Beranda Adab dan Akhlaq KHUTBAH JUMAT : BIMBINGAN DAN TELADAN ULAMA SALAF DALAM BERBAKTI KEPADA ORANGTUA

KHUTBAH JUMAT : BIMBINGAN DAN TELADAN ULAMA SALAF DALAM BERBAKTI KEPADA ORANGTUA

82
0
BERBAGI

Ditulis Oleh Abu Utsman Kharisman

Khutbah Pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah…

Berbakti kepada kedua orangtua adalah suatu ibadah yang agung. Pada beberapa ayat dalam alQuran, Allah Ta’ala menggandengkan perintah beribadah hanya kepada Allah dengan perintah berbuat baik pada kedua orangtua.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan ketika Kami mengambil perjanjian kepada Bani Israil agar janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada Allah dan berbuat baik kepada kedua orangtua (Q.S al-Baqoroh: 83).

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan sembahlah Allah dan jangan berbuat kesyirikan kepadaNya dengan suatu apapun dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua (Q.S anNisaa’:36)

Hal itu menunjukkan bahwa hak orangtua bagi anak adalah sangat besar. Maka janganlah seorang anak yang berusaha mentauhidkan Allah mendurhakai orangtuanya. Durhaka pada orangtua adalah termasuk dosa besar.

Seorang anak tidak akan bisa membalas jasa baik orangtuanya, kecuali jika ia dapati orangtuanya terikat dalam perbudakan, kemudian ia bebaskan. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدًا إِلَّا أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ

Tidaklah seorang anak bisa membalas kebaikan orangtuanya, kecuali jika ia dapati orangtuanya itu dalam keadaan menjadi hamba sahaya kemudian dia beli sehingga menjadi merdeka (H.R Muslim dari Abu Hurairah)

Berbakti kepada kedua orangtua adalah amalan yang sangat besar, yang bisa mengantarkan seseorang ke Surga.

Sahabat Nabi Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata:

إِنِّي لَا أَعْلَمُ عَمَلاً أَقْرَبُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ بِرِّ الْوَالِدَةِ

Sesungguhnya aku tidak mengetahui suatu amalan yang lebih dekat kepada Allah Azza Wa Jalla dibandingkan berbuat baik kepada ibu (H.R al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)

Sahabat Nabi Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata:

وَاللَّهِ لَوْ أَلَنْتَ لَهَا الْكَلَامَ وَأَطْعَمْتَهَا الطَّعَامَ لَتَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مَا اجْتَنَبْتَ الْكَبَائِرَ

Demi Allah, kalau engkau berlembut kata kepada ibumu dan memberikan makanan (yang baik) kepadanya, niscaya engkau akan masuk Surga selama engkau meninggalkan dosa-dosa besar (H.R al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)

Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah mendengar suara orang membaca al-Quran di Surga, kemudian Nabi bertanya: Suara siapa itu? Dikatakan bahwa itu adalah suara Sahabat Nabi Haritsah bin anNu’maan di dalam Surga. Maka Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:

كَذَلِكُمُ الْبِرُّ كَذَلِكُمُ الْبِرُّ

Demikianlah berbakti kepada orangtua…demikianlah berbakti kepada orangtua (bisa memasukkan seseorang ke dalam Surga)(H.R Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Muqbil dalam al-Jaami’us Shohih mimmaa Laysa fis Shahihayn)

Aisyah radhiyallahu anha menyatakan:

وَكَانَ أَبَرَّ النَّاسِ بِأُمِّهِ

Beliau (Haritsah bin anNu’man) adalah orang yang paling berbakti kepada ibunya (H.R Ahmad)

Di masa Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, harga satu pohon kurma sangat mahal. Satu pohon kurma dihargai 1000 dirham. Namun, Sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu anhu menebang satu pohon kurma dan membongkar pangkal pelepahnya untuk mengambil jantung pohon kurma yang disebut jummaar, yang bisa dimakan.

Orang-orang keheranan. Saat pohon kurma begitu mahal, kenapa tidak dibiarkan tumbuh saja hingga menghasilkan kurma-kurma yang selalu dipanen. Bukan justru dihancurkan untuk diambil jantungnya?

Ternyata, jantung pohon kurma yang bisa dimakan itu oleh Usamah bin Zaid kemudian dipersembahkan untuk ibunya. Saat ada orang yang bertanya mengapa Usamah sampai melakukan hal itu? Usamah bin Zaid radhiyallahu anhuma menyatakan:

إِنَّ أُمِّي سَأَلَتْنِيهِ، وَلَا تَسْأَلُنِي شَيْئًا أَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا أَعْطَيْتُهَا

Karena ibuku memintanya. Apapun yang diinginkan oleh ibuku, selama aku mampu, aku akan berikan kepada beliau (riwayat Ibnu Sa’ad dalam atThobaqoot al-Kubro, seluruh perawinya adalah rijal al-Bukhari dan Muslim)

Nabi shollallahu alaihi wasallam menyebut Uwais al-Qoroniy sebagai Tabiin terbaik. Bahkan Nabi menyuruh Umar jika bertemu dengan Uwais untuk meminta agar Uwais memohonkan ampunan kepada Allah untuk Umar.

Salah satu amalan istimewa pada Uwais adalah berbakti kepada ibunya. Ia hidup sejaman dengan Nabi. Namun tidak pernah bertemu dengan Nabi. Karena ia tidak bisa meninggalkan ibunya. Sibuk untuk berbuat baik kepada ibunya tercinta.

Ashbagh bin Yazid rahimahullah menyatakan:

إِنَّمَا مَنَعَ أُوَيْسًا أَنْ يُقَدِّمَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرُّهُ بِأُمِّهِ

Sesungguhnya yang menghalangi Uwais untuk datang menemui Rasulullah shollallahu alaihi wasallam adalah kesibukannya dalam berbakti kepada ibunya (riwayat Ahmad dalam az-Zuhud, Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’)

Nabi shollallahu alaihi wasallam sendiri yang menilai Uwais sebagai seorang anak yang berbakti kepada ibunya:

…لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ…

…ia memiliki seorang ibu yang ia berbakti kepadanya…(H.R Muslim)

Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala memberikan anugerah birrul walidain (berbakti kepada kedua orangtua) kepada kita dan segenap kaum muslimin….

Khutbah Kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِقْرَارًا بِهِ وَتَوْحِيْدًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah…

Salah satu bentuk bakti seorang anak kepada kedua orangtuanya adalah mendoakan kebaikan dunia dan akhirat bagi kedua orangtuanya yang muslim. Mendoakan ampunan Allah untuk keduanya.

Di dalam sholat, Urwah bin az-Zubair (salah satu dari 7 Fuqaha’ Madinah di masanya) tidak melupakan doa untuk kedua orangtuanya, yaitu az-Zubair bin al-Awwam (sang ayah) dan Asma’ bintu Abi Bakr, ibu beliau.

Di dalam sujud, Urwah bin az-Zubair membaca doa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ، وَلِأَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْر

Ya Allah, ampunilah az-Zubair bin al-Awwaam dan Asmaa’ bintu Abi Bakr (riwayat Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah dalam mushonnafnya serta al-Baihaqiy dalam Syuabul Iman, dinukil oleh Ibnul Mundzir dalam al-Awsath)

Demikianlah semestinya, di dalam sujud, setelah membaca bacaan yang disunnahkan di dalam sujud, kita bisa memperbanyak doa, di antaranya doa ampunan untuk kedua orangtua kita.

Seorang anak semestinya berucap kata yang lembut dan menyenangkan bagi orangtuanya. Allah Ta’ala berfirman:

…وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا…

Dan ucapkanlah ucapan yang mulia kepada keduanya (kedua orangtua)(Q.S al-Israa’ ayat 23)

Abul Haddaaj atTujiibiy bertanya kepada Said bin al-Musayyib seperti bagaimanakah ucapan yang mulia kepada kedua orangtuanya yang diperintahkan dalam alQuran tersebut? Said bin al-Musayyib rahimahullah menyatakan:

قَوْلُ الْعَبْدِ الْمُذْنِبِ لِلسَّيِّدِ الْفَظِّ

Itu adalah seperti ucapan seorang hamba sahaya yang bersalah kepada tuannya, yang tuannya tersebut memiliki sifat keras (kasar) (riwayat atThobariy dalam Tafsirnya)

Seorang hamba sahaya yang bersalah, tentu benar-benar lembut dan menata ucapannya, tidak sembarangan, ia merasa dalam posisi yang hina dan khawatir salah ucap hingga menyebabkan kemurkaan tuannya. Demikianlah mestinya ucapan seorang anak kepada orangtuanya.

Saudaraku kaum muslimin….

Durhaka kepada orangtua adalah segala ucapan atau perbuatan yang menyakitkan bagi keduanya.

Perbuatan durhaka kepada orangtua terancam menyebabkan seseorang tidak bisa masuk Surga. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

وَثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالْمُدْمِنُ عَلَى الْخَمْرِ وَالْمَنَّانُ بِمَا أَعْطَى

Dan tiga kelompok orang tidak akan masuk Surga, yaitu seorang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, seseorang yang suka meminum khamr, dan orang-orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian (H.R anNasaai dari Ibnu Umar, dishahihkan Syaikh al-Albaniy dalam Shahihul Jami’)

Sebelum kerugian di akhirat, seseorang yang durhaka pada orangtuanya terancam mendapat malapetaka yang disegerakan di dunia.

وَبَابَانِ مُعَجَّلَانِ عُقُوبَتُهُمَا فِي الدُّنْيَا الْبَغْيُ وَالْعُقُوقُ

Dan ada 2 pintu yang disegerakan hukumannya di dunia, yaitu sikap sewenang-wenang dan durhaka (pada kedua orangtua)(H.R al-Hakim, dishahihkan pula oleh adz-Dzahabiy dan Syaikh al-Albaniy)

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjauhkan kita semua dari sikap durhaka kepada kedua orangtua.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَنَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ تَقْضِيهِ لَنَا خَيْرًا
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