Namun, Nabi shollallahu alaihi wasallam menginginkan untuk melakukan tatsabbut terhadap permasalahan itu hingga perkaranya terang (jelas diketahui kepastiannya, pent). Demikianlah semestinya bagi seseorang untuk bersikap tatsabbut terhadap berita yang dinukil kepadanya (Syarh Ushul fit Tafsir karya Syaikh Ibn Utsaimin halaman 94)

Dalam kondisi tertentu, khabar dari orang yang terpercaya sudah cukup. Tanpa perlu klarifikasi. Dalam kondisi yang lain, kadang masih diperlukan sikap tatsabbut terhadap berita itu. Terlebih di masa fitnah, sebagaimana penjelasan Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkhali ketika membantah Ali al-Halabiy.