KAJIAN KITABUT TAUHID (2)

KAJIAN KITABUT TAUHID (2)

Beritahu yang lain

Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Di Tulis Oleh al Ustadz Abu Utsman Kharisman

BAB PERTAMA

TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA

Dalil Ketiga:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan Tuhanmu telah menetapkan agar kalian tidaklah beribadah kecuali hanya kepadaNya dan hendaknya berbuat baik kepada kedua orangtua (Q.S al-Israa’:23)

Penjelasan Dalil Ketiga:

Di dalam potongan ayat ini, Allah memerintahkan kepada kita pada 2 hal, yaitu:

1.Tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah (tauhid).

2.Berbuat baik kepada kedua orangtua.

Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang menggandengkan penyebutan perintah mentauhidkan Allah dan tidak berbuat kesyirikan, kemudian menunaikan hak orangtua. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut ini:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan ketika Kami mengambil perjanjian kepada Bani Israil agar janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada Allah dan berbuat baik kepada kedua orangtua (Q.S al-Baqoroh: 83).

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan sembahlah Allah dan jangan berbuat kesyirikan kepadaNya dengan suatu apapun dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua (Q.S anNisaa’:36)

Hal itu menunjukkan bahwa hak orangtua bagi anak adalah sangat besar. Maka janganlah seorang anak yang berusaha mentauhidkan Allah mendurhakai orangtuanya.

Namun, seorang anak jika diperintah untuk bermaksiat kepada Allah, tidak boleh ia mengikuti perintah itu. Ia tinggalkan perintah itu, namun dalam hal lain ia tetap berbuat baik dan tidak durhaka kepadanya.

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ

Tidak ada ketaatan (kepada siapapun) dalam hal bermaksiat kepada Allah (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Ali, dengan lafadz riwayat Muslim)

Apalagi jika ia diperintah oleh orangtuanya untuk berbuat kesyirikan, maka jelaslah ia harus mendahulukan ketaatan kepada Allah, tidak boleh ia taati perintah orangtuanya dalam hal kesyirikan, namun tetap menjalin hubungan baik dengan orangtua dan mentaatinya dalam urusan duniawi yang lain yang tidak mengandung dosa.

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Dan jika mereka berdua (orangtua) memaksamu untuk mensekutukan Aku dalam hal yang engkau tidak memiliki ilmu padanya, janganlah mentaati keduanya. Dan tetaplah menjalin hubungan baik kepada keduanya dalam urusan duniawi (Q.S Luqman: 15)