Beranda Fatwa-Fatwa PENJELASAN SYAIKH IBN UTSAIMIN TENTANG BERDZIKIR DAN BERDOA BERSAMA SETELAH SALAT

PENJELASAN SYAIKH IBN UTSAIMIN TENTANG BERDZIKIR DAN BERDOA BERSAMA SETELAH SALAT

29
0
BERBAGI

Penerjemah: Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

Pertanyaan: Apakah hukum syar’i menurut pandangan anda dalam hal doa berjamaah setelah pelaksanaan salat?

Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah:

Berdoa secara berjamaah setelah pelaksanaan salat bukanlah sunnah Rasul shollallahu alaihi wasallam dan para Khulafaur Rasyidin. Bukan pula sunnah para Sahabat radhiyallahu anhum. Itu adalah perbuatan yang diada-adakan.

Telah tersebutkan (hadits) dari Nabi shollallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ

Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khalifah yang mendapat petunjuk lagi terbimbing. Berpegang teguhlah dengannya. Gigit kuat-kuat dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah, jauhilah hal-hal yang diada-adakan. Karena setiap hal yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah << H.R Abu Dawud dan lainnya, lafadz sesuai riwayat Abu Dawud >>

Nabi shollallahu alaihi wasallam juga jika berkhutbah, memerah mata beliau dan terdengar keras suara beliau, seakan-akan beliau sangat marah. Bagaikan seseorang yang memberikan komando kepada pasukan. Beliau menyatakan: Bersiagalah di pagi dan sore hari kalian. Beliau juga bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَة

Amma Ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik berita adalah Kitab Allah. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan. Setiap kebid’ahan adalah sesat << H.R Muslim dari Jabir >>

Berdoa secara berjamaah atau berdzikir secara berjamaah setelah salat adalah hal yang diada-adakan dan termasuk bid’ah. Setiap kebid’ahan adalah sesat. Yang disyariatkan bagi seorang yang salat adalah (memperbanyak) doa sebelum salam. Karena ini adalah tempat berdoa yang dibimbing oleh Nabi shollallahu alaihi wasallam berdasarkan hadits yang shahih dari hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu ketika menyebutkan (bacaan yang disunnahkan) dalam tasyahhud:

ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنْ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ

Kemudian (setelah selesai tasyahhud itu) silakan ia pilih doa permintaan yang dikehendakinya << H.R Muslim dan Ahmad, lafadz sesuai riwayat Muslim >>

Itu menunjukkan bahwasanya tempat berdoa adalah di akhir salat (sebelum salam), bukan setelahnya. Demikian pula yang sesuai dengan pandangan yang shahih. Bahwa semestinya seseorang (banyak) berdoa dalam salat, sebelum selesainya. Lebih utama dilakukan di waktu itu saat ia di hadapan Allah, dibandingkan ia berdoa setelah salatnya.

Sedangkan yang disyariatkan untuk dilakukan setelah salat wajib adalah berdzikir (bukan berdoa, pent). Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

فَإِذَا قَضَيْتُمْ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

Jika kalian telah menyelesaikan salat, berdzikirlah (mengingat) Allah dalam kondisi berdiri, duduk, maupun berbaring (Q.S anNisaa’ ayat 103)

Sebagaimana hal itu adalah petunjuk Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Disyariatkan juga untuk mengeraskan dzikir karena itulah yang dikenal di masa Nabi shollallahu alaihi wasallam sebagaimana shahih dalam riwayat al-Bukhari dari hadits Ibnu Abbas :

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Sesungguhnya mengangkat suara saat berdzikir setelah selesainya manusia melakukan salat wajib, dilakukan di masa Nabi shollallahu alaihi wasallam << H.R al-Bukhari dan Muslim >>

Kecuali jika di sampingmu ada seseorang yang masih menunaikan salat dan dikhawatirkan menimbulkan gangguan padanya. Dalam kondisi seperti itu mestinya engkau melirihkan suaramu sehingga tidak mengganggu saudaramu. Karena menimbulkan suara yang ramai (mengacaukan konsentrasi) terhadap orang lain adalah sesuatu yang mengganggu.

Nabi shollallahu alaihi wasallam ketika mendengar para Sahabatnya salat di masjid mengeraskan suara, beliau melarang mereka berbuat demikian. Beliau bersabda:

وَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

Dan janganlah sebagian kalian mengeraskan bagian terhadap sebagian yang lain dalam membaca alQuran << H.R Ahmad >>

Dalam hadits yang lain disebutkan:

فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

Janganlah sebagian dari kalian mengganggu sebagian yang lain << H.R anNasaai, al-Hakim >>

Nabi shollallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa mengeraskan bacaan jika di sekelilingnya ada yang terganggu dengan itu tidaklah diperbolehkan.

Kesimpulannya, setelah selesai salat adalah tempat untuk berdzikir sedangkan sebelum salam di tasyahhud akhir adalah tempat (kesempatan) berdoa. Demikian pula yang disebutkan dalam sunnah bahwasanya dzikir setelah salat disyariatkan dikeraskan selama tidak mengganggu orang di sampingnya.

Wallaahu A’lam.

(Fataawa Nuurun ‘alad Darb (153/2))

Naskah Asli dalam Bahasa Arab:

السائل من جمهورية مصر العربية يقول في رسالته ما حكم الشرع في نظركم في الدعاء الجماعي بعد أداء الصلوات؟

فأجاب رحمه الله تعالى: الدعاء الجماعي بعد أداء الصلوات ليس من سنة الرسول صلى الله عليه وسلم ولا من سنة خلفائه الراشدين ولا من سنة الصحابة رضي الله عنهم وإنما هو عمل محدث وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال (عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة) وكان صلى الله عليه وسلم إذا خطب احمرت عيناه وعلا صوته واشتد غضبه حتى كأنه منذر جيش يقول صبحكم ومساكم ويقول أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة فهذا الدعاء الجماعي أو الذكر الجماعي بعد الصلوات محدث بدعة وكل بدعة ضلالة والمشروع في حق المصلى أن يدعو قبل أن يسلم لأن هذا هو محل الدعاء الذي أرشد إليه النبي عليه الصلاة والسلام حيث قال فيما صح عنه من حديث ابن مسعود رضي الله عنه حين ذكر التشهد قال (ثم يتخير من الدعاء ما شاء) وهو دليل على أن محل الدعاء آخر الصلاة وليس ما بعدها وهو كذلك الموافق للنظر الصحيح لأن كون الإنسان يدعو في صلاته قبل أن ينصرف من بين يدي الله أولى من كونه يدعو بعد صلاته والمشروع بعد الصلوات المفروضة الذكر كما قال الله تعالى (فَإِذَا قَضَيْتُمْ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ) وكما كان ذلك هدي رسول الله صلى الله عليه وسلم والمشروع أيضاًَ أن يجهر بهذا الذكر لأن هذا هو المعروف في عهد النبي صلى الله عليه وسلم كما صح ذلك في البخاري من حديث ابن عباس رضي الله عنهما قال كان رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من الذكر على عهد النبي صلى الله عليه وسلم اللهم إلا إذا كان بجانبك رجل يقضي صلاته وتخشى أن تشوش عليه ففي هذه الحال ينبغي عليك أن تسر بقدر ما لا تشوش على أخيك لأن التشويش على الغير إيذاء له ولهذا لما سمع النبي صلى الله عليه وسلم أصحابه يصلون في المسجد ويجهرون نهاهم عن ذلك وقال (لا يجهر بعضكم على بعض في القرآن) وفي حديث آخر قال لا (يؤذين بعضكم بعضاً في القراءة) فبين النبي صلى الله عليه وسلم أن جهر الإنسان بالقراءة إذا كان حوله من يتأذى به لايجوز والخلاصة أن ما بعد الصلاة موضع ذكر وما قبل السلام في التشهد الأخير موضع دعاء هكذا جاءت به السنة وأن الذكر الذي يكون بعد الصلاة يشرع الجهر به ما لم يتاذى به من بجانبه والله أعلم.