Beranda Kisah Islamnya Beberapa Tokoh Quraisy (Fat-hu Makkah 4)

Islamnya Beberapa Tokoh Quraisy (Fat-hu Makkah 4)

13283
0
BERBAGI

 Oleh  Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Makkah sudah takluk. Penduduknya sedang menanti keputusan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka mulailah hati para pemimpin Quraisy berpikir tentang Islam. Perlahan-lahan, Islam mulai menembus jantung hati mereka.

Islamnya Abu Sufyan bin AlHarits

Di Abwa’ sebelum memasuki Makkah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan ‘Abdullah bin Abi Umayyah dan Abu Sufyan bin Al-Harits. Tapi beliau berpaling dari mereka berdua mengingat betapa hebatnya permusuhan dan kejahatan mereka terhadap beliau dan kaum muslimin.

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata kepada beliau: “Janganlah sampai putra paman dan bibi anda menjadi orang yang paling celaka karena anda.”

Sementara itu, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Abu Sufyan: “Datangilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari depan. Berkatalah kepada beliau seperti perkataan saudara-saudara Nabi Yusuf ‘Alahissalam:

تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِن كُنَّا لَخَاطِئِينَ

“Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” (Yusuf: 91)

Karena beliau tidak suka ada yang lebih baik perkataannya dari beliau.”

Abu Sufyan melakukan hal itu. Maka Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata (membacakan ayat 92):

 لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf: 92)

 Setelah itu Abu Sufyan melantunkan syairnya:

Demi umurmu, sungguh ketika aku membawa bendera

            Agar prajurit Latta mengalahkan tentara Muhammad

Bagai orang Mudlij yang kebingungan diselimuti kegelapan malam

            Inilah waktuku ketika hidayah datang lalu aku menyambutnya

Aku diberi hidayah oleh Haadi (Sang Pemberi hidayah) bukan diriku, dan aku ditunjuki

            Kepada Allah, oleh dia yang dahulu kuusir dengan sebenar-benarnya

Mendengar ini Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam memukul dadanya sambil berkata: “Engkaulah yang telah mengusirku dengan sebenar-benarnya.”

Sejak saat itu baiklah Islamnya. Bahkan dikisahkan, belum pernah dia mengangkat kepala menatap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena merasa malu. Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam pun mencintai beliau dan mempersaksikannya akan masuk surga. Kata beliau: “Saya harap dia menjadi pengganti Hamzah.”

Ketika wafatnya, Abu Sufyan berkata kepada keluarganya: “Janganlah kalian tangisi aku. Karena demi Allah, aku tidak pernah berbuat dosa sejak aku masuk Islam.”

Demikianlah ketika tauhid itu tertanam kokoh di dalam hati seseorang. Apalagi bila diikrarkan dengan penuh keyakinan dan kejujuran yang sempurna, niscaya tidak mungkin orang yang mengucapkan kalimat tauhid itu mudah untuk terjatuh dalam perbuatan dosa atau terus-menerus berbuat dosa. Semoga Allah l meridhai Abu Sufyan bin Al-Harits, sepupu dan saudara sesusuan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Islamnya Suhail bin ‘Amr

Suhail bin ‘Amr adalah salah seorang pemuka dan orator ulung bangsa Quraisy. Dialah yang selama ini menghasut manusia agar menyerang dan memerangi kaum muslimin dengan segenap kekuatan. Pedasnya ucapan Suhail benar-benar menyakiti kaum muslimin. Sampai-sampai ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ketika melihatnya tertawan dalam perang Badr meminta izin kepada Nabi n: “Biarkan saya patahkan dua gigi serinya, agar dia tidak dapat lagi berpidato menyerang kita (dengan ucapannya).” Tapi Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengatakan: “Biarlah. Mungkin suatu ketika gigi itu akan membuatmu senang.”

Akhirnya, Suhail tetap dibiarkan hidup memerangi Islam dan kaum muslimin dengan dua senjata, pedang dan lisannya. Tibalah peristiwa Hudaibiyah yang sudah kita ceritakan. Tatkala datang Suhail bin ‘Amr sebagai delegasi Quraisy, dan Nabi n berkata dengan optimis: “Sungguh urusan kalian benar-benar telah menjadi mudah. Mereka sungguh-sungguh ingin berdamai ketika mengutus orang ini.”

Ketika itu Quraisy sudah menyatakan kepada Suhail: “Datangi Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam), ajaklah dia berdamai. Hendaknya dia kembali tahun ini. Jangan sampai bangsa ‘Arab mengatakan kalau dia masuk tahun ini, kita telah dikalahkan Muhammad (n).”

Dibuatlah perjanjian sebagaimana disebutkan dalam kisah Hudaibiyah beberapa edisi lalu.

Suhail tetap menampakkan sikap permusuhannya terhadap Islam sampai terjadinya Fathu Makkah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki Baitullah, lalu keluar dan bertelekan di pintu Ka’bah seraya berkata: “Apa yang akan kalian katakan?”

Maka berkatalah Suhail bin ‘Amr: “Kami hanya mengatakan yang baik, dan menyangka sesuatu yang baik. (Anda) saudara yang mulia, putra saudara yang mulia dan anda menang.”

Kata beliau: “Saya hanya katakan kepada kalian sebagaimana ucapan Nabi Yusuf kepada para saudaranya (sebagaimana firman-Nya):

 لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ

“Tiada celaan atas kalian pada hari ini.”

Pergilah. Kalian semua bebas.”

Mendengar ini, luluhlah hati Suhail dan orang-orang yang bersamanya, dalam keadaan malu, segan melihat pekerti agung Nabi n dan kasih sayangnya yang membuat akal manusia terbang keheranan. Lidah pun kelu, tak mampu berucap sepatah kata pun.

Mulailah bersemi rasa cinta di dalam hati Suhail kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tumbuh pula kecondongannya kepada Islam. Dia pun datang kepada putranya Abu Jandal agar memintakan jaminan keamanan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya jaminan keamanan. Setelah itu, Suhail ikut berangkat menuju Hunain bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan masih musyrik, sampai dia masuk Islam di Ji’ranah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya waktu itu seratus ekor unta dari ghanimah Hunain. Semakin bertambah rasa takluk dan malu dalam hati Suhail.

Tak lama, Islam mulai tumbuh mekar dalam hati Suhail, hingga dia berusaha sekuat tenaga mengganti apa-apa yang pernah hilang darinya. Hatinya setiap saat merasa teriris-iris ketika mengingat betapa jauhnya dia selama ini dari ketaatan kepada Allah Subhanahuwata’ala. Keras kepala, kesombongan, dan peperangan sungguh-sungguh telah membuat mereka buta. Setelah tabir itu tersingkap, tampaklah hakikat iman di depan mata mereka, bahkan diresapi oleh hati-hati mereka.

Beberapa sahabat dan orang-orang yang datang sesudah mereka mempersaksikan: “Tidak ada satu pun pembesar Quraisy yang terlambat masuk Islam, lalu masuk Islam ketika Fathu Makkah, yang lebih banyak shalatnya, puasanya, dan sedekahnya daripada Suhail. Bahkan tidak ada yang lebih semangat terhadap hal-hal yang mendukung kepada akhirat dibandingkan Suhail bin ‘Amr.”

Bahkan diceritakan, warna kulitnya berubah dan dia sering menangis ketika membaca Al-Qur’an.

Pernah terlihat, dia selalu menemui Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang ditugasi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari penduduk Makkah tentang syariat Islam. Lalu ada yang berkata kepadanya: “Kamu mendatangi Mu’adz? Mengapa engkau tidak mendatangi salah seorang dari Quraisy untuk mengajarimu?”

Suhail menukas: “Inilah yang telah melakukan apa yang diperbuatnya terhadap kami??? sehingga mengalahkan kami. Demi umurku, aku selalu mendatanginya. Islam telah menghinakan sikap-sikap jahiliah. Allah mengangkat dengan Islam ini suatu kaum yang sama sekali tidak terkenal di masa jahiliah. Duhai kiranya kami bersama mereka, dan kami juga mendahului.”

Itulah keikhlasan. Itulah keimanan, ketika menghunjam di dalam hati. Karena hakikat ikhlas adalah terdorongnya hati kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan bertaubat dari segala dosa dengan taubat nasuha.

Suhail terus melangkah. Menelusuri jalannya menuju surga Ar-Rahman dan untuk menebus apa yang luput darinya. Dialah yang mengucapkan kata-kata yang terkenal ini: “Demi Allah. Saya tidak akan biarkan satu tempat pun yang di situ saya berada bersama kaum musyrikin melainkan saya berada di sana bersama kaum muslimin seperti itu juga. Tidak ada satu pun nafkah yang dahulu saya serahkan bersama kaum musryikin melainkan saya infakkan pula kepada kaum muslimin yang serupa dengannya. Mudah-mudahan urusanku dapat menyusul satu sama lainnya.”

Setelah Nabi n wafat, beberapa kabilah mulai murtad dari Islam, bahkan penduduk Makkah mulai goyah. Bangkitlah Suhail mengingatkan bangsanya: “Wahai penduduk Makkah. Kamu adalah manusia yang paling akhir masuk ke dalam agama Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam), maka janganlah kamu menjadi orang pertama yang keluar darinya….”

Kemudian dia melanjutkan: “Siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) sudah wafat. Siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak akan pernah mati.”

Mungkin inilah rahasianya, mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu melarang ‘Umar bin Al-Khaththab mematahkan gigi seri Suhail. Dikisahkan, ‘Umar pun tersenyum mendengar berita pembelaan Suhail terhadap Islam ini.

Suhail tetap teguh di atas kebaikan dan keimanan. Bertambah banyak shalat dan puasa serta sedekahnya. Dia senantiasa menangis ketika membaca Kitab Allah Subhanahuwata’ala. Bahkan dia sengaja berangkat menuju negeri Syam sebagai mujahid memerangi musuh-musuh Allah Subhanahuwata’ala. Ketika di Yarmuk, di mana ia bertugas sebagai amir (gubernur) negeri Kurdus, dia tetap berjaga di perbatasan muslimin, sambil mengingat hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

 مَقَامُ أَحَدِكُم فِى سَبِيْلِ اللهِ سَاعَةً مِنْ عُمْرِهِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ عُمْرَهُ فِى أَهْلِهِ

“Posisi salah seorang dari kamu di jalan Allah satu saat saja dari usianya, lebih baik dari amalannya seumur hidup ketika dia bersama keluarganya.”

Kata Suhail: “Saya akan tetap berjaga di perbatasan (ribath) sampai mati dan tidak akan kembali lagi ke Makkah.”

Suhail tetap berada di posnya sampai meninggal dunia karena wabah penyakit tha’un. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ ِلكُلِّ مُسْلِمٍ

“Wabah tha’un adalah syahadah setiap muslim.”

Semoga Allah Subhanahuwata’ala meridhai Suhail bin ‘Amr.

Islamnya AlHarits bin Hisyam

Adapun Al-Harits bin Hisyam. Dia tetap memerangi kaum muslimin, sampai Fathu Makkah. Ketika tahu bahwa dia termasuk orang pertama yang dicari (untuk dibunuh), maka dia meminta jaminan keamanan kepada Ummu Hani’ bintu Abi Thalib, lalu Ummu Hani’ melindunginya. Tapi saudaranya (‘Ali, Ja’far, atau ‘Aqil) ingin membunuhnya. Ummu Hani’ segera mengadukan hal ini kepada Nabi n sambil berkata: “Si Fulan –saudaranya– menganggap aku tidak berhak memberi jaminan.” Kata Nabi n: “Kami melindungi orang yang engkau lindungi, wahai Ummu Hani’.”

Al-Harits bin Hisyam semakin jengkel melihat kekalahan Quraisy, dan berkata: “Duhai kiranya aku mati sebelum kejadian ini dan tidak menyaksikan peristiwa ini.”

Ketika dikatakan kepadanya: “Tidakkah kau lihat apa yang diperbuat Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam)? Dia menghancurkan sesembahan-sesembahan itu?!”

Kata Al-Harits: “Kalau Allah tidak suka, pasti Dia akan mengubahnya.”

Setelah mereka dibebaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mulai hati para pembesar Quraisy memikirkan Islam. Al-Harits termasuk yang masuk Islam saat itu.

Kemudian setelah usai perang Hunain, Nabi n membujuk hati tokoh-tokoh Quraisy tersebut dengan memberi mereka seratus ekor unta. Hal ini semakin menghancurkan duri-duri permusuhan dan sikap keras kepala mereka. Lalu perlahan tapi pasti Islam mulai merambah hati-hati yang mulai tunduk dan melembut itu. Akhirnya bersemilah Islam di dada Al-Harits bin Hisyam, bahkan sangat baik Islamnya.

Pada masa pemerintahan ‘Umar, Al-Harits berangkat pindah menuju negeri Syam, sebagai mujahid. Hingga terjadilah peristiwa bersejarah di Yarmuk. Ketika itu ‘Ikrimah bin Abi Jahl radhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapa yang mau berbai’at untuk mati?”

Maka berbai’atlah duaratus orang untuk mati syahid di jalan Allah Subhanahuwata’ala. Mereka menerobos ke jantung pertahanan musuh, hingga gugur satu persatu di permukaan bumi, sementara arwah mereka menuju langit tinggi. Di antara mereka ada Al-Harits bin Hisyam.

Yarmuk menjadi saksi bisu bagaimana tentara tauhid membela agama Allah Subhanahuwata’ala, meninggikan Kalimat-Nya. Jumlah yang tidak seimbang, tidak membuat gentar hati-hati yang sudah terisi kokoh dengan kalimat tauhid. Memang, mereka bukan berperang karena jumlah dan kekuatan fisik. Pasukan salibis dipukul mundur oleh para pembela panji tauhid dengan kekalahan yang sangat memalukan dan menimbulkan dendam hingga berabad-abad lamanya.

Sejarah mencatat sikap kepribadian Al-Harits yang agung ketika dia mendahulukan kepentingan orang lain sebelum beliau mati sebagai syahid. Ketika datang seorang prajurit muslim hendak memberinya minum –di saat-saat kritisnya– lalu dia mendengar erangan saudaranya ‘Ikrimah, dia pun meminta agar air itu dibawa kepada ‘Ikrimah. Prajurit itu membawakan air untuk diminumkan kepada ‘Ikrimah, tapi ‘Ikrimah mendengar pula erangan ‘Ayyasy bin Rabi’ah, dia pun mengisyaratkan agar air dibawa kepada ‘Ayyasy. Tetapi, ketika mereka sampai di tempat ‘Ayyasy, ternyata dia sudah gugur sebagai syahid. Prajurit itu kembali kepada ‘Ikrimah, ternyata ‘Ikrimah pun telah wafat, lalu mereka kembali kepada Al-Harits, ternyata dia juga telah wafat.

Benarlah kata mereka (para thulaqa??? ini): “Kalau di dunia kita dikalahkan oleh mereka (sahabat yang lebih dahulu masuk Islam), maka di akhirat kita bergabung bersama mereka.” Itu bukan sekadar ucapan belaka. Semoga Allah Subhanahuwata’ala meridhai mereka.

Islamnya Shafwan bin Umayyah

Shafwan yang diamuk dendam kesumat karena kematian ayahnya Umayyah bin Khalaf seakan tak pernah tidur memikirkan bagaimana membalaskan dendam tersebut. Permusuhan dan kebenciannya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam membawanya kepada kesepakatan bersama ‘Umair bin Wahb.

Suatu hari dia bersama ‘Umair berbincang-bincang tentang korban perang Badr. Shafwan berkata: “Demi Allah, hidup ini tidak menyenangkan sepeninggal mereka.”

Kata ‘Umair: “Betul, demi Allah. Kalau bukan karena utang yang tak mampu kulunasi dan keluarga yang akan jadi tanggungan sepeninggalku, pasti aku datangi Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) untuk membunuhnya.”

Kemudian dia melanjutkan: “Aku katakan bahwa aku datang untuk menebus putraku yang ditawan oleh kalian.”

Mendengar ini, Shafwan segera menukas: “Utangmu jadi tanggunganku. Aku yang akan melunasinya. Keluargamu hidup bersama keluargaku, selama mereka masih hidup.”

Kata ‘Umair: “Kalau begitu, rahasiakan hal ini.”

Setelah ‘Umair tiba di depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata kepadanya: “Berita apa yang kau bawa, hai ‘Umair?”

“Aku ingin menebus tawanan kalian ini,” katanya.

Nabi n bertanya pula: “Lalu untuk apa pedang di lehermu?”

Kata ‘Umair: “Semoga Allah membuatnya buruk. Apakah dia berguna bagi kami?”

Rasul berkata: “Jujurlah wahai ‘Umair, apa yang mendorongmu datang?”

“Tidak ada lain, selain urusan tawanan,” katanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Bahkan, kamu dan Shafwan bin Umayyah duduk di Hijr (Ismail) lalu kalian menyebut-nyebut korban Badr dari Quraisy lalu kau mengatakan: ‘Kalau bukan karena utangku dan keluarga yang jadi tanggungan, pasti aku datangi Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) untuk membunuhnya’, lalu Shafwan memberi jaminan untukmu akan melunasi utangmu dan menanggung keluargamu kalau engkau dapat membunuhku untuknya. Allah adalah Penghalang antara engkau dan keinginanmu.”

Saat itu juga, ‘Umair berseru: “Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah. Tidak ada yang mengetahui pembicaraan ini selain aku dan Shafwan. Demi Allah, tidak ada yang menyampaikannya kepadamu kecuali Allah. Segala puji bagi Allah yang telah memberiku hidayah kepada Islam.”

Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat agar mengajarinya agama dan Al-Qur’an serta membebaskan tawanannya (putra ‘Umair).

Sementara itu, di kota Makkah, berhari-hari Shafwan menunggu kedatangan ‘Umair dan dia menghibur bangsa Quraisy bahwa sudah ada orang yang siap membunuh Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam). Tinggal menunggu beritanya.

Meletuslah peristiwa Fathu Makkah, ‘Umair datang bersama tentara Allah l lainnya. Dia mencari Shafwan, mengajaknya masuk Islam. Tapi Shafwan lebih memilih lari meninggalkan Makkah.

Shafwan menuju Jeddah untuk naik sebuah kapal lalu berlayar ke Yaman. ‘Umair mengetahuinya, dia pun datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya Shafwan adalah pemuka kaumnya. Dia telah pergi karena takut kepadamu. Dia ingin menceburkan dirinya ke laut. Berilah dia jaminan keamanan.”

Nabi n berkata: “Dia aman.”

Kata ‘Umair pula: “Wahai Rasulullah, berilah aku tanda agar dia tahu sebagai jaminanmu.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya sorban yang beliau pakai ketika memasuki Makkah.

‘Umair bergegas mengejar Shafwan. Setelah bertemu, dia berkata: “Hai Shafwan, bapak ibuku tebusanmu. Ingatlah Allah, ingatlah Allah terhadap dirimu, janganlah engkau membinasakan dirimu sendiri. Aku membawa jaminan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Tapi Shafwan membalas: “Sial kamu. Pergilah, jangan bicara lagi denganku.”

‘Umair membujuknya: “Ya Shafwan, bapak ibuku tebusanmu. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling utama, paling berbakti, paling santun, dan paling baik. Kemuliaannya adalah kemuliaanmu juga, kejayaannya adalah kejayaanmu juga.”

Kata Shafwan: “Aku mengkhawatirkan diriku.”

‘Umair menjawab: “Beliau lebih santun dan lebih pemurah dari itu.”

Akhirnya Shafwan kembali bersamanya dan berdiri di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Shafwan berkata kepada beliau: “Sesungguhnya dia ini mengatakan engkau memberiku jaminan.”

Kata Rasul (Shallallahu ‘alaihi wasallam): “Betul.”

Kata Shafwan: “Beri aku waktu berpikir dua bulan.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Engkau boleh memilih selama empat bulan.”

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyiapkan pasukan menuju Hawazin untuk memerangi mereka, disebutkan kepada beliau bahwa Shafwan memiliki persenjataan lengkap. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menemuinya yang ketika itu masih musyrik, kata beliau: “Pinjami kami senjatamu untuk memerangi musuh besok.”

Kata Shafwan: “Apakah ini perampokan, wahai Muhammad?”

Beliau menjawab: “Bukan, tapi pinjaman yang ada jaminan sampai kami kembalikan kepadamu.”

“Kalau begitu, tidak apa,” katanya. Ternyata sesudah itu, sebagian senjata itu ada yang rusak, maka kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Kalau kamu mau, kami jadikan sebagai utang kepadamu.”

“Tidak perlu,” katanya.

Usai perang, kaum muslimin memperoleh rampasan yang sangat berlimpah. Shafwan mulai melihat lembah itu dipenuhi binatang ternak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meliriknya, lalu berkata: “Apakah lembah (yang dipenuhi ternak) itu menakjubkanmu?”

“Ya,” kata Shafwan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Itu semua untukmu.”

Segera saja Shafwan mengambil semua yang ada di lembah itu dan berkata: “Tidak mungkin ada seorang pun senang berbuat (memberi) dengan pemberian seperti ini kecuali seorang Nabi. Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Dia pun masuk Islam di tempat itu juga.

Shafwan tetap tinggal di Makkah sebagai muslim sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kembali ke Madinah. Lalu ada yang berkata kepadanya: “Tidak ada Islam bagi mereka yang tidak hijrah.”

Maka Shafwan pun berangkat menuju Madinah dan singgah di rumah ‘Abbas. Hal ini disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau berkata: “Dia orang Quraisy yang paling baik terhadap Quraisy. Kembalilah ke Makkah. Karena tidak hijrah sesudah Fathu Makkah. Lagi pula siapa yang mengawasi pengairan Makkah?!”

Akhirnya dia kembali ke Makkah. Di Makkah, Shafwan dikenal sebagai salah seorang dermawan yang suka memberi makan, bahkan dijuluki sebagai Pemuka Bath-ha’. Baik pula Islamnya. Dahulu dia gunakan lisannya yang fasih menyakiti kaum muslimin, maka hari ini, dia gunakan kefasihannya untuk menolong agama Allah Subhanahuwata’ala. Beliau tetap hidup dalam Islam sebagai orang dermawan yang terpuji. Semoga Allah Subhanahuwata’ala meridhainya.

 

Islamnya ‘Ikrimah bin Jahl

Setelah pasukan kecilnya dihancurkan oleh pasukan Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu, ketakutan menyelinap di hati ‘Ikrimah. Dia tahu, dia dan ayahnya adalah orang yang paling sengit memusuhi Islam dan muslimin.

‘Ikrimah tahu apa yang diterimanya jika dia tetap di Makkah. Akhirnya, dia melarikan diri sampai di tepi laut.

Ketika sudah berada di atas kapal, mereka diterjang badai. Maka mulailah penumpang berdoa kepada Allah Subhanahuwata’ala, mentauhidkannya, dan berkata: “Sesungguhnya tempat ini tidak ada yang berguna kecuali Allah Subhanahuwata’ala.”

Kata ‘Ikrimah: “Apa yang harus kuucapkan?”

“Ucapkanlah Laa ilaaha illallahu,” kata nakhoda kapal.

“Justru aku melarikan diri dari kalimat ini,” katanya.

Kemudian sampailah Ummu Hakim (istrinya, ???) ke pantai itu, lalu berkata: “Hai putra pamanku. Aku datang dari orang yang paling suka menyambung tali kasih sayang, paling berbakti, dan paling baik. Janganlah kau rusak dirimu.”

‘Ikrimah berhenti hingga Ummu Hakim mendekat dan berkata: “Aku sudah memintakan jaminan keamanan untukmu kepada Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

‘Ikrimah seperti tak yakin mendengarnya: “Engkau? Engkau melakukannya?”

“Ya, aku sudah bicarakan dengan beliau lalu beliau memberi jaminan keamanan,” kata Ummu Hakim.

‘Ikrimah pun kembali bersama Ummu Hakim. ‘Ikrimah bertanya: “Apa yang dilakukan bujangmu kepadamu?”

Ummu Hakim menceritakan bagaimana dia dirayu oleh budak tersebut. Mendengar ini ‘Ikrimah pun membunuh budak itu.

Di perjalanan, ‘Ikrimah membujuk Ummu Hakim melayaninya, tetapi ditolak oleh Ummu Hakim, katanya: “Sesungguhnya kamu kafir, sedangkan aku seorang wanita muslimah.”

Kata ‘Ikrimah: “Sesuatu yang menghalangimu ini betul-betul urusan yang sangat besar.”

Setibanya di Makkah, ‘Ikrimah dan Ummu Hakim segera menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Begitu melihatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyambut dan mengucapkan selamat datang kepadanya. ‘Ikrimah berdiri di hadapan beliau sementara istrinya menutupi mukanya dengan sehelai cadar. Dia pun berkata: “Ya Muhammad, sesungguhnya wanita ini menerangkan bahwa engkau memberiku jaminan keamanan?”

Kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dia benar, dan engkau aman.”

Lalu dia pun berkata: “Kepada apa engkau mengajakku, wahai Muhammad?”

Beliau menjawab: “Aku mengajakmu agar bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku adalah Rasul Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan berbuat (kebaikan), …” dan seterusnya. Beliau pun menyebutkan beberapa perilaku Islam.

‘Ikrimah berkata: “Demi Allah. Tidaklah engkau mengajak kami melainkan kepada yang haq dan urusan yang baik lagi indah. Dahulu ketika mengajak kami kepada hal ini adalah orang yang paling jujur di antara kami, paling berbakti.”

Kemudian ‘Ikrimah melanjutkan: “Sungguh, aku bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad  adalah hamba Allah dan utusan-Nya.”

Mendengar ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat gembira. Kemudian beliau berkata setelah menerangkan apa yang harus dilakukan ‘Ikrimah: “Tidaklah seorang pun yang memintaku sesuatu pada hari ini melainkan pasti aku beri.”

‘Ikrimah tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia berkata: “Kalau begitu, saya minta kepada engkau agar memintakan ampunan kepada Allah untukku atas semua permusuhanku terhadapmu, atau semua ucapan yang kuucapkan di depanmu atau di belakangmu.”

Kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ya Allah, ampunilah dia atas semua permusuhannya dan upayanya memadamkan cahaya (agama)-Mu. Ampunilah dia atas perbuatannya terhadap pribadiku, di depan atau di belakangku.”

‘Ikrimah pun berkata: “Aku ridha, wahai Rasulullah. Tidak aku biarkan nafkah yang dahulu keberikan melawan Islam, melainkan aku infakkan berkali lipat di jalan Allah. Tidak pula peperangan yang dahulu kuikuti menghalangi manusia dari jalan Allah, melainkan aku akan terjun berkali lipat di jalan Allah.”

Setelah ‘Ikrimah masuk Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengembalikan istrinya kepada ‘Ikrimah dengan nikah yang pertama.

Islam mulai merambah dalam hati ‘Ikrimah. Muhajir yang kehausan ini betul-betul merasakan telaga bening Islam. Sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang begitu hangat menyambut kehadirannya membuatnya malu bila teringat begitu sengit dendam dan permusuhan dia serta ayahnya terhadap Islam dan kaum muslimin, terlebih pribadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Lihatlah apa yang dimintanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Bukan dunia. Dia hanya minta agar Allah Subhanahuwata’ala mengampuninya. Sejarah telah membuktikan kejujurannya memeluk Islam, keuletannya menebus dan mengubur masa lalunya yang hitam.

Yarmuk, salah satu daerah di negeri Syam menceritakan bagaimana singa-singa Allah Ta’ala menerkam musuh-musuh mereka. Kekuatan dan perlengkapan musuh yang begitu dahsyat, ternyata tidak meluluhkan tekad mereka; menang atau mati syahid.

Ketika ‘Ikrimah sudah bersiap menembus pasukan musuh, Khalid bin Al-Walid saudara sepupunya berkata: “Jangan lakukan. Kematianmu sangat merugikan kaum muslimin.”

Kata ‘Ikrimah: “Biarlah, hai Khalid, karena kau telah pernah ikut bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Apalagi ayahku sangat hebat memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

‘Ikrimah menerobos ke tengah-tengah pasukan musuh yang berjumlah puluhan ribu orang bersama beberapa ratus prajurit muslim lainnya.

Diceritakan, bahwa dia pernah berkata ketika perang Yarmuk: “Aku dahulu memerangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di setiap medan pertempuran. Hari ini, apakah aku akan lari dari kalian (yakni pasukan lawan, red.)?” Lalu dia berseru: “Siapa yang mau berbai’at untuk mati?” Maka berbai’atlah Al-Harits bin Hisyam, Dhirar bin Al-Azwar bersama empat ratus prajurit muslim lainnya.

Mereka pun maju menggempur musuh di depan kemah Khalid sampai satu demi satu mereka jatuh berguguran sebagai kembang syuhada.

Kata Az-Zuhri: “Waktu itu, ‘Ikrimah adalah orang yang paling hebat ujiannya. Luka sudah memenuhi wajah dan dadanya sampai ada yang mengatakan kepadanya: ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, kasihanilah dirimu’.”

Tapi ‘Ikrimah menukas: “Dahulu aku berjihad dengan diriku demi Latta dan ‘Uzza, bahkan aku serahkan jiwaku untuk mereka. Lantas, sekarang, apakah harus biarkan jiwaku ini tetap utuh karena (membela) Allah dan Rasul-Nya? Tidak. Demi Allah, selamanya tidak.” Maka, hal itu tidaklah menambahi apapun selain beliau semakin berani menyerang hingga gugur sebagai syahid. Semoga Allah l meridhai ‘Ikrimah.