PENJELASAN SYARHUSSUNNAH LIL MUZANI (BAG 9)

PENJELASAN SYARHUSSUNNAH LIL MUZANI (BAG 9)

Beritahu yang lain

Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Ditulis Oleh Ustadz Kharisman

ALQURAN ADALAH KALAM ALLAH BUKAN MAKHLUK

 

Al-Muzani rahimahullah menyatakan:

وَالْقُرْآنُ كَلاَمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ لَدُنْهُ وَلَيْسَ بِمَخْلُوْقٍ فَيَبِيْدُ

alQuran adalah Kalam (Ucapan) Allah Azza Wa Jalla dan dari sisiNya, bukanlah makhluk sehingga tidak akan binasa

PENJELASAN:

 

Dahulu, para Ulama’ Salaf mencukupkan ucapan dengan menyatakan: AlQuran adalah Kalam Allah. Namun, setelah berkembang pemahaman sesat Jahmiyyah dan Mu’tazilah yang menentang Sifat Allah, maka para Ulama’ perlu menegaskan dengan ucapan: AlQuran adalah Kalam Allah bukan makhluk.

 

Hal ini dikarenakan mereka (Ahlul Bid’ah) menyatakan bahwa Kalam Allah adalah makhluk. Mereka beralasan bahwa Kalam Allah sama dengan penyebutan lain dalam al-Quran seperti Baitullah (rumah Allah) atau Naaqotullah (unta Allah), menunjukkan bahwa semua itu adalah makhluk. Padahal sebenarnya Kalam Allah adalah Sifat Allah. Allah Berbicara dengan Kalam itu. Semua Sifat Allah bukanlah makhluk (sebagaimana juga dijelaskan oleh al-Muzani pada bagian yang akan datang).

Hal yang menunjukkan bahwa Kalam atau Kalimat dari Allah bukanlah makhluk adalah firman Allah:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

Ingatlah bagi Allahlah penciptaan dan perintah…(Q.S al-A’raaf:54)

Sufyan bin Uyainah (salah seorang guru al-Imam asy-Syafi’i) berdalil dengan ayat ini untuk mambantah pemahaman bahwa alQuran adalah makhluk. Ayat ini jelas membedakan antara penciptaan (makhluk) dengan perintah Allah. Kalam atau Kalimat Allah dalam alQuran adalah perintahNya, maka ia bukanlah makhluk.

Dalil lain yang menunjukkan bahwa Kalam/ Kalimat Allah bukan makhluk, adalah bacaan yang diajarkan Nabi:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Aku berlindung dengan Kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan para makhluk (H.R Muslim no 4881, Nabi menyatakan bahwa barangsiapa yang singgah di suatu tempat dan membaca bacaan itu akan terhindar dari marabahaya seluruh makhluk)

Dalam hadits itu menunjukkan bahwa kita berlindung dari keburukan makhluk dari Kalimat Allah. Berarti, Kalimat Allah bukanlah makhluk. Dia adalah salah satu dari Sifat Allah.

Sedangkan dalil yang menunjukkan bahwa al-Quran adalah Kalam Allah:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ…

Jika salah seorang dari kaum musyrikin meminta perlindungan kepadamu, berilah perlindungan, hingga ia mendengar Kalam Allah (al-Quran)(Q.S atTaubah:6)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُ نَفْسَهُ عَلَى النَّاسِ فِي الْمَوْقِفِ فَقَالَ أَلَا رَجُلٌ يَحْمِلُنِي إِلَى قَوْمِهِ فَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلَامَ رَبِّي

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma beliau berkata: Dulu Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menawarkan diri beliau pada kerumunan manusia di tempat-tempat keramaian, sambil menyatakan: Siapakah seorang laki-laki yang akan membawaku pada kaumnya. Sesungguhnya Quraisy telah menghalangi aku dari menyampaikan Kalam Tuhanku (al-Quran)(H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati keshahihannya oleh adz-Dzahaby dan al-Albany).

Masa-masa kehidupan al-Muzani diwarnai dengan kepemimpinan beberapa Khalifah Abbasiyyah yang terpengaruh dengan pemahaman Mu’tazilah, seperti al-Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Waatsiq.

Sepeninggal al-Imam asy-Syafii, yang mengganti mengajar murid-murid beliau adalah al-Buwaithy (Yusuf bin Yahya, Abu Ya’qub). Al-Buwaithy ini yang ditangkap oleh pasukan pemerintah waktu itu karena tidak mau mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk. Beliau ditangkap di Mesir dan dibawa ke Baghdad untuk dipenjara, dan meninggal di sana dalam keadaan kakinya dirantai.

Semasa di penjara, setiap kali mendengar adzan panggilan sholat Jumat, al-Buwaithy selalu mandi, berpakaian terbaik dan mempersiapkan diri (untuk menghadiri sholat Jumat), kemudian beliau berjalan hingga pintu penjara. Penjaga penjara akan bertanya kepadanya: Mau ke mana engkau? Al-Buwaithy menjawab: Aku akan menghadiri panggilan Tuhanku (sholat Jumat). Penjaga penjara akan mengatakan kepadanya: Kembalilah (ke tempatmu), semoga Allah memaafkanmu. Al-Buwaithy kemudian berdoa: Ya Allah, sungguh Engkau telah tahu aku berusaha untuk memenuhi seruanMu, tapi mereka mencegah aku (Thobaqootul Fuqohaa’ karya Ibnu Mandzhur (1/98)).

Sepeninggal al-Buwaithy, yang menggantikan tugas mengajar murid-murid asy-Syafi’i di Mesir adalah al-Muzani. Berkaca dari pengalaman al-Buwaithy, al-Muzani tidak banyak berbicara tentang masalah al-Quran bukanlah makhluk. Hingga sebagian orang menganggap al-Muzani memiliki akidah yang menyimpang tentang hal itu. Sampai akhirnya al-Muzani menjelaskan dalam risalah ini akidah yang diyakininya, bahwa al-Quran adalah Kalam Allah, bukan makhluk.

Sesuatu yang dibaca oleh para pembaca al-Quran, yang ditulis pada papan tulis dan buku tulis ketika mengajarkan al-Quran, yang dihafal oleh para penghafal al-Quran, itu semua adalah Kalam Allah. Namun, harus dibedakan antara isi dengan medianya. Isinya adalah Kalam Allah, namun medianya adalah makhluk. Lembaran kertas mushaf itu adalah makhluk. Tinta yang tercetak padanya adalah makhluk. Suara seseorang yang melantunkan al-Quran adalah makhluk.

Karena itu ada ungkapan dari para Ulama’ Ahlussunnah:

الصَّوْتُ صَوْتُ الْقَارِي وَالْكَلاَمُ كَلاَمُ الْبَارِي

Suaranya adalah suara sang pembaca, sedangkan Kalamnya adalah Kalam al-Baari (Tuhan)(Ma’arijul Qobul karya Syaikh Hafidz bin Ahmad Hakamy (1/293))

Ahlussunnah menyakini bahwa Allah berfirman/ berbicara secara hakiki lafadz-lafadz al-Quran tersebut dengan suara yang didengar Jibril, kemudian Jibril menyampaikan kepada Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam. Disebut dengan kalimat ‘diturunkan’ karena memang Kalam itu disampaikan Allah yang berada di puncak ketinggian, kemudian didengar Jibril (salah satu Malaikat penduduk langit), sehingga Jibril turun ke bumi dan menyampaikan kepada Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam.

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (guru Ibnu Katsir) rahimahullah menukilkan pendapat dari seorang Ulama Syafiiyyah:

وَقَالَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ أَبُو الْحَسَنِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الكرجي الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِهِ الَّذِي سَمَّاهُ ” الْفُصُولُ فِي الْأُصُولِ ” سَمِعْت الْإِمَامَ أَبَا مَنْصُورٍ مُحَمَّدَ بْنَ أَحْمَد يَقُولُ : سَمِعْت الْإِمَامَ أَبَا بَكْرٍ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَحْمَد يَقُولُ : سَمِعْت الشَّيْخَ أَبَا حَامِدٍ الإسفراييني يَقُولُ : مَذْهَبِي وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَفُقَهَاءِ الْأَمْصَارِ أَنَّ الْقُرْآنَ كَلَامُ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوقٍ . وَمَنْ قَالَ إنَّهُ مَخْلُوقٌ فَهُوَ كَافِرٌ وَالْقُرْآنُ حَمَلَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَسْمُوعًا مِنْ اللَّهِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَهُ مِنْ جِبْرِيلَ وَالصَّحَابَةُ سَمِعُوهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ …

Syaikh al-Imam Abul Hasan Muhammad bin Abdil Malik al-Karjiy asy-Syafi’i menyatakan dalam Kitabnya yang diberi nama ‘al-Fushuul fil Ushuul’ : saya mendengar Imam Abu Manshur Muhammad bin Ahmad berkata: Saya mendengar Imam Abu Bakr Abdullah bin Ahmad berkata: Saya mendengar Syaikh Abu Hamid al-Isrooyiini berkata: Madzhabku dan madzhab asy-Syafi’i dan (madzhab) para Fuqahaa’ di berbagai penjuru bahwasanya al-Quran adalah Kalam Allah bukan makhluk. Barangsiapa yang berkata bahwasanya ia (al-Quran) adalah makhluk, maka ia kafir. Al-Quran didengar oleh Jibril dari Allah dan Nabi shollallahu alaihi wasallam mendengarnya dari Jibril, dan para Sahabat mendengarnya dari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam (Majmu’ Fataawa Ibn Taimiyyah (12/160-161)

 

Al-Quran adalah salah satu dari sekian banyak Kalam Allah. AlQuran bukanlah satu-satunya Kalam Allah. Bahkan Taurat, Injil, Zabur yang diturunkan kepada para Nabi sebelumnya juga berisi Kalam Allah.

Kalam atau Kalimat Allah jumlahnya tak terhitung, sangat banyak. Allah berbicara kapan saja sesuai dengan yang dikehendakiNya dengan pembicaraan apa saja yang dikehendakiNya.

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) Kalimat Allah Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S Luqman:27)

Dalil yang menunjukkan bahwa Allah berfirman/ berbicara langsung kepada Malaikat Jibril dengan pembicaraan yang hakiki, adalah hadits:

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ قَالَ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ قَالَ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَيَقُولُ إِنِّي أُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضْهُ قَالَ فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضُوهُ قَالَ فَيُبْغِضُونَهُ ثُمَّ تُوضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِي الْأَرْضِ

Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Dia akan memanggil Jibril dan berfirman: Sesungguhnya Aku mencintai fulaan, maka cintailah dia. Maka Jibrilpun mencintai dia kemudian berseru di langit dan berkata: Sesungguhnya Allah mencintai Fulaan, maka cintailah dia. Maka para penduduk langitpun mencintainya. Kemudian diletakkanlah penerimaan di muka bumi. Dan jika Allah membenci seorang hamba Allah akan memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku membenci Fulaan, maka bencilah dia. Maka Jibrilpun membencinya. Kemudian Jibril berseru pada penduduk langit (Malaikat): Sesungguhnya Allah membenci Fulaan, maka bencilah dia. Kemudian diletakkanlah kebencian (untuknya) di muka bumi (H.R alBukhari dan Muslim, sedangkan lafadznya berdasarkan riwayat Muslim no 4772).

 

Sifat Berbicara (Kalam) adalah Sifat Kesempurnaan. Ketidakmampuan berbicara adalah kekurangan.

Allah cela sebagian orang musyrikin dengan menunjukkan kekurangan-kekurangan pada sesembahannya. Salah satu kekurangan itu karena mereka tidak bisa berbicara. Allah menyatakan tentang sesembahan patung kaum Nabi Musa:

وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيهِمْ سَبِيلًا اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ

Dan kaum Musa, setelah (kepergian Musa) membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang dzhalim (Q.S al-A’raaf:148)

أَفَلَا يَرَوْنَ أَلَّا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلًا وَلَا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka (tidak bisa berbicara), dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan? (Q.S Thoha: 89).

 

Nabi Ibrahim juga mendebat kaumnya dan mengajak mereka berpikir, mengapa mereka mau menyembah patung yang penuh dengan kekurangan. Salah satunya tidak bisa berbicara. Silakan tanya pada patung kalian jika memang ia berbicara:

قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآَلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ (62) قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ (63)

Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap sesembahan-sesembahan kami, hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara“(Q.S al-Anbiyaa’:62-62).

(Abu Utsman Kharisman)