Beranda Tafsir MENGGALI KANDUNGAN MAKNA SURAT AL-HUMAZAH

MENGGALI KANDUNGAN MAKNA SURAT AL-HUMAZAH

222
0
BERBAGI

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

Surat al-Humazah ini adalah Makkiyah (diturunkan pada periode sebelum hijrah). Sebagaimana hal itu dijelaskan oleh para Ulama Tafsir seperti al-Qurthuby.

✅Ayat Ke-1 Surat al-Humazah

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ

Arti Kalimat: Celaka bagi setiap orang yang suka menggunjing dan mencela

Wayl artinya adalah ancaman keras, bencana, dan adzab yang pedih (Tafsir as-Sa’di). Secara singkat, dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan ‘celaka’.

Para Ulama berbeda pendapat tentang makna humazah dan lumazah. Namun bisa disimpulkan bahwa pada kedua kata tersebut terdapat unsur makna menggunjing, mengadudomba (namimah), dan mengejek atau mencela baik dengan ucapan atau perbuatan, baik terang-terangan di hadapan orangnya ataupun membicarakan keburukannya tanpa sepengetahuannya (menggunjing).

Akar kata yang sama dengan humazah disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam ayat yang lain:

هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

Orang yang banyak bergunjing dan berjalan untuk melakukan namimah (adu domba)(Q.S al-Qolam ayat 11)

Kata Hammaaz dalam ayat itu artinya adalah banyak berghibah (menggunjing) menurut pendapat Ibnu Abbas dan Qotadah (Tafsir Ibn Katsir).

Sedangkan akar kata yang sama dengan lumazah yaitu yalmizuka disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam ayat yang lain:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

Dan di antara mereka ada yang mencelamu dalam hal (pembagian) shodaqoh. Jika mereka diberi, mereka ridha. Jika tidak diberi, mereka marah (Q.S atTaubah ayat 58)

Ayat ke-58 surat atTaubah tersebut turun berkaitan dengan sikap Dzil Khuwaishiroh (Hurqush) yang datang saat pembagian ghanimah dan berkata: “Bersikap adillah” kepada Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam (Hadits riwayat al-Bukhari dari Abu Sa’id).

Pada ayat yang lain Allah Ta’ala juga menyebutkan akar kata yang sama dengan lumazah yaitu talmizu:

وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ

…janganlah mencerca (sesama) kalian…(Q.S al-Hujurat ayat 11)

Dalam salah satu pendapatnya, Ibnu Katsir rahimahullah cenderung mengartikan humazah adalah melakukan hal itu dalam bentuk perbuatan, sedangkan lumazah dalam bentuk ucapan (demikian beliau menyebutkan dalam tafsir surat al-Hujurat ayat 11, tapi tertukar ketika menafsirkan surat al-Humazah ayat 1).

Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dan Syaikh Ibn Utsaimin. Humazah adalah ejekan dan celaan dalam bentuk perbuatan, seperti isyarat dengan wajah, tangan, atau anggota tubuh lain untuk merendahkan manusia, sedangkan lumazah adalah dengan ucapan. Sebagaimana Dzulkhuwaishiroh mencerca Nabi shollallahu alaihi wasallam, melakukan lumazah dalam bentuk ucapan: “Bersikap adillah engkau”.

Termasuk bagian dari makna humazah dan lumazah adalah ghibah, yaitu membicarakan keadaan seorang muslim/muslimah tanpa sepengetahuan orang tersebut yang jika ia mengetahui ia akan merasa tidak senang. Nabi mendefinisikan dengan:

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

Engkau sebutkan sesuatu tentang saudaramu yang tidak dia senangi (H.R Muslim)

Ghibah adalah dosa besar. Pelakunya diancam dengan siksa yang pedih. Pada saat Isra’ Mi’raj Nabi ditampakkan dengan sekelompok orang yang berkuku panjang dari tembaga dan mencakar sendiri wajah dan dada mereka. Ketika ditanyakan kepada Jibril, dijawab bahwa mereka adalah orang-orang yang ‘memakan daging manusia’, yaitu ghibah, menjelek-jelekkan kehormatan orang lain.

