Beranda Tafsir TAFSIR AS-SA’DIY SURAT AL-BAYYINAH

TAFSIR AS-SA’DIY SURAT AL-BAYYINAH

58
0
BERBAGI

Pengantar Penerjemah:

Surat al-Bayyinah ini dinyatakan oleh para Ulama tafsir sebagai surat Madaniyyah, artinya: surat yang diturunkan saat Nabi berada di Madinah, atau saat periode Madinah (setelah Nabi berhijrah ke Madinah). Salah satu karakteristik surat Madaniyyah adalah di dalamnya ada penyebutan tentang Ahlul Kitab, Yahudi dan Nashara, sebagai bimbingan bagi kaum muslimin untuk meyakini bagaimana status mereka, atau bagaimana bermuamalah dengan mereka.

Berikut ini akan disampaikan nukilan dan terjemahan tafsir as-Sa’diy (Taisiir Kariimir Rahman fii Tafsiri Kalaamil Mannaan karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy rahimahullah) terhadap surat tersebut, semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufiq dan pertolongan-Nya kepada segenap kaum muslimin….

✅Ayat ke-1 sampai 6 Surat al-Bayyinah

لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ١ رَسُولٞ مِّنَ ٱللَّهِ يَتۡلُواْ صُحُفٗا مُّطَهَّرَةٗ ٢ فِيهَا كُتُبٞ قَيِّمَةٞ ٣ وَمَا تَفَرَّقَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ٤ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ٦

Orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab dan kaum musyrikin tidak akan meninggalkan (agama mereka) hingga sampai kepada mereka bukti yang nyata (tanda yang telah dijanjikan pada kitab mereka terdahulu). (Yaitu) seorang Rasul dari Allah (Nabi Muhammad) yang membacakan kepada mereka lembaran-lembaran yang disucikan (alQuran). Di dalamnya terdapat (isi) kitab yang lurus. Dan tidaklah terpecah belah orang-orang Ahlul Kitab kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka hanyalah diperintah untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama, dan menegakkan sholat, serta menunaikan zakat. Itu adalah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab dan kaum musyrikin berada di Neraka Jahannam kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk (Terjemahan Q.S al-Bayyinah ayat 1-6)

Penjelasan dalam Tafsir as-Sa’diy:

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) Tidaklah orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab, yaitu Yahudi dan Nashara, dan kaum musyrikin pada seluruh umat, melepaskan diri dari kekufuran dan kesesatan mereka. Artinya, mereka akan terus menerus berada dalam penyimpangan dan kesesatan mereka, tidaklah waktu berlalu bertahun-tahun selