TATA CARA SHOLAT DARI TAKBIR SAMPAI SALAM bag2

TATA CARA SHOLAT DARI TAKBIR SAMPAI SALAM bag2

Beritahu yang lain

Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

Membaca Taawwudz

Kemudian membaca taawwudz sebelum membaca al-Fatihah. Salah satu bacaan taawwudz yang disunnahkan adalah sebagaimana hadits dari Abu Said al-Khudriy riwayat Abu Dawud, atTirmidzi:

أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ اْلعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari syaitan yang terkutuk dari bisikan was-wasnya, tiupannya, dan ludahnya (H.R Abu Dawud,atTirmidzi, dishahihkan Ibnu Khuzaimah)

Tidak Mengeraskan Bacaan Basmalah

Kemudian membaca al-Fatihah. Disunnahkan tidak mengeraskan bacaan basmalah. Bacaan basmalah oleh Imam dibaca sirr (lirih, tidak diperdengarkan secara keras).

وَعَنْ قَتَادَةَ أَنَّهُ كَتَبَ إِلَيْهِ يُخْبِرُهُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَكَانُوا يَسْتَفْتِحُونَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) لاَ يَذْكُرُونَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِى أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلاَ فِى آخِرِهَا

Dan dari Qotadah bahwasanya ia menulis khabar kepadanya dari Anas bin Malik –semoga Allah meridhainya- menceritakan kepadanya : Aku sholat di belakang Nabi shollallahu alaihi wasallam, Abu Bakr, Umar, dan Utsman mereka memulai bacaan (alFatihah) dengan Alhamdulillahi Robbil ‘Aalamiin tidak menyebutkan Bismillahirrohmaanirrohim di awal bacaan ataupun di akhirnya (H.R Muslim)

Membaca al-Fatihah

Setelah itu membaca al-Fatihah dan membaca Aamin. Bacaan al-Fatihah adalah salah satu rukun dalam sholat.

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Tidak ada sholat bagi yang tidak membaca surat alFatihah (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin Shomit)

إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه

Jika Imam mengucapkan Aamiin, maka ucapkanlah Amiin. Karena barangsiapa yang ucapannya aminnya bersesuaian dengan ucapan amin Malaikat, akan diampuni dosanya yang telah lalu (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Membaca Surat Lain Setelah al-Fatihah
Setelah membaca al-Fatihah, disunnahkan membaca surat-surat lain dalam alQuran pada 2 rokaat yang pertama.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقْرَأُ فِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ وَيُسْمِعُنَا الآيَةَ أَحْيَانًا وَيَقْرَأُ فِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُخْرَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

dari Abdullah bin Abi Qotaadah dari ayahnya bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam pada dua rokaat awal sholat Dzhuhur dan Ashar membaca al-Fatihah dan surat. Kadangkala beliau memperdengarkannya kepada kami. Dan di dua rokaat terakhir beliau membaca al-Fatihah (saja) (H.R Muslim)

Gerakan dan Bacaan Ruku’

Kemudian bertakbir dengan mengangkat tangan untuk melakukan ruku’. Gerakan ruku’ adalah membungkuk dan meletakkan jari jemari tangan yang direnggangkan ke lutut.

عَنْ وَابِصَةَ بْنَ مَعْبَدٍ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فَكَانَ إِذَا رَكَعَ سَوَّى ظَهْرَهُ حَتَّى لَوْ صُبَّ عَلَيْهِ الْمَاءُ لَاسْتَقَرَّ

Dari Wabishoh bin Ma’bad beliau berkata: Saya melihat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam sholat, jika beliau ruku’ meluruskan punggungnya. Hingga jika seandainya dituangkan air di atas punggung beliau, niscaya airnya akan diam (tidak mengalir)(H.R Ibnu Majah, dishahihkan al-Albany – dikuatkan dengan jalur lain dari Ibnu Abbas riwayat Abu Ya’la)

وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ

Jika beliau ruku’, beliau meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua lututnya (H.R al-Bukhari dari Abu Humaid as-Sa’idiy)

إِذَا رَكَعَ فَرَّجَ أَصَابِعَهُ وَإِذَا سَجَدَ ضَمَّ أَصَابِعَهُ

Jika beliau ruku’ merenggangkan jari jemarinya, dan jika sujud merapatkan jari jemarinya (H.R atThobarony, dinyatakan sanadnya hasan oleh al-Haitsamy, dishahihkan al-Albany)

Dalam posisi ruku’, membaca salah satu doa ruku’, di antaranya: Subhanaa Robbiyal Adzhiim minimal sekali.

ثُمَّ رَكَعَ فَجَعَلَ يَقُولُ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيم

Kemudian beliau ruku’ membaca Subhaana Robbiyal Adzhiim (H.R Muslim dari Hudzaifah)

Bacaan Tasmi’ (Sami’allaahu Liman Hamidah)

Setelah itu, bangkit dari ruku’ dengan mengucapkan Sami’allaahu liman hamidah (tasmi’) bagi Imam dan orang yang sholat sendirian. Sedangkan makmum mengucapkan Robbanaa wa lakal hamdu menyambut ucapan tasmi’ dari Imam.

وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فَقَالَ « سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ »

dan jika Nabi mengangkat kepalanya dari ruku’ mengucapkan: Sami’allahu liman hamidah (H.R Muslim dari Malik bin al-Huwairits)

وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

dan jika (Imam) mengucapkan Sami’alaahu liman hamidah, maka ucapkanlah Robbanaa wa lakal hamdu (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)