KAJIAN FIQH: MANDI DAN HUKUM JUNUB (BAG KE-4)

KAJIAN FIQH: MANDI DAN HUKUM JUNUB (BAG KE-4)

Beritahu yang lain

Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

✅Apa Saja yang Termasuk Mandi Sunnah?

Jawab:

Disukai (mustahab) mandi dalam beberapa keadaan:

1⃣Mandi Jumat

مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنْ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ

Barangsiapa yang berwudhu’ pada hari Jumat, maka itu adalah baik. Barangsiapa yang mandi, maka mandi adalah lebih utama (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah, Ahmad, dihasankan sanadnya oleh al-Bushiry dan dihasankan al-Albany)

2⃣Mandi setelah memandikan jenazah

مَنْ غَسَّلَ الْمَيِّتَ فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

Barangsiapa yang memandikan jenazah hendaknya mandi, dan barangsiapa yang memanggulnya, maka hendaknya berwudhu’ (H.R Abu Dawud dan Ahmad dari Abu Hurairah)

3⃣Mandi setiap selesai berjimak (berhubungan suami istri)

عَنْ أَبِي رَافِعٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَافَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى نِسَائِهِ يَغْتَسِلُ عِنْدَ هَذِهِ وَعِنْدَ هَذِهِ قَالَ قُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَجْعَلُهُ غُسْلًا وَاحِدًا قَالَ هَذَا أَزْكَى وَأَطْيَبُ وَأَطْهَرُ

Dari Abu Rafi’ bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasaallam berkeliling (berhubungan suami istri) dengan isteri-isterinya pada suatu hari. Beliau mandi pada setiap istri tersebut. Aku bertanya kepada beliau: Wahai Rasulullah, tidakkah anda menjadikan hanya satu kali mandi saja (di akhir)? Beliau bersabda: Ini lebih suci dan lebih baik (H.R Abu Dawud, dihasankan sanadnya oleh al-Bushiry dan al-Albany)

Mandi setiap kali berjimak adalah lebih utama. Boleh juga dicukupkan dengan satu kali mandi di akhir setelah beberapa kali berhubungan suami istri. Sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَافَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى نِسَائِهِ فِي غُسْلٍ وَاحِدٍ

Dari Anas –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam suatu hari berkeliling pada istri-istri beliau dengan satu kali mandi (H.R Abu Dawud)

Boleh juga sekedar berwudhu’ pada setiap akan melakukan hubungan suami istri berikutnya.

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ بَدَا لَهُ أَنْ يُعَاوِدَ فَلْيَتَوَضَّأْ بَيْنَهُمَا وُضُوءًا

Jika seseorang mendatangi istrinya kemudian akan mengulangi (hubungan suami istri) maka berwudhu’lah (H.R Muslim)

Tahapannya dari yang paling utama:
a) Mandi pada setiap selesai berhubungan
b) Berwudhu setiap selesai berhubungan dan diakhiri dengan mandi.
c) Mandi sekali di akhir.

4⃣Mandi setiap akan sholat bagi wanita yang mengalami istihadhah (keluar darah penyakit).

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ اسْتُحِيضَتْ سَبْعَ سِنِينَ فَسَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَأَمَرَهَا أَنْ تَغْتَسِلَ فَقَالَ هَذَا عِرْقٌ فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ لِكُلِّ صَلَاةٍ

Dari Aisyah –radhiyallahu anha- istri Nabi shollallahu alaihi wasallam bahwa Ummu Habibah mengalami istihadhah selama 7 tahun. Kemudian ia bertanya kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tentang hal itu. Kemudian Nabi memerintahkan kepadanya untuk mandi. Nabi bersabda: sesungguhnya itu adalah urat (yang terputus). Maka Ummu Habibah mandi setiap (akan) sholat (H.R al-Bukhari)

Bisa juga mengakhirkan sholat Dzhuhur dan mengawalkan sholat Ashar dalam 1 kali mandi, serta mengakhirkan sholat Maghrib dan mengawalkan Isya dalam 1 kali mandi.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ اسْتُحِيضَتْ امْرَأَةٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُمِرَتْ أَنْ تُعَجِّلَ الْعَصْرَ وَتُؤَخِّرَ الظُّهْرَ وَتَغْتَسِلَ لَهُمَا غُسْلًا وَأَنْ تُؤُخِّرَ الْمَغْرِبَ وَتُعَجِّلَ الْعِشَاءَ وَتَغْتَسِلَ لَهُمَا غُسْلًا وَتَغْتَسِلَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ غُسْلً

Dari Aisyah –radhiyallahu anha- bahwa seorang wanita mengalami istihadhah di masa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam kemudian ia diperintah untuk memajukan sholat Ashar dan mengakhirkan sholat Dzhuhur dan mandi untuk keduanya sekali. (Ia juga diperintah) untuk mengakhirkan Maghrib dan memajukan sholat Isya dan mandi untuk keduanya sekali, dan mandi sekali untuk sholat Subuh (H.R Abu Dawud, dishahihkan al-Albany)

5⃣Mandi ketika akan masuk Makkah

عَنْ نَافِعٍ قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا إِذَا دَخَلَ أَدْنَى الْحَرَمِ أَمْسَكَ عَنْ التَّلْبِيَةِ ثُمَّ يَبِيتُ بِذِي طِوًى ثُمَّ يُصَلِّي بِهِ الصُّبْحَ وَيَغْتَسِلُ وَيُحَدِّثُ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ

Dari Nafi’ beliau berkata: Ibnu Umar radhiyallahu anhuma jika masuk mendekati tanah Haram beliau berhenti bertalbiyah kemudian bermalam di Dzi Thuwa kemudian sholat Subuh dan mandi. Beliau menyatakan bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam melakukan hal itu (H.R al-Bukhari)

6⃣Mandi ketika akan sholat Ied

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

Dari Nafi’ bahwasanya Abdullah bin Umar mandi pada hari Iedul Fithri sebelum berangkat menuju musholla (tanah lapang sholat Ied)(H.R Malik dalam al-Muwaththa’)

6⃣Mandi ketika akan ihram untuk Umrah atau Haji.

Sebagaimana ketika Asma’ bintu ‘Umais melahirkan Muhammad bin Abi Bakr dalam perjalanan haji, Nabi perintahkan beliau untuk mandi, beristitsfar (memberikan semacam pembalut pada tempat keluarnya darah), dan berihram

اغْتَسِلِي وَاسْتَثْفِرِي بِثَوْبٍ وَأَحْرِمِي

Mandilah, beristitsfar dengan pakaian, dan berihramlah (H.R Muslim dari Jabir)

8⃣Mandi ketika akan wukuf di Arafah

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ لِإِحْرَامِهِ قَبْلَ أَنْ يُحْرِمَ وَلِدُخُولِهِ مَكَّةَ وَلِوُقُوفِهِ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ

Dari Nafi’ bahwasanya Abdullah bin Umar mandi untuk ihram sebelum ihram, masuk Makkah, dan wukuf pada sore hari di Arafah (H.R Malik dalam al-Muwaththa’)

9⃣Mandi ketika terbangun (siuman) dari pingsan.

Sebagaimana yang dilakukan Nabi shollallahu alaihi wasallam saat sakit parah. Ketika beliau siuman beliau mandi kemudian pingsan, kemudian mandi lagi. Terjadi demikian hingga beberapa kali (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَصَلَّى النَّاسُ قُلْنَا لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ قَالَ ضَعُوا لِي مَاءً فِي الْمِخْضَبِ قَالَتْ فَفَعَلْنَا فَاغْتَسَلَ فَذَهَبَ لِيَنُوءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَلَّى النَّاسُ قُلْنَا لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ… وَالنَّاسُ عُكُوفٌ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُونَ النَّبِيَّ عَلَيْهِ السَّلَام لِصَلَاةِ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ فَأَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ بِأَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ

Nabi shollallahu alaihi wasallam sakit parah kemudian berkata: Apakah manusia sudah sholat? Kami berkata: Tidak. Mereka menunggu anda. Beliau bersabda: Siapkan untukku air (untuk mandi). Kamipun melakukannya. Kemudian beliau mandi. Kemudian beliau akan bangkit. Beliau pingsan. Kemudian siuman. Nabi berkata: Apakah manusia sudah sholat? Kami berkata: tidak. Mereka menunggu anda wahai Rasulullah. Beliau bersabda: siapkan untukku air (untuk mandi). Kemudian beliau duduk mandi kemudian ketika akan bangkit beliau pingsan…(demikian berulang hingga dua kali lagi, pent)…sedangkan manusia berdiam di masjid menunggu Nabi shollallahu alaihi wasallam sholat Isya. Kemudian Nabi shollallahu alaihi wasallam mengutus Abu Bakr untuk mengimami manusia (H.R al-Bukhari dan Muslim)

?Mandi setelah selesai menguburkan seorang musyrik

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أَبَا طَالِبٍ مَاتَ فَقَالَ اذْهَبْ فَوَارِهِ قَالَ إِنَّهُ مَاتَ مُشْرِكًا قَالَ اذْهَبْ فَوَارِهِ فَلَمَّا وَارَيْتُهُ رَجَعْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ لِي اغْتَسِلْ

Dari Ali radhiyallahu anhu bahwasanya beliau mendatangi Nabi shollallahu alaihi wasallam kemudian berkata: Sesungguhnya Abu Thalib telah meninggal. Nabi bersabda: Pergilah untuk menguburkannya. Ali berkata: sesungguhnya dia mati dalam keadaan syirik. Nabi bersabda: pergilah untuk menguburkannya. (Ali berkata): setelah selesai menguburkannya aku kembali kepada beliau. Beliau bersabda: Mandilah (H.R anNasaai no 190 kitab ath-Thohaaroh bab al-Ghusl min muwaarootil musyrik, dishahihkan al-Albany)