لَمَّا عُرِجَ بِي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ فَقُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ

Ketika aku Mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku panjang dari tembaga yang mencakar-cakar wajah dan dada mereka sendiri. Aku bertanya: Siapa mereka wahai Jibril. Jibril berkata: mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah), menjelek-jelekkan kehormatan mereka (H.R Abu Dawud, Ahmad, dishahihkan Syaikh al-Albany)

✅Ayat Ke-2 Surat al-Humazah

الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ

Arti Kalimat: yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya

Pada ayat ini dijelaskan sifat tercela yang lain yaitu ambisi tinggi dalam mengumpulkan harta dan sangat kikir/ pelit.

Saking cintanya yang mendalam pada harta ia selalu menghitung-hitung ulang hartanya untuk memastikan tidak berkurang. Pagi dihitung, siang dihitung ulang, malam pegang kalkulator lagi (disarikan dari penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin). Bukan setiap penghitungan harta tercela. Justru kadangkala menjadi wajib atau sebaiknya dilakukan. Seperti menghitung harta untuk membayar zakat atau menghitung harta yang menjadi tanggungannya untuk memberi bagian pihak yang kerjasama bagi hasil dengannya agar tidak terdzhalimi sedikitpun, dan semisalnya.

✅Ayat Ke-3 Surat al-Humazah

يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

Arti Kalimat: Dia mengira bahwa hartanya akan menjadikan dia kekal

Banyaknya harta pada dirinya menyebabkan ia panjang angan-angan, seakan-akan ia akan hidup selamanya: ingin beli ini, kemudian beli itu, kemudian bikin bangunan ini, dan seterusnya (disarikan dari penjelasan al-Aaluusiy dalam Ruuhul Ma’aaniy).

Setiap manusia sangat yakin akan datangnya kematian. Namun kebanyakan amal perbuatannya tidak menunjukkan keyakinan bahwa ia akan mati. Terus menerus menumpuk harta dan kemewahan dunia, lupa dengan akhirat.

Diriwayatkan bahwa al-Hasan al-Bashri rahimahullah menyatakan:

ما رأيت يقينا لا شك فيه أشبه من شك لا يقين فيه من أمرنا هذا

Tidaklah aku melihat keyakinan yang tidak diragukan lagi (kematian), lebih mirip dengan keraguan yang tidak ada keyakinan padanya dari perkara kita ini (riwayat Ibnu Abid Dunya dalam al-Yaqin)

Artinya, kita sangat yakin bahwa kematian itu akan datang. Tapi perbuatan kita menunjukkan seakan-akan kita ragu dengan datangnya kematian. Tidak bersiap menghadapinya.

Al-Qurthubiy menukil ucapan Umar bin Abdil Aziz rahimahullah :

ما رأيت يقينا أشبه بالشك من يقين الناس بالموت ثم لا يستعدون له

Tidaklah aku melihat ada sebuah keyakinan yang lebih mirip dengan keraguan dibandingkan keyakinan manusia pada kematian. Kemudian ia tidak mempersiapkan kematian itu (Tafsir al-Qurthubiy).

✅Ayat Ke-4 Surat al-Humazah

كَلَّا لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ

Arti Kalimat: Sekali-kali tidak, sungguh ia akan benar-benar dilemparkan ke al-Huthomah (Neraka)

al-Huthomah adalah salah satu nama Neraka. Disebut al-Huthomah dari kata hathoma (huruf inti: ha’-tho’-mim) yang artinya : penghancur atau pembinasa. Dinamakan demikian karena setiap orang yang dilemparkan ke dalamnya akan hancur dan luluh lantak binasa. Sebagaimana jika semut-semut diinjak-injak, dilindas, dan digilas oleh rombongan pasukan berkendaraan maupun berjalan kaki.

Ketika pasukan Sulaiman akan melewati suatu tempat, seekor semut berkata kepada teman-temannya:

يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Wahai sekalian semut, masuklah ke dalam sarang kalian. Jangan sampai kalian dihancurkan (terinjak) oleh Sulaiman dan pasukannya dalam keadaan mereka tidak menyadarinya (Q.S anNaml ayat 18)

Kata yahthimannakum dengan huthomah memiliki akar kata yang sama dan huruf inti yang sama menunjukkan makna hancur, luluh lantak, binasa berkeping-keping. Walaupun tentunya efek penghancuran yang terjadi di dunia tidak akan bisa dibandingkan dengan penghancuran adzab di akhirat –semoga Allah melindungi kita semua dari hal itu-.

✅Ayat Ke-5 Surat al-Humazah

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ (5)

Arti Kalimat: Tahukah kalian apakah al-Huthomah itu?

Pertanyaan: “tahukah kalian apakah al-Huthomah itu” adalah ungkapan untuk membangkitkan kengerian dan ketakutan yang dahsyat terhadapnya. Bahwa itu bukanlah suatu hal yang biasa, namun justru di luar akal manusia untuk mendeskripsikannya (disarikan dari Fathul Qodiir karya asySyaukaaniy dan Fathul Bayaan fi Maqooshidil Qur’an karya Shiddiq Khon)

✅Ayat Ke-6 Surat al-Humazah

نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ

Arti Kalimat: (Yaitu) Api Allah yang dinyalakan

Api tersebut dinyalakan atas perintah Allah, bukan api yang dinyalakan oleh raja-raja dunia. Sehingga tentu saja akibat adzab yang ditimbulkannya tidak bisa dibayangkan, sungguh sangat mengerikan dan menakutkan (lihat penjelasan dalam Ruuhul Ma’aaniy karya al-Aluusiy dan Fathul Qodiir karya asy-Syaukaaniy)

✅Ayat Ke-7 Surat al-Humazah

الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ

Arti Kalimat: yang (rasa panasnya) mencapai hati

Api dunia rasa panasnya dirasakan oleh kulit yang bersentuhan langsung dengannya saja, sedangkan api akhirat akan dirasakan hingga hati. Dalam kehidupan dunia, jika rasa sakit telah mencapai hati (jantung), maka itu akan menyebabkan kematian. Namun, di akhirat tidak ada kematian, hanya saja diibaratkan rasa sakit yang dahsyat itu seakan-akan seperti mengakibatkan kematian (disarikan dari Tafsir al-Qurthubiy)

✅Ayat Ke-8 Surat al-Humazah

إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ

Arti Kalimat: Sesungguhnya api itu ditutup rapat di atas mereka

Hal ini semakna dengan firman Allah pada ayat terakhir dalam surat al-Balad:

عَلَيْهِمْ نَارٌ مُؤْصَدَةٌ

Di atas mereka api yang tertutup (rapat) (Q.S al-Balad ayat 20)

Qotadah –seorang Tabi’i- menjelaskan: tertutup (rapat) tidak ada cahaya dan tidak ada celah (sedikitpun) dan mereka (kaum kafir, pent) tidak bisa keluar darinya selama-lamanya (Tafsir Ibn Katsir surat al-Balad ayat 20)

Sungguh sangat berat tak terperikan siksaan itu. Seorang yang dikurung dalam ruang sempit yang pengap saja sudah sangat menyiksa, bagaimana lagi jika dinyalakan api hingga terbakar di dalamnya. Ini kehidupan di akhirat, jelas lebih dahsyat dibandingkan rasa tersiksanya seorang yang terkurung dalam mobil atau kamar yang sempit tak ada ventilasi sedikitpun dan ia terbakar di dalamnya.
Semoga Allah melindungi kita semua dari hal itu

✅Ayat ke-9 Surat al-Humazah

فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍ

Arti Kalimat: pada tiang-tiang yang dipancangkan (dibentangkan)

Tiang-tiang itu dibentangkan pada setiap sudut sehingga orang-orang yang diadzab itu tidak bisa membuka pintu atau keluar darinya (penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin dalam Tafsir Juz Amma)