Mengenal asy-Syaikh Shalah bin Futaini Kentusy hafizhahullah

Mengenal asy-Syaikh Shalah bin Futaini Kentusy hafizhahullah

Beritahu yang lain

Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Mengenal asy-Syaikh Shalah bin Futaini Kentusy hafizhahullah

Nama, Kelahiran, dan Kondisi Keluarga

Beliau adalah Abu Muhammad Shalah bin Futaini Kentusy al-‘Adani. Lahir pada 7 Dzulhijjah 1374 (21 Desember 1974 M) di ‘Aden. Asal usul keluarga beliau berasal dari daerah Tuhamah Yaman, namun kakek-kakek beliau sejak lebih dari seratus tahun lalu telah meninggalkan daerah tersebut pindah ke kota Aden.

Kondisi Keluarga

Beliau terlahir di tengah lingkungan keluarga yang sangat mementingkan akhlak karimah. Sejak kecil telah tertanam pada diri beliau cinta terhadap al-Qur’an.

Sebagaimana keumuman rakyat Yaman Selatan pada waktu itu, hidup di bawah sistem pemerintahan sosialis-komunis. Kondisi ini membuat kaum muslimin benar-benar jauh dari agama dan ilmu yang bermanfaat. Kehidupan beragama didominasi dengan Shufiyyah.

Namun demikian, ada upaya dari Shalah Kentusy kecil untuk belajar agama. Tercatat beberapa nama yang Shalah Kentusy kecil belajar kepadanya. Hingga pada tahun 1990 M Allah mentakdirkan terjadi perubahan suasana politik di Yaman. Kondisi itu memberikan peluang yang besar bagi orang-orang yang haus terhadap ilmu untuk membuka wawasan dan hubungan dengan para ‘ulama Sunnah.

Belajar ke Dammaj dan Pertumbuhan Ilmiah

Tibalah waktu yang sangat berbahagia itu, pada tahun 1994 M Allah berikan taufiq kepada beliau untuk tiba di Dammaj, menuntut ilmu kepada sang Mujaddid negeri Yaman al-‘Allamah asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i.

Kepada asy-Syaikh Muqbil, beliau belajar :

  • Shahih al-Bukhari
  • Shahih Muslim
  • Ta’liq ‘ala al-Mustadrak
  • Tafsir Ibnu Katsir
  • juga karya asy-SyaikhMuqbil sendiri : ash-Shahih al-Musnad mim malaisa fi ash-Shahihain,
  • asy-Syafa’ah (karya asy-Syaikh Muqbil juga).

Di samping beliau juga belajar kepada beberapa murid senior asy-Syaikh Muqbil ketika itu (beberapa di antaranya telah menyimpang, Lahaula wala quwwata illabillah)

Kemudian setelah semakin matang dalam thalabul ilmi dan memiliki bekal yang makin mendalam, beliau mulai melakukan studi pustaka secara mandiri. Hasilnya beliau simpan dalam bentuk ta’liq terhadap beberapa kitab, antara lain ta’liq terhadap kitab :

  • al-Mudzakkirah fi Ushul al-Fiqh (al-‘Allamah asy-Syinqithi),
  • Kitab Shifat Shalat Nabi (asy-Syaikh al-Albani),
  • Kitab at-Tauhid (asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab),
  • Kitab al-Ushulats-Tsalatsah (Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab),
  • Kitab al-Qawa’id al-Mutsla (asy-Syaikh al-‘Utsaimin)
  • al-‘Aqidah al-Wasithiyah (Syaikhul Islam IbnuTaimiyyah),
  • al-Waraqat fi Ushul al-Fiqh,
  • al-Ushul min ‘ilmi al-Ushul (Asy-Syaikh al-‘Utsaimin),
  • al-Luma’ fi Ushul al-Fiqh (asy-Syirazi),
  • Mukhtashar “at-Tahrir” fi Ushul al-Fiqh (Ibnu Najjar),
  • dll

Semuanya beliau ajarkan, sebagiannya di Dammaj, sebagiannya di ‘Aden, ada pula yang di tempat lain.

Fitnah Menerpa

Hingga sampailah waktu asy-Syaikh Muqbil meninggal dunia, ketika itu Shalah Kentusy tidak berada di Dammaj.Beliau benar-benar sedih dengan musibah besar itu.

Beberapa waktu kemudian, asy-Syaikh Shalah Kentusy kembali ke Dammaj. Ketika itu yang menggantikan posisi asy-Syaikh Muqbil adalah Yahya al-Hajuri.

Tidak lama berselang, terjadi perselisihan antara beliau dengan Yahya al-Hajuri terkait salah satu permasalahan ilmiah, yaitu masalah pembagian ahlul bid’ah menjadi ahlul bid’ah yang menyeru kepada bid’ahnya dan yang tidak. Sebagaimana hal seperti ini telah banyak terjadi antara Yahya al-Hajuri dengan murid-murid senior asy-Syaikh Muqbil lainnya, akibat sifat-sifat dan sikap-sikap tak terpuji pada diri Yahya al-Hajuri. Hingga kemudian meletuslah fitnah al-Hajuri yang ditandai dengan vonis hizbi terhadap para murid senior asy-SyaikhMuqbil, terutama terhadap ‘Abdurrahman Mar’i.

Dalam peristiwa tersebut, Allah berikan kepada Ahlus Sunnah untuk gigih membela al-Haq, termasuk Allah berikan taufiq kepada asy-Syaikh Shalah Kentusy untuk kokoh di atas al-Haq dan membelanya. Beliau menulis dua karya ilmiah dalam menyingkap fitnah al-Hajuri :

  • Tajliyyah al-Fitnah fi Haqiqati al-Fitnah
  • Qawaid al-Hajuri fi Mizan al-Fitnah

“Allah selamatkan Ahlus Sunnah dari fitnah dan kejelekan al-Hajuri. Kami pun keluar dari Dammaj, padahal ia lebih kami cintai dari pada diri-diri kami. Kemudian kami tinggal di negeri tercinta Aden, pada akhir 1428 H. Laluaku pindah ke Darul Hadits di Fuyus.Awal mulanya kami bergembira karena orang-orang (yang di Fuyusy ketika itu, pen) sangat besar hasratnya terhadap Sunnah. Hingga kemudian muncullah dari ‘Abdurrahman Mar’i perbuatan-perbuatan yang sangat disesalkan, yakni dia memusuhi saudara-saudaranya para penuntuti lmu senior dan masyaikh. Namun demikian, mereka bersabar terhadapnya dan terus berusaha memberikan nasehat setiap kali ada kesempatan.Namun dia tidak peduli dan tidak menghargai sama sekali. Oleh karena itu al-‘Allamah ‘Abdullah al-Bukhari mengatakan tentang ‘Abdurrahman Mar’i, ‘Padanya terdapat kerendahan. Tidak mengenal mana yang ma’ruf, dia dan juga saudaranya (‘Abdullah Mar’i, pen). ’Dia terus menyebarkan kejelekannya dan memerangi sunnah. Semoga Allah memberinya hidayah.” Demikian asy-Syaikh Sholah menuturkan.

Lalu beliau melanjutkan, “Kami – bihamdillah – senantiasa ada hubungan yang kuat dengan para ‘ulama kibar umat ini. Seperti al-‘Allamah al-Muhaqqiq Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah dan al-‘Allamah al-Murabbi ‘Ubaid al-Jabiri, sertapara ‘ulama lain seperti beliau berdua.”

Karya Ilmiah

Di antara buah karya ilmiah beliau (di samping yang telah disebut di atas) :

  • Akhtha’ al-Ushuliyyin fi al-‘Aqidah
  • Akhtha’ an-Nahwiyyin fi al-‘Aqidah
  • At-Tajliyyah fi Syarh al-Qawa’id al-Fiqhiyyah
  • Fiqh al-Inkar ‘ala Hukkam al-Muslimin
  • Thabaqat al-Ushuliyyin fi al-‘Aqidah (belum dicetak)
  • Mahadzir ‘Aqadiyyah fi al-Hududwa at-Ta’rifat (belum dicetak)
  • ‘Ammar al-Auqaat bi Syarh Matn al-Waraqaat (belum dicetak)
  • Kabwatu al-Jawaad fi Taqsiim al-Akhbarila Mutawatirwa Ahad (belum dicetak)

Di samping beliau juga punya beberapa pembahasan lain yang masih belum selesai.

Sumber : Autobiografi yang beliau tulis pada 3/4/1347 H — 9/2/2016 M

www.daurahnasional.com