AMPUNAN DAN RAHMAT BAGI YANG BERTAUBAT

AMPUNAN DAN RAHMAT BAGI YANG BERTAUBAT

Beritahu yang lain

Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Allah Azza Wa Jalla berfirman:

كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوْءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُوْرٌ رَّحِيم

“ Dialah Allah Yang Mewajibkan bagi DiriNya Sendiri untuk bersikap rahmat. Barangsiapa di antara kalian yang beramal keburukan dengan kejahilan kemudian bertaubat setelahnya dan berbuat baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “(Q.S Al-An’aam : 54)

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan makna ayat ini : “Tidaklah Allah menutup ayat dengan kalimat ini kecuali orang-orang yang bertaubat akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Ini adalah termasuk rahmatNya yang Ia wajibkan untuk DiriNya sendiri. Padahal sebenarnya sudah merupakan keadilan kalau seseorang berdosa diadzab sesuai dengan dosanya, dan dibalas sesuai dengan perbuatan baiknya. (Misalkan), kalau seandainya seseorang melakukan perbuatan dosa selama 50 hari, kemudian bertaubat dan berbuat baik 50 hari, sudah termasuk adil kalau seandainya Allah mengadzabnya untuk yang 50 hari dan memberinya pahala untuk yang 50 hari. Tetapi Allah Azza Wa Jalla mewajibkan DiriNya sendiri untuk bersikap rahmat. (Maka dengan itu) seluruh dosa yang dilakukan selama 50 hari bisa dihilangkan hanya sesaat (dengan taubat). Kemudian Allah tambah :

فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ (الفرقان :70)

“ Maka mereka itu adalah orang-orang yang Allah ganti keburukan-keburukannya dengan kebaikan – kebaikan “(Q.S AlFurqon : 70)

Seluruh keburukan-keburukan sebelumnya menjadi kebaikan-kebaikan, karena setiap kebaikan tersebut adalah taubat dan setiap taubat akan mendapatkan pahala (Syarh al-Aqiidah al-Waasithiyyah karya Syaikh Muhammad Ibn Sholih al-Utsaimin juz 1 hal 252)

(dikutip dari buku “Memahami Makna Bacaan Sholat”, Abu Utsman Kharisman)