Oleh  Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

            Di antara kondisi masyarakat jahiliyah yang diwarnai dengan paganisme dan kemaksiatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lahir di tengah keluarga Bani Hasyim di Makkah pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan dalam keadaan yatim karena ayahnya, ‘Abdullah bin ‘Abdul Mutthalib meninggal ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam rahim ibunya, Aminah bintu Wahb. Kelahiran ini disambut dengan sukacita oleh kakeknya, ‘Abdul Mutthalib, yang kemudian memberinya nama Muhammad, suatu nama yang pada waktu itu belum dikenal di kalangan Arab.

            Sebagaimana adat di kalangan bangsa Arab, Aminah bintu Wahb mencari ibu susuan bagi putranya yang baru lahir. Wanita pertama yang menjadi ibu susu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Tsuwaibah, sahaya Abu Lahab. Kemudian bersama Halimah bintu al-Harits as-Sa’diyyah, ibu susunya setelah Tsuwaibah, dan al-Harits bin ‘Abdil ‘Uzza, suami Halimah, beliau tinggal di tengah-tengah Bani Sa’d. Dengan hadirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di tengah keluarga al-Harits, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan limpahan barakah-Nya bagi keluarga ini.

            Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam – yang waktu itu masih berusia kanak-kanak – berada di tengah Bani Sa’d, terjadi peristiwa pembelahan dada beliau oleh dua orang malaikat. Dikeluarkan dari dalam hati beliau gumpalan darah hitam, kemudian hati itu dicuci dan dituangkan ke dalamnya ketenangan, serta diberikan kepada beliau tanda kenabian. Peristiwa ini mengantarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kembali dalam asuhan ibunya. a

            Tak lama beliau menikmati kebersamaan itu. Aminah meninggal dunia karena sakit di Abwa’ dalam perjalanan kembali ke Makkah dari Madinah, setelah mengajak putranya berkunjung pada keluarga ayahnya dari Bani ‘Adi bin an-Najjar. Saat itu usia beliau baru menginjak enam tahun. Maka berpindahlah asuhan pada kakek beliau ‘Abdul Mutthalib bin Hisyam yang amat sangat mencintai cucunya ini.

            Akan tetapi, asuhan yang penuh kasih sayang itu tidak berlangsung lama pula, karena ‘Abdul Mutthalib meninggal dunia ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berusia delapan tahun. Kini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam asuhan Abu Thalib bin ‘Abdul Mutthalib, saudara kandung ayah beliau. Abu Thalib sangat mengasihi dan mengutamakan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lebih daripada anak-anaknya sendiri.

            Tatkala berusia dua belas tahun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam turut dalam rombongan Abu Thalib beserta beberapa orang Quraisy untuk berdagang ke Syam. Dalam perjalanan itu mereka bertemu dengan pendeta yang bernama Bahira. Pendeta inilah yang mengabarkan kepada mereka bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kelak akan menjadi seorang nabi. Dia mengetahui hal ini dari sifat-sifat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang dia kenali sebagai tanda-tanda kenabian. Bahira menyarankan agar tidak membawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perjalanan mereka ke Syam karena khawatir orang-orang Yahudi akan menimpakan bahaya kepada beliau apabila mengetahui di antara rombongan itu ada seseorang yang kelak akan diangkat sebagai nabi.

            Ketika usia beliau mencapai dua puluh lima tahun, beliau pergi ke Syam membawa barang-barang perdagangan Khadijah bintu Khuwailid. Perjalanan beliau disertai oleh pembantu Khadijah yang bernama Maisarah. Selama bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Maisarah terkesan dengan sifat-sifat beliau yang mulia serta kejujuran beliau. Maka diceritakanlah semua yang dilihatnya pada diri beliau kepada Khadijah yang tercengang dengan keuntungan dagangan yang melimpah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tergeraklah hati wanita yang mulia ini untuk menikah dengan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima tawaran tersebut dan meminang Khadijah bersama paman-paman beliau. Dari pernikahan ini Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniai anak-anak, al-Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah dan ‘Abdullah. Namun di antara putra-putri beliau hanya anak-anak perempuan beliau saja yang mencapai usia dewasa.

            Dengan sifat beliau yang mulia, beliau mendapatkan gelar al-Amin (yang terpercaya). Oleh karena itulah para pemuka Quraisy mempercayai beliau untuk menjadi penengah ketika mereka bertikai tentang siapa yang paling berhak menempatkan Hajar  Aswad ke tempatnya semula dalam renovasi Ka’bah yang mereka lakukan. Maka beliau meminta sebuah kain dan meletakkan Hajar Aswad di atasnya, lalu meminta masing-masing pemuka kabilah untuk memegang ujung-ujung kain tersebut dan mengangkatnya bersama-sama,  kemudian beliau letakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula dengan tangan beliau.

            Dengan penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala, di kalangan kaumnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi orang yang paling utama kesantunannya, paling baik akhlaknya, paling mulia pergaulannya, paling besar kesabarannya, paling benar perkataannya, dan paling menjaga amanah yang dibebankan. Berbeda dengan kondisi kaumnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat membenci penyembahan berhala. Bahkan tidak ada yang lebih beliau benci daripada hal ini. Beliau senang mengasingkan diri ke gua Hira’. Di sana beliau merenungkan keadaan manusia yang diselimuti kegelapan jahiliyah yang tidak akan diterima oleh akal dan fitrah yang selamat. Hal ini menjadi kebiasaan beliau hingga suatu saat nanti Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Jibril ‘alaihis salam menemui beliau di gua itu untuk menyampaikan wahyu.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber bacaan :

Ar-Rahiqul Makhtum, karya asy-Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, Mukhtashar Sirah ar-Rasul, karya asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, Shahihus Sirah an-Nabawiyah, karya asy-Syaikh Ibrahim al-’Aly

 Oleh  Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Kehidupan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah berada dalam kekacauan yang luar biasa. Mereka menyekutukan Allah, banyak berbuat maksiat, tidak memiliki norma, percaya kepada khurafat, dan berbagai bentuk kebobrokan moral lain.

 

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, yang merupakan Nabi dan Rasul terakhir, diutus di saat tiadanya para Rasul. Vakumnya masa itu dari para pembawa risalah dikarenakan Allah murka kepada penduduk bumi baik orang Arab dan selainnya, kecuali sisa-sisa dari ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mereka telah meninggal. Dalam sebuah riwayat, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

ا ن الله نضر الى اهل الا رض فحقتهم عربهم وعجمهم الا بقايا  من اهل الكتا ب (رواه مسلم)  

 Sesungguhnya Allah melihat kapada penduduk bumi. Lalu murka kepada mereka, Arab atau ajamnya, kecuali sisa-sisa dari ahlul kitab. (HR Muslim)

Saat itu, memang hanya satu di antara dua orang ahlul kitab yang berpegang dengan kitab yang sudah dirubah dan/atau dihapus, atau dengan agama yang punah, baik bangsa Arab atau lainnya. Sebagiannya tidak diketahui dan sebagian yang lain sudah ditinggalkan. Akibatnya, seorang yang umi (tidak bisa baca tulis) hanya bisa bersemangat beribadah namun dengan apa yang ia anggap baik dan disangka memberi manfaat baik berupa bintang, berhala, kubur, benda keramat, atau yang lainnya.

Manusia saat itu benar-benar dalam kebodohan yang sangat akan ucapan-ucapan yang mereka sangka baik padahal bukan, serta amalan yang disangka baik padahal rusak. Paling mahirnya mereka adalah yang mendapat ilmu dari warisan para Nabi terdahulu namun telah samar bagi mereka antara haq dan batil. Atau yang sibuk dengan sedikit amalan meski kebanyakannnya mengamalkan bid’ah yang dibuat-buat. Walhasil, kebatilannya berlipat-lipat kali dari kebenarannya. (Iqtidha’ Sirathal Mustaqim 1/74-75)

Inilah gambaran ringkas keadaan manusia yang sangat parah saat itu, khususnya di kota Makkah dan sekitarnya. Keadaan tersebut mulai terlihat sejak munculnya Amr bin Luhay Al-Khuza’iy. Ia dikenal sebagai orang yang gemar ibadah dan beramal baik sehingga masyarakat waktu itu menempatkannya sebagai seorang ulama.

Sampai suatu saat, Amr pergi ke daerah Syam. Ketika mendapati para penduduknya beribadah kepada berhala-berhala, Amr menganggapnya sebagai sesuatu yang baik dan benar. Apalagi, Syam dikenal sebagai  tempat turunnya  kitab-kitab Samawi (kitab-kitab dari langit).

Ketika pulang, Amr membawa oleh-oleh berhala dari Syam yang bernama Hubal. Ia kemudian meletakkannya di dalam Ka’bah dan menyeru penduduk Makkah untuk menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah dengan beribadah kepadanya. Disambutlah seruan itu oleh masyarakat Hijaz, Makkah, Madinah dan sekitarnya karena disangka sebagai hal yang benar. (Mukhtasor Sirah Rasul hal. 23 & 73).

Sejak itulah, berhala tersebar di setiap kabilah. Di samping Hubal yang menjadi berhala terbesar di Ka’bah dan sekitarnya dan juga menjadi sanjungan orang-orang Makkah, terdapat pula berhala Manat di antara Makkah dan Madinah. Manat merupakan sesembahan orang-orang Aus dan Khazraj dan qabilah dari Madinah. Juga ada Latta di Thaif dan Uzza. Ketiga berhala ini merupakan yang terbesar dari yang ada. (lihat Mukhtasor Siroh Rasul 75-76 Rahiqul Makhtar :35).

Akibatnya, peribadatan kepada berhala menjadi pemandangan yang sangat mencolok. Apalagi, kesyirikan tersebut disangka masyarakat waktu itu sebagai agama Ibrahim ‘alaihis salam.  Padahal,  tradisi menyembah berhala-berhala itu kebanyakannya adalah hasil rekayasa Amr bin Luhay yang kemudian dianggap bid’ah hasanah.

Dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tentang perbuatan Amr ini: “Saya melihat Amr bin Amir (bin Luhay) Al-Khuza’iy menyeret ususnya di neraka. Dia yang pertama kali melukai unta (sebagai persembahan kepada berhala dan yang pertama mengubah agama Ibrahim  ‘alaihissalam)” (HR Bukhari)

Diantara tradisi syirik masyarakat waktu itu adalah  menginap di sekitar berhala itu, memohonnya, mencari berkah darinya karena diyakini dapat memberi manfaat, thawaf, tunduk dan sujud kepadanya, menghidangkan sembelihan dan sesaji kepadanya, dan lain-lain. Mereka melakukan hal itu karena meyakini bahwa itu akan mendekatkan kepada Allah dan memberi syafaat sebagaimana Allah kisahkan dalam Al Qur’an. Mereka mengatakan:

ما نعبدهم لاليقريونا الى الله زلفى  39  3

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar: 3)

ويعبدون من دونالله مالايضرهمولاينفعهم ويقولونهؤلاءشفعؤناعندالله 10 18

“Dan mereka menyembah kepada selain Allah, apa yang tidak dapat mendatangkan kenmudharatan kepada mereka dan tidak (pula) manfaat. Dan mereka berkata, ’Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah’”. (Yunus: 18)

Selain kesyirikan, kebiasaan jelek yang mereka lakukan adalah perjudian dan mengundi nasib dengan 3 anak panah. Caranya dengan menuliskan “ya”, “tidak” dan dikosongkan pada ketiga anak panah itu. Ketika ingin bepergian misalnya, mereka mengundinya. Jika yang keluar “ya”, mereka pergi dan jika “tidak”, tidak jadi pergi. Jika yang kosong maka diundi lagi.

Mereka juga mempercayai berita-berita ahli nujum, peramal dan dukun, serta menggantungkan nasib melalui burung-burung. Ketika ingin melekukan sesuatu, mereka mengusir burung. Jika terbang ke arah kanan berarti terus, jika ke arah kiri berarti harus diurungkan. Selain itu, mereka juga pesimis dengan bulan-bulan tertentu. Misalnya karena pesimis dengan bulan safar, mereka kemudian merubah aturan haji sehingga tidak mengijinkan orang luar Makkah untuk haji kecuali dengan memakai pakaian dari mereka. Jika tidak mendapatkan, maka melakukan thawaf dengan telanjang.

Kehidupan sosial kemasyarakatan dalam kaitannya dengan hubungan lain jenis pun sangat rendah, khususnya di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Sampai-sampai pada salah satu cara pernikahan mereka, seorang wanita menancapkan bendera di depan rumah. Ini merupakan tanda untuk mempersilahkan bagi laki-laki siapa saja yang ingin ‘mendatanginya’. Jika sampai melahirkan, maka semua yang pernah melakukan hubungan dikumpulkan dan diundang seorang ahli nasab untuk menentukan siapa bapaknya, kemudian sang bapak harus menerimanya.

Poligami saat itu juga tidak terbatas, sehingga seorang laki-laki bisa menikahi wanita sebanyak mungkin. Bahkan sudah menjadi hal yang biasa seorang anak menikahi bekas istri ayahnya dengan mahar semau laki-laki. Jika perempuan itu tidak mau, maka laki-laki itu akan memaksa wanita itu untuk menikah kecuali dengan siapa yang diizinkan olehnya. Sehingga dalam banyak hal, wanita terdzalimi. Sampai yang tidak berdosapun merasakan kedzaliman itu, yaitu bayi-bayi wanita yang ditanam hidup-hidup karena takut miskin dan hina.

Tentunya, kenyataan yang ada lebih dari yang tergambar di atas. Meski tidak dipungkiri di sisi lain mereka memiliki sifat atau perilaku yang baik, namun itu semua lebur dalam kerusakan agama, moral yang bejat, yang di kemudian hari seluruhnya ditentang oleh Islam dengan diutusnya Rasullallah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai pelita yang sangat terang bagi umat ini.

 Oleh  Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

 Nasab dan Masa Kelahirannya

Dilahirkan dengan nama ‘Abdullah bin Abi Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taym bin Murrah bin Ka’b bin Luay bin Ghalib al-Qurasyi at-Taymi. Abu Bakr lebih dikenal dengan kuniahnya, dari al-bakr (unta muda).

‘Abdullah bin Abi Quhafah dilahirkan sesudah Tahun Gajah, selang dua tahun sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lahir. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada kakek keenam, Murrah bin Ka’b bin Luay.

Pada masa dewasanya, dalam Islam, Abu Bakr menerima berbagai julukan yang menunjukkan ketinggian pribadi beliau, di antaranya:

1. Al-‘atiq

Beberapa riwayat menyebutkan bahwa beliau dijuluki sendiri oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu’anha, yang menyebutkan bahwa suatu ketika Abu Bakr masuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya:

أَبْشِرْ ، فَأَنْتَ عَتِيْقُ اللهِ مِنَ النَّارِ

Gembiralah, engkau adalah orang yang dibebaskan Allah dari neraka.[1]

Sebagian ahli sejarah ada yang berpendapat lain. Menurut mereka, gelar ‘atiq adalah karena keelokan wajahnya, ada pula yang mengatakan karena terdepan dalam kebaikan. Namun ada juga yang berpendapat bahwa asalnya adalah karena ibunda Abu Bakr tidak pernah melahirkan anak laki-laki dalam keadaan hidup. Setelah Abu Bakr lahir, sang ibu membawa putranya ke Ka’bah dan berkata, “Ya Allah, sesungguhnya inilah orang yang Engkau bebaskan dari kematian, maka hadiahkanlah dia kepadaku.”[2]

2. Ash-Shiddiq

Gelar ini diberikan oleh Nabi n juga. Anas pernah menceritakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendaki bukit Uhud bersama Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman. Tiba-tiba gunung itu bergetar, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ

Tenanglah, wahai Uhud! Sesungguhnya di atas punggungmu adalah seorang Nabi, Shiddiq, dan dua orang syuhada.[3]

Bunda ‘Aisyah, ash-Shiddiqah bintu Shiddiq radhiyallahu’anha, bercerita:

Pada waktu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diisra’kan (dari Masjidil Haram) ke Masjidil Aqsha, keesokan paginya orang banyak mulai membicarakannya. Lalu murtadlah sebagian orang yang sebelumnya telah beriman dan membenarkan Nabi n. Beberapa orang datang menemui Abu Bakr dan bertanya, “Maukah engkau menemui sahabatmu itu? Dia mengatakan bahwa dia telah diperjalankan (isra’) tadi malam ke Baitil Maqdis.”

Abu Bakr menjawab, “Apakah beliau mengatakan hal itu?”

“Ya,” jawab mereka.

Abu Bakr segera berkata, “Kalau beliau sudah mengatakannya, maka beliau pasti benar.”

Orang-orang yang datang kaget, “Engkau malah menganggapnya benar? Padahal dia berangkat tadi malam ke Baitil Maqdis dan pulang sebelum subuh?”

Abu Bakr menjawab dengan tegas, “Ya. Saya memang mengakui beliau benar dalam setiap persoalan, bahkan lebih dari itu. Saya yakin akan kebenaran dan kejujuran beliau membawa berita dari langit setiap pagi dan petang.”

Sejak saat itulah Abu Bakr dijuluki ash-Shiddiq,[4] semoga Allah l meridhainya dan membuatnya ridha.

Dengan pastinya julukan ini, menegaskan bahwa beliau z tidak mungkin pernah terjatuh dalam kehinaan sama sekali.[5]

3. Ash-Shahib (sahabat, teman)

Allah l berfirman (at-Taubah: 40):

إِلاَّ تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, Janganlah kamu berdukacita, sesungguhnya Allah beserta kita. Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Para ulama sepakat bahwa shahib (teman) yang dimaksud dalam ayat ini adalah Abu Bakr, dan tidak seorang pun menyamai beliau z dalam kedudukan mulia ini.

4. Al-Atqa (orang yang paling bertakwa)

Allah k berfirman (al-Lail: 17):

Kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.

Itulah beberapa julukan yang beliau sandang, dan jelas menunjukkan betapa mulia kedudukan beliau z.

Beberapa ahli sejarah menerangkan sebagian ciri fisik beliau, bahwa tubuhnya agak kurus, kulitnya putih kekuningan, bagus posturnya, wajahnya cekung, dahinya menonjol, janggut dan ubannya diberi inai, pahanya mamhush, betisnya hamsy.

Ayahnya, ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr, diberi kuniah Abu Quhafah, masuk Islam sesudah Fathu Makkah dan berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun ibunya, Salma bin Shakhr bin ‘Amr bin Ka’b, kuniahnya Ummul Khair, masuk Islam lebih dahulu.

Abu Bakr menikahi empat orang wanita pada masa hidupnya;

- Qutailah bintul ‘Abdil uzza, yang diperselisihkan keislamannya. Dari wanita ini lahir ‘Abdullah dan Asma’. Wanita ini dicerai oleh Abu Bakr di masa jahiliah dan pernah datang ke Madinah memberi hadiah kepada Asma’.

- Ummu Ruman bintu ‘Amir bin ‘Uwaimir. Dari wanita ini, lahir ‘Abdurrahman dan ‘Aisyah. Wanita ini wafat di Madinah pada tahun keenam hijrah, radhiyallahu’anha.

- Asma’ bintu ‘Umais bin Ma’bad bin al-Harits. Dari wanita ini, lahir Muhammad bin Abi Bakr, pada saat kaum muslimin sedang menunaikan ibadah haji (Haji Wada’).

- Habibah bintu Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair al-Anshariyah. Dari wanita ini lahir Ummu Kaltsum, setelah Abu Bakr wafat.

Itulah sekilas tentang keluarga Abu Bakr yang dimuliakan oleh Allah l dengan Islam. Mulai dari ayahnya hingga anak-anaknya—selain Ummu Kaltsum yang masuk generasi tabi’in—adalah orang-orang yang menjadi sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.[6]

Di Masa Jahiliah

Abu Bakr dikenal sebagai seorang ahli dalam bidang nasab dan ihwal bangsa Arab. Pedagang yang dermawan. Beliau dikenal sebagai orang yang ramah, menyenangkan teman duduknya, dan dicintai oleh masyarakat Quraisy.

Keadaan beliau persis seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang disebutkan oleh Khadijah radhiyallahu’anha, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan apa yang dilihatnya di Hira’. Khadijah menghibur beliau dengan menyebutkan kebaikan dan ketinggian budi pekerti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Seperti itu pula yang diterima oleh Abu Bakr. Ibnu Daghinah pernah bertemu dengan Abu Bakr yang hendak berangkat hijrah, maka dia mengatakan, “Anda adalah orang yang benar-benar baik kepada kerabat, membantu orang yang kesulitan, dan suka berbuat baik,”

Tidak seperti para pemuda Quraisy lainnya, Abu Bakr jauh dari kebiasaan mereka yang buruk: meminum minuman keras, berjudi, bahkan yang paling buruk, menyembah berhala pun tidak pernah sekalipun beliau lakukan. Beliau juga dikenal dengan kedermawanannya, suka memuliakan tamu dan akhlak yang mulia lainnya.

Suatu ketika, setelah beranjak dewasa, Abu Quhafah membawanya ke sebuah tempat yang ada berhalanya di sana, lalu berkata, “Inilah tuhanmu yang mulia,” dan meninggalkan Abu Bakr sendirian.

Abu Bakr mendekati berhala itu dan meminta makan dan pakaian tetapi tidak dijawab oleh benda-benda bisu dan tuli itu. Akhirnya Abu Bakr mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke muka patung itu hingga patung itu jatuh tersungkur. Agaknya, inilah salah satu sebab, ketika di masa Islam beliau termasuk pemikul dakwah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Melalui tangan beliau, masuk Islam sebagian besar tokoh Quraisy yang diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.

Mereka ialah Thalhah bin ‘Ubaidillah, Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrah, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ‘Utsman bin ‘Affan, Sa’d bin Abi Waqqash, dan Zubair bin Awwam .

Di masa jahiliah, beliau termasuk tokoh utama Quraisy dan pembesar mereka yang disegani. Sebelum Islam lahir, kepemimpinan Quraisy berada di tangan sepuluh kabilah mulia.

-          ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, dari Bani Hasyim, yang biasa memberi minum para jamaah haji di masa jahiliah sampai di masa Islam.

-          Abu Sufyan bin Harb, dari Bani Umayyah, pemegang bendera Quraisy.

-          Al-Harits bin ‘Amir, dari Bani Naufal, yang bertugas mengatur rifadah, harta Quraisy untuk membantu orang-orang yang kehabisan bekal.

-          ‘Utsman bin Thalhah, dari Bani Asad, pemegang kunci Ka’bah, dan sebagai konsultan masyarakat Quraisy; setiap persoalan yang ada, diajukan kepadanya. Kalau dia setuju, dia akan mendorong mereka menjalankannya, kalau tidak, dia memberikan pilihan.

-          Abu Bakr ash-Shiddiq, dari Bani Taym, di tangannyalah tugas menebus dan utang-piutang. Kalau beliau menanggung sesuatu, lalu meminta Quraisy, mereka membenarkannya.

-          Khalid bin Walid, dari Bani Makhzum, pengatur urusan perang dan persiapannya.

-          ‘Umar bin al-Khaththab, memegang urusan safarah, duta, utusan.

-          Shafwan bin Umayyah, dari Bani Jumhi, pemegang urusan undian dengan panah (azlam).

-          Al-Harits bin Qais dari Bani Sahm, urusan hukum dan harta berhala.

Salah satu keindahan ajaran Islam, agama ini tidak meruntuhkan keutamaan yang telah disandang pemeluknya di masa lalu (sebelum memeluk Islam), tetapi justru memberi dorongan agar tetap di atas kemuliaan itu, dan mengembangkannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خِيَارُكُمْ في الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ في الإِسْلاَمِ إذَا فَقِهُوا

Orang terbaik di antara kalian di masa jahiliah adalah yang terbaik pula di dalam Islam jika dia memahami (agama).[7]

Itulah kemuliaan yang diraih oleh ash-Shiddiq al-Akbar, orang terbaik di tubuh umat ini sesudah nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada masa jahiliah tak sedikit kebaikan yang diperbuatnya, terlebih lagi setelah beliau masuk Islam, bahkan pria dewasa yang “merdeka” satu-satunya ketika itu.

Pria yang hidup di sekeliling berhala, tanpa ada agama yang memperingatkan agar menjauhi berhala itu, tidak pula ada aturan syariat yang menuntun jiwa, namun fitrahnya yang suci dari kekotoran jahiliah itu akhirnya bertemu dan menjalin hubungan mesra dengan bimbingan wahyu, hingga menjadi orang pertama memeluk Islam. Radhiyallahu anhu.

Tak berlebihan, bila kita katakan tak seorang pun dari umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallamn yang dapat mengejar keutamaan beliau apalagi melampauinya. Tak seorang pula di kalangan bangsa Quraisy dapat menjatuhkan kemuliaan Abu Bakr dengan menyebutkan satu cacat atau kekurangan pribadinya. Tidak pula ada dosa dan kesalahan Abu Bakr terhadap mereka selain hanya karena dia beriman kepada Allah l dan Rasul-Nya.

Masuk Islam

Boleh dikatakan, bisikan hati kecil Abu Bakr yang jengah melihat kenyataan yang terjadi dalam kehidupan masyarakatnya, mendorong Abu Bakr berusaha mencari kebenaran hidup yang hakiki. Fitrah yang masih bersih, itulah modal utamanya menelusuri sisi-sisi kehidupan, memikirkan apa hakikat di balik ini semua?

Perniagaannya yang cukup maju, menjelajahi belahan utara dan selatan, timur dan barat membuatnya bersentuhan dengan beragam pemikiran dan pola hidup yang berbeda dengan keadaan bangsa Quraisy.

Abu Bakr terkenang di saat dia masih belia, bergaul erat dengan Muhammad yang kemudian menjadi rasul, pemimpin seluruh manusia di alam semesta ini. Dia melihat kepribadian Muhammad yang agung telah mulai mencuatkan auranya.

Aneh memang, di saat sebagian teman-teman sebaya mereka, begitu bahagia dengan keadaan masyarakat mereka, sosok Muhammad lebih suka menggembala kambing milik keluarganya. Tak pernah sekalipun beliau ikut turun berpesta bersama mereka.

Begitulah Muhammad sampai mereka sama-sama dewasa. Muhammad tetap dengan keagungan pribadinya, lebih suka menyendiri, mencari kesejatian hidup, menjauhi batu-batu yang diberi nama dengan nama-nama orang saleh yang pernah hidup di masyarakat mereka atau nama lainnya.

Abu Bakr masih teringat, bagaimana dia duduk di halaman Ka’bah, saat-saat Zaid bin ‘Amr bin Nufail juga duduk di sebelah sana. Tiba-tiba datang Ibnu Abi ash-Shalt, dan berkata, “Bagaimana keadaanmu, wahai pencari kebenaran?”

“Baik,” jawab Zaid.

“Sudahkah kau dapatkan?” tanya Ibnu Abi ash-Shalt.

“Belum,” jawab Zaid, “… Semua agama hari kiamat selain ajaran lurus di masa lalu, tentu binasa….”

(bersambung)

 


[1] HR. at-Tirmidzi (3679) ada penguatnya dalam Shahih Ibnu Hibban (6864) dari ‘Abdullah bin Zubair .

[2] Abu Bakr, Pribadi dan Zamannya, ‘Ali asy-Syibli.

[3] HR. al-Bukhari (3675).

[4] Kisah ini dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dengan beberapa penguat. Lihat ash-Shahihah (1/305 no. 306).

[5] Lihat Abu Bakr ash-Shiddiq, ‘Ali asy-Syibli.

[6] Adapun Muhammad bin Abi Bakr diperselisihkan apakah termasuk sahabat atau bukan? Wallahu a’lam.

[7] HR. al-Bukhari (4/117—118).