Beranda Tafsir TADABBUR QURAN SURAT AL-KAHFI AYAT 15-16

TADABBUR QURAN SURAT AL-KAHFI AYAT 15-16

40
0
BERBAGI

Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

✅Ayat Ke-15 Surat al-Kahfi

هَؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آَلِهَةً لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

Kaum kita ini mereka telah menjadikan sesembahan selain Allah. Mengapa mereka tidak mendatangkan hujjah yang jelas.Siapakah yang lebih dzhalim dibandingkan orang yang mengada-adakan kedustaan atas nama Allah (Terjemahan Ayat)

Sebagian orang selalu mencibir pihak yang mendakwahkan Tauhid dan Sunnah dengan mengatakan:Mereka selalu menyalah-nyalahkan orang. Seakan-akan mereka sendiri yang benar. Tidak boleh orang itu menyalahkan keadaan masyarakatnya…

Itu adalah sikap yang tidak benar. Terbukti yang dilakukan oleh Ash-haabul Kahfi mereka kokoh menyampaikan al-haq bahwa Allah satu-satunya yang berhak diibadahi. Kemudian Ash-haabul Kahfi menyoroti penyimpangan yang terjadi pada kaumnya. Menganggap kaumnya telah melakukan kedzhaliman yang paling besar dengan mengada-adakan kedustaan atas nama Allah yaitu beribadah kepada selain Allah.

Bagi pihak yang mencibir dakwah Tauhid dan Sunnah itu mereka secara tidak langsung akan menganggap Ash-haabul Kahfi itu benar sendiri dan menyalah-nyalahkan orang lain.

Tentunya dakwah kepada Tauhid dan Sunnah harus disampaikan secara hikmah. Ketegasan dalam bersikap bukanlah identik dengan kekerasan. Tapi kokoh memegang prinsip, tidak akan berubah, meski itu disampaikan dengan kelembutan, ketika kondisi dan keadaan mengharuskan bersikap dengan kelembutan.

Pada ayat ini juga disebutkan bahwa perbuatan kesyirikan yang dilakukan oleh kaum Ash-haabul Kahfi tidaklah didasarkan pada hujjah yang jelas. Demikian juga segala macam bentuk kesyirikan sama sekali tidak pernah berdasarkan hujjah yang kokoh. Hanya saja kemasan-kemasan manis yang membungkusnya sering menipu kaum muslimin. Kemasan-kemasan itu adalah seperti cinta kepada orang shalih, penghormatan kepada Nabi, dan lain sebagainya. Dalih-dalih dan kemampuan bersilat lidah serta mengolah kata sering mengesankan itu bagaikan dalil yang kuat, padahal sebenarnya hanya tipu daya belaka.

✅Ayat Ke-16 Surat al-Kahfi

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرفَقًا

dan jika kalian (wahai para pemuda) akan menjauhi mereka (kaum musyrik) dan segala yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke dalam sebuah gua. Niscaya Rabb kalian akan melimpahkan rahmatNya kepada kalian dan Dia akan memudahkan urusan kalian pada hal-hal yang bermanfaat bagi kalian (Terjemahan Ayat)

Kata mirfaqo maknanya adalah hal-hal yang bermanfaat.

Ayat ini mengisyaratkan bahwa kaum Ash-haabul Kahfi itu juga menyembah Allah, namun selain menyembah Allah mereka juga menyembah berhala-berhala (lihat penjelasan Tafsir al-Baghowy –salah seorang Ulama Syafiiyyah-).

Dalam ayat ini disebutkan ucapan Ash-haabul Kahfi sebagai ucapan internal mereka bahwa jika kalian akan meninggalkan kaum musyrik dan segala yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke dalam sebuah gua, niscaya Allah akan merahmati kalian (dengan perlindunganNya), dan Allah akan memudahkan hal-hal yang mencukupi kebutuhan kalian.

Ash-haabul Kahfi tersebut melakukan perbuatan lari (menjauh) dari fitnah, serta tidak menyandarkan pada kekuatan mereka, namun bertawakkal kepada Allah (disarikan dari Tafsir as-Sa’di). Salah satu bentuk ketawakkalan mereka adalah keyakinan bahwa Allah akan memudahkan segala hal yang mereka butuhkan dalam hidup. Padahal di dalam gua secara asal akan sulit didapatkan hal-hal untuk bertahan hidup. Mereka juga tidak membawa bekal atau peralatan yang banyak, hanya berbekal dengan uang yang dibawa.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa sikap orang beriman dalam meninggalkan kaumnya yang musyrik dan sesembahan selain Allah akan mendatangkan kelembutan dan rahmat Allah. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim alaihissalam yang meninggalkan kaumnya dan sesembahan mereka karena Allah:

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلّاً جَعَلْنَا نَبِيّاً وَوَهَبْنَا لَهُمْ مِنْ رَحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيّاً

Ketika dia (Nabi Ibrahim) meninggalkan mereka dan yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya’qub. Semuanya kami jadikan sebagai Nabi. Dan kami anugerahkan bagi mereka dari rahmat Kami dan Kami jadikan untuk mereka penyebutan (pujian) yang tinggi (pada umat setelahnya)(Q.S Maryam ayat 49-50) (faidah dalam Adh-waaul Bayaan, Tafsir karya Syaikh Muhammad al-Amiin asy-Syinqithiy)