Beranda Kisah Makkah Menjadi Negeri Islam

Makkah Menjadi Negeri Islam

884
0
BERBAGI

 Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memasuki kota Makkah. Az-Zubair yang masuk membawa bendera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari sebelah atas, tidak menemukan rintangan sama sekali.

 Sementara pasukan Pedang Allah Khalid bin Al-Walid bertemu dengan sejumlah prajurit musyrikin yang kurang akal, dipimpin oleh ‘Ikrimah bin Abu Jahl, Suhail bin ‘Amr, dan Shafwan bin Umayyah. Melihat kilatan pedang dan debu dari atas bukit, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Bukankah sudah saya larang untuk berperang?”

Ada yang menjawab: “Pasukan Khalid diserang, maka dia pun balas menyerang.”

Kata beliau: “Ketentuan Allah itu lebih baik.”

Di antara yang menyerang Khalid adalah Hamas bin Qais bin Khalid yang memang sudah menyiapkan senjata untuk berperang. Ketika dia mengambil senjatanya untuk berperang di hari itu, istrinya berkata: “Demi Allah, aku tidak yakin ada yang bisa menghadapi Muhammad n dan para sahabatnya sedikitpun.”

Kata Hamas: “Aku benar-benar ingin menjadikan sebagian dari mereka sebagai pelayanmu.”

Katanya pula:

Kalau mereka datang hari ini, maka tak ada alasan bagiku

            Ini senjata ampuh dan tombak yang hebat

Serta pedang dengan dua matanya yang tajam

Tatkala kaum muslimin berhadapan dengan mereka dan terjadi pertempuran, terbunuhlah Kurz bin Jabir Al-Fihri dan Khunais bin Khalid bin Rabi’ah dari pihak muslimin. Semula, keduanya dalam pasukan berkuda Khalid bin Al-Walid tapi terpisah dari beliau, lalu menempuh jalan yang berbeda. Akhirnya mereka pun terbunuh. Sementara di pihak musyrikin, ada duabelas orang tewas. Mereka pun kalah dan cerai-berai termasuk Hamas, hingga lari masuk ke dalam rumahnya. Katanya kepada istrinya: “Kuncilah pintu rumahku.”

Istrinya bertanya: “Mana yang engkau janjikan itu?”

Kata Hamas:

Andai kau lihat peristiwa Khandamah

            Saat Shafwan dan ‘Ikrimah melarikan diri

Kaum muslimin menghadapi kami dengan pedang terhunus

            Memutus semua lengan dan kepala

Pukulan mematikan hingga tak kami dengar kecuali erangan

            Raungan dan jeritan di sekitar kami

Niscaya kau tak akan mencela sepatah kata pun

Dengan mengenakan sorban hitam dan bersenjata lengkap, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memasuki Makkah pada hari Jum’at tanggal 20 Ramadhan di atas kendaraannya Al-Qushwa sambil membaca surat Al-Fath. Kemudian dibuatkanlah tenda untuk beliau di dekat bendera yang telah ditancapkan oleh Az-Zubair.

Membersihkan Ka’bah

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mulai thawaf di Ka’bah di atas untanya Al-Qushwa, sementara di sekeliling Ka’bah masih ada 360 buah patung berhala. Setiap kali melewati satu berhala, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menusuk berhala itu dengan tongkat yang ada di tangan beliau sambil membaca:

جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Al-Isra: 81)

Maka tersungkurlah berhala-berhala tersebut.

Setelah thawaf, beliau memanggil ‘Utsman bin Thalhah lalu meminta kunci Ka’bah darinya. Beliau pun memasuki Ka’bah bersama Usamah dan Bilal bin Rabah.

Di dalam Ka’bah, beliau melihat gambar Nabi Ibrahim dan Isma’il yang sedang mengundi dengan panah. Kata beliau: “Semoga Allah membinasakan mereka (musyrikin, red.). Demi Allah, keduanya tidak pernah membagi dengan cara ini sama sekali.”[1]

Akhirnya gambar dan semua yang ada di dalam Ka’bah dibersihkan. Beliau pun mengunci pintu Ka’bah dan menghadap dinding berhadapan dengan pintu. Lalu pada jarak sekitar tiga hasta beliau berdiri lalu shalat di sana. Kemudian beliau mengitari ruangan Ka’bah dan bertakbir di setiap sudutnya serta mentauhidkan Allah l.

Quraisy Menunggu Keputusan

Setelah selesai shalat di dalam Ka’bah, beliau membuka pintu dan melihat orang-orang Quraisy sudah memenuhi Masjidil Haram, berbaris menunggu apa yang akan beliau perbuat terhadap mereka. Setelah bertakbir tiga kali beliau berkata:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، أَلَا كُلُّ مَأْثُرَةٍ أَوْ مَالٍ أَوْ دَمٍ، فَهُوَ تَحْتَ قَدَمَيْ هَاتَيْنِ إِلاَّ سِدَانَةَ الْبيْتِ وَسِقَايَةَ الْحَاجِّ، أَلَا وَقَتْلُ الْخَطَأِ شِبْهُ الْعَمْدِ السَّوْطُ وَالْعَصَا، فَفِيهِ الدِّيَةُ مُغَلَّظَةً مِائَةٌ مِنَ الْإِبِلِ، أَرْبَعُونَ مِنْهَا فِي بُطُونِهَا أَوْلَادُهَا، يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ؛ إِنَّ اللهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ نَخْوَةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَتَعَظُّمَهَا بِالْآبَاءِ، النَّاسُ مِنْ آدَمَ، وآدَمُ مِنْ تُرابٍ -ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia telah membenarkan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan golongan musuh-Nya sendirian. Ketahuilah, semua kebanggaan, kepentingan jahiliah, harta atau darah maka seluruhnya berada di bawah tapak kakiku ini kecuali juru kunci Ka’bah, minuman jamaah haji.

Ketahuilah gangguan bukan niat membunuh -dengan cambuk atau tongkat- diyat (denda, tebusannya) diperberat, seratus ekor unta, empat puluh di antaranya yang di dalam perutnya ada anaknya.

Wahai sekalian masyarakat Quraisy, sesungguhnya Allah telah lenyapkan dari kalian kesombongan jahiliyah dan membanggakannya dengan nenek moyang. Manusia itu dari Adam, dan Adam dari tanah.” Kemudian beliau membaca:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat: 13)

Kemudian beliau melanjutkan lagi:

“Wahai bangsa Quraisy, apa dugaan kalian tentang yang akan aku lakukan terhadap kalian?”

Kata mereka: “Yang baik. Saudara yang mulia, putra saudara yang mulia.”

Kata beliau: “Saya hanya katakan kepada kalian sebagaimana ucapan Nabi Yusuf kepada para saudaranya (dalam firman Allah l):

 لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ

“Tiada celaan atas kalian pada hari ini.” (Yusuf: 92)

Pergilah. Kalian semua bebas.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membebaskan mereka, padahal Allah Subhanahuwata’ala telah memberi kekuasaan kepada beliau terhadap leher-leher mereka.

Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di Masjid. Tiba-tiba berdirilah ‘Ali sambil membawa kunci Ka’bah di tangannya dan berkata: “Ya Rasulullah, gabungkanlah untuk kami tugas menjaga hijab Ka’bah dan minuman jamaah haji, semoga Allah melimpahkan shalawat untukmu.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata: “Mana ‘Utsman bin Thalhah?”

Setelah ‘Utsman datang, beliau berkata kepadanya: “Terimalah kuncimu, wahai ‘Utsman. Hari ini adalah hari kebaikan dan menepati janji.”

Disebutkan oleh Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqat dari ‘Utsman bin Thalhah, dia bercerita: “Dahulu kami membuka pintu Ka’bah setiap hari Senin dan Kamis. Suatu ketika datanglah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ingin masuk bersama beberapa orang. Saya pun menghalangi mereka dengan kasar serta mencaci beliau. Tapi beliau bersikap lembut kepadaku. Kata beliau: “Wahai ‘Utsman, mudah-mudahan engkau akan melihat suatu hari, kunci ini ada di tanganku dan aku letakkan di mana aku mau.”

Saya menukas: “Berarti Quraisy telah binasa dan hina ketika itu.”

Kata beliau: “Bahkan semakin ramai, dan mulia saat itu.” Beliau pun masuk ke dalam Ka’bah. Tapi perkataan beliau tadi membekas dalam hatiku. Saya yakin suatu saat urusan ini pasti terjadi sebagaimana yang dikatakan beliau.

Kemudian, pada peristiwa Al-Fath, beliau berkata: “Wahai ‘Utsman, berikan kepadaku kunci itu.” Saya pun menyerahkannya kepada beliau. Beliau mengambilnya dari tanganku kemudian menyerahkannya kembali kepadaku seraya berkata: “Ambillah, kekal selamanya. Tidak ada yang mengambilnya dari (keluarga) kalian melainkan orang yang zalim. Wahai ‘Utsman, sesungguhnya Allah telah mengamanahkan kepada kalian rumah-Nya ini, maka makanlah apa yang sampai kepada kalian dari Bait ini dengan cara yang baik.”

Setelah itu saya pun pergi, tapi beliau memanggilku. Saya pun mendekati beliau yang lalu berkata: “Bukankah terjadi apa yang pernah saya katakan kepadamu?”

Saya pun berkata: “Betul. Saya bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah.”

Versi lain menyebutkan, bahwa ‘Abbas berkeinginan menyimpan kunci itu di kalangan Bani Hasyim, tapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkannya kepada ‘Utsman bin Thalhah.

Setelah itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumah Ummu Hani’ bintu Abi Thalib lalu mandi dalam keadaan ditutupi oleh putrinya Fathimah. Selesai mandi beliau shalat delapan rakaat, dan saat itu sedang masuk waktu dhuha. Kejadian inilah yang dianggap sebagian ulama bahwa beliau mengerjakan shalat dhuha.

Setelah kemenangan betul-betul mantap, keadaan semakin tenang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberi jaminan keamanan kepada seluruh penduduk Makkah kecuali beberapa orang yang memang sangat keterlaluan permusuhannya terhadap Islam dan pribadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka harus dibunuh meskipun bergantungan di tirai Ka’bah. Mereka itu antara lain adalah ‘Abdullah bin Abi Sarh saudara susuan ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Ikrimah bin Abi Jahl, ‘Abdul ‘Uzza bin Khathal, Al-Harits bin Nufail bin Wahb, Maqis bin Shubabah, Habbar bin Al-Aswad, dua budak wanita milik Ibnu Khathal yang selalu bernyanyi menyerang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Sarah bekas budak sebagian keluarga Bani ‘Abdul Muththalib.

Adapun Ibnu Abi Sarh, dia masuk Islam dan dibawa ‘Utsman menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam minta jaminan keamanan. Beliau pun menerima sesudah menahan diri dengan harapan ada sahabat yang mengayunkan pedang menebas lehernya. Sebelumnya Ibnu Abi Sarh sudah masuk Islam, berhijrah kemudian murtad dan kembali ke Makkah.

Adapun Ibnu Khathal, Al-Harits, Maqis, dan salah satu budak wanita itu dibunuh. Sedangkan Habbar, dialah yang menyakiti Zainab yang hendak keluar dari Makkah dalam keadaan mengandung. Habbar melarikan diri, kemudian masuk Islam dan baik Islamnya.

Adapun Sarah dan salah satu penyanyi itu dimintakan jaminan keamanan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau mengizinkan. Mereka pun masuk Islam.

Kemudian mereka berkumpul untuk berbai’at. Beliau pun duduk di bukit Shafa sedangkan ‘Umar duduk di bawah tempat beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menerima bai’at itu dari orang banyak. Mereka pun berbai’at untuk mendengar dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya sesuai kemampuan mereka. Setelah itu datanglah kaum wanita mereka hendak berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara mereka adalah Hindun bintu ‘Utbah yang ketika itu menutupi dirinya agar tidak dikenali karena teringat perbuatannya terhadap Hamzah bin ‘Abdil Muththalib. Ketika itu, Abu Sufyan suaminya juga hadir.

Ketika dia mulai bicara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengenalnya dan berkata: “Engkau betul-betul Hindun?”

Dia menjawab: “Saya Hindun. Maafkan semua yang telah lalu semoga Allah memaafkan anda.”

Kata beliau: “Engkau berbai’at untuk tidak berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatupun.”

Katanya: “Sungguh, anda mengambil atas kami apa yang tidak anda ambil terhadap para pria, dan pasti kami berikan.”

Kata beliau lagi: “Tidak boleh kalian mencuri.”

Hindun menukas: “Saya dahulu sering mengambil harta Abu Sufyan sekian sekian.”

Abu Sufyan menjawab: “Apa yang sudah lalu, kau halal mengambilnya.”

Beliau berkata: “Tidak boleh kamu berzina.”

Hindunpun berkata: “Wahai Rasulullah, apakah wanita merdeka akan berzina?”

Kata beliau: “Tidak boleh membunuh anak-anak kalian.”

Hindun memotong: “Kami telah mendidik mereka sejak kecil, dan setelah dewasa, kalian bunuh mereka di Badr.”

Mendengar jawaban ini, ‘Umar tak tahan, lalu tertawa.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Kalian tidak boleh berbuat dusta yang dibuat-buat antara tangan dan kaki kalian.”

Kata Hindun: “Demi Allah, sungguh mengada-adakan kedustaan betul-betul perbuatan yang sangat buruk.”

Beliau melanjutkan: “Dan kalian tidak boleh mendurhakai dalam urusan yang baik.”

Kata Hindun lagi: “Tidaklah kami duduk di majelis ini dalam keadaan hendak mendurhakaimu dalam urusan yang baik.”

Kemudian beliau berkata kepada ‘Umar: “Bai’atlah mereka.”

Maka dia pun menerima bai’at mereka dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memintakan ampunan bagi mereka.

Setelah itu beliau memerintahkan Bilal meminta kunci Ka’bah dari ‘Utsman bin Abi Thalhah, lalu beliau membuka dan shalat di dalamnya. Setelah beliau keluar, ternyata di sekitar Ka’bah manusia telah berkerumun. Maka beliau pun berpidato di hadapan mereka sebagaimana telah disebutkan.

Selanjutnya beliau kirim Tamim bin Asad Al-Khuza’i, lalu memperbarui batas-batas tanah haram.

 

Menghancurkan Berhala

Kemudian beliau n mulai mengirim beberapa pasukan ekspedisi ke wilayah-wilayah sekitar Makkah untuk menghancurkan berhala yang masih ada.

Beliau pun mengirim Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu menghancurkan ‘Uzza yang merupakan berhala Quraisy paling besar.

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang keadaannya. Ada yang mengatakannya berwujud pohon di Nakhlah yang disembah penduduk Ghathafan. Ada pula yang mengatakannya dalam bentuk bangunan. Ada pula yang menyebutnya sebuah rumah di Thaif. Sa’id bin Jubair mengatakan ‘Uzza adalah sebuah batu putih yang disembah.

Sesampainya di tempat pemujaan dan meruntuhkan bangunan yang ada, Khalid kembali menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaporkan hasil pekerjaannya. Tapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada beliau: “Apakah engkau melihat sesuatu?”

“Tidak,” jawab Khalid.

Kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Kembalilah. Engkau belum berbuat sesuatu.”

Khalid kembali bersama pasukannya dengan marah karena ternyata dia belum melaksanakan tugas menghancurkan ‘Uzza sebagaimana mestinya. Ketika tiba di sana dilihatnya seorang perempuan hitam dalam keadaan telanjang lari ke arah gunung. Ternyata dialah kuncen (juru kunci???) pemujaan berhala ‘Uzza. Khalid mengejarnya dan membunuhnya. Setelah itu dia kembali ke Makkah menceritakan kejadian tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata kepadanya: “Itulah dia ‘Uzza.”

Kemudian mengutus ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu ke daerah Ruhath menghancurkan Suwa’, berhala Hudzail. Beliau pun berhasil menghancurkannya.

Beliau juga mengutus Sa’d bin Zaid Al-Asyhali menghancurkan Manah di Musyallal, berhala Aus, Khazraj dan Ghassan di masa jahiliah, dan dia berhasil menghancurkankannya. Kemudian beliau berkata kepada orang banyak: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka janganlah dia biarkan di rumahnya satu berhala melainkan dia hancurkan.”

(insya Allah, bersambung)

 


[1] Muhaqqiq Zadul Ma’ad mengatakan sanadnya kuat dan diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari dalam Al-Maghazi (8/14).