Beranda Tafsir TADABBUR SURAT AL-KAHFI AYAT 6-8

TADABBUR SURAT AL-KAHFI AYAT 6-8

266
0
BERBAGI

Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

✅Ayat Ke-6 Surat al-Kahfi

فَلَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ إِن لَّمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ أَسَفًا

Terjemahan ayat: Janganlah engkau membinasakan dirimu dengan kesedihan (yang sangat) dengan membuntuti mereka ketika mereka tidak beriman dengan berita ini (al-Qur’an)

Makna kata “alaa aatsaarihim” pada ayat tersebut adalah mengikuti jejak-jejak mereka, membuntuti mereka dengan harapan mereka berubah pikiran menjadi beriman setelah sebelumnya ingkar dan menentang (disarikan dari penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin).

Rasulullah Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling bersemangat agar manusia mendapatkan petunjuk. Beliau juga sangat bersedih jika seseorang tidak mau menerima dan menentang nasehat, sebagai bentuk kasih sayang beliau yang sangat kepada umat. Maka Allah membimbing beliau untuk tidak terlalu bersedih jika ada orang-orang yang tidak mau beriman setelah tegak hujjah kepada mereka. Sebagaimana disebutkan dalam ayat yang lain:

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Janganlah engkau membinasakan dirimu jika mereka tidak mau beriman (Q.S asy-Syu’araa’ ayat 3)

Sesungguhnya hidayah hanyalah di Tangan Allah:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidaklah bisa memberi hidayah (taufiq) kepada orang yang engkau cintai (sekalipun), akan tetapi Allahlah yang memberi hidayah kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Dia Paling Mengetahui orang-orang yang (berhak) mendapatkan hidayah (Q.S al-Qoshosh ayat 56)

Ayat ini juga memberikan pelajaran kepada kita bahwa seseorang yang diperintah untuk berdakwah kepada manusia hendaknya ia berusaha semaksimal mungkin dengan menempuh berbagai sebab (yang syar’i) dalam menyampaikan hidayah kepada manusia dan menutup segala celah yang mengarahkan mereka pada kesesatan dengan bertawakkal kepada Allah. Jika mereka mendapat hidayah dengan sebab itu, maka itulah yang diharapkan, namun jika tidak, janganlah bersedih berlebihan karena hal itu tidaklah bermanfaat, justru akan melemahkan jiwa dan kekuatan kita. (Disarikan dari Tafsir as-Sa’di).

✅Ayat Ke-7 Surat al-Kahfi

إِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَى ٱلۡأَرۡضِ زِينَةٗ لَّهَا لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّهُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا

Terjemahan Ayat: Sesungguhnya Kami menjadikan yang di atas bumi perhiasan agar menguji mereka, siapakah di antara mereka yang paling baik amalannya

Allah memperindah dunia dengan perhiasan-perhiasan yang memikat untuk menguji manusia siapakah yang paling baik amalannya, yaitu paling ikhlas dan paling sesuai dengan tuntunan Rasul-Nya.

Segala hal yang indah di bumi adalah perhiasan dunia. Disebutkan dalam ayat lain perhiasan-perhiasan itu adalah wanita, anak, emas, perak, binatang ternak atau kendaraan yang indah, lahan pertanian, maupun segala macam bentuk harta.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ

Diperindah (dihiasi) pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dan menjadi simpanan dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itu adalah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (Surga) (Q.S Aali Imran ayat 14)

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

Harta dan anak adalah perhiasan kehidupan dunia, dan amal sholih yang kekal lebih baik di sisi Rabbmu sebagai balasan dan harapan yang terbaik (Q.S al-Kahfi ayat 46)

وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً

dan kuda, bighal, keledai agar kalian tunggangi dan sebagai perhiasan (Q.S anNahl ayat 8)

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاء

Sesungguhnya dunia manis (dirasa) dan hijau (indah dipandang). Sesungguhnya Allah mempergantikan kehidupan kalian generasi ke generasi, kemudian Allah melihat apa yang kalian perbuat. Bertakwalah kepada Allah terhadap dunia dan bertakwalah terhadap wanita, karena sesungguhnya awal fitnah Bani Israil adalah pada wanita (H.R Muslim dari Abu Said al-Khudriy). Hadits ini disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir.

Allah tidak menyatakan: “siapakah yang paling banyak amalannya”. Karena yang dinilai adalah siapa yang amalannya paling baik bukan siapa yang paling banyak amalannya. Jika ada seseorang yang sholat 4 rokaat, namun tidak dengan yakin, dan pada sholatnya banyak hal yang tidak sesuai tuntunan syar’i. Sebaliknya, ada yang sholat 2 rokaat dengan yakin (khusyu’) dan sesuai tuntunan Nabi. Manakah yang terbaik? Jelas yang sholat 2 rokaat itu, meski jumlah rokaatnya lebih sedikit dibandingkan orang sebelumnya (disarikan dari penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin).

✅Ayat Ke-8 Surat al-Kahfi

وَإِنَّا لَجَٰعِلُونَ مَا عَلَيۡهَا صَعِيدٗا جُرُزًا

Terjemahan Ayat: dan sesungguhnya Kami akan menjadikan apa yang ada di atasnya (bumi) adalah tanah yang kering (tandus)

Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa setelah sebelumnya Allah perindah apa yang ada di atas bumi, Allah akan jadikan bumi sebagai tanah yang tandus kering, segala perhiasan itu akan lenyap binasa tak berbekas.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menyatakan:

Bumi akan menjadi tanah yang tandus, telah pergi kelezatan yang ada padanya. Terputuslah sungai-sungainya. Telah larut (sirna) bekas-bekasnya. Hilang kenikmatan-kenikmatannya. Inilah hakikat dunia.

Allah telah menerangkannya kepada kita (dengan sangat jelas) seakan-akan kita melihatnya dengan mata kepala (langsung). Allah memperingatkan kita agar tidak tertipu dengannya. Allah berikan motivasi kepada kita kepada kampung yang akan kekal kenikmatannya, yang berbahagia penghuninya. Semua itu adalah sebagai bentuk kasih sayangNya kepada kita.

Orang-orang yang melihat kepada dzhahir/ lahiriah dunia bukan kepada batinnya, akan terperdaya dengan perhiasan dan keindahannya. Maka ia akan hidup di dunia bagaikan hidupnya binatang ternak. Ia nikmati dunia bagaikan hewan-hewan menikmatinya. Mereka tidak memperhatikan hak Rabbnya, tidak peduli akan pengenalan terhadapNya. Justru ambisi mereka untuk mengikuti keinginan (syahwat/ hawa nafsu), dengan berbagai segi yang bisa dicapai, dalam berbagai keadaan yang bisa didapat. Orang-orang tersebut jika menjelang meninggal dunia, ia sangat bersedih karena dzatnya (dunianya) telah runtuh, telah terlewatkan kesenangan-kesenangannya, bukan karena menyesali kekurangtaatan ataupun (banyaknya) dosa-dosa.

Sedangkan barangsiapa yang melihat kepada batin dunia, ia akan mengetahui tujuan (dari penciptaan) dunia dan dirinya. Ia ambil bagian dari dunia (sekadar) mampu menolong dia melakukan (tujuan) penciptaannya (beribadah). Ia gunakan kesempatan dalam usianya yang mulya. Ia jadikan dunia bagian tempat tinggal persinggahan (sementara), bukan tempat (mengumbar) kegembiraan, (ia jadikan dunia) sebagai tempat safar, bukan tempat menetap. Maka ia kerahkan segenap upayanya untuk mengenal Rabbnya, menjalankan perintahNya, memperbaiki amalannya. Ini adalah sebaik-sebaik kedudukan di sisi Allah. Ia berhak mendapatkan segenap pemulyaan dan kenikmatan, kegembiraan dan penghormatan. Orang semacam ini melihat kepada batin dunia, saat orang-orang lain yang terperdaya melihat kepada dzhahir dunia. Orang-orang ini beramal untuk akhiratnya, saat para penganggur bekerja untuk dunianya. Maka sungguh jauh (perbandingan) antara 2 kelompok itu, sungguh berbeda 2 pihak itu (Taysiir Kariimir Rohmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan)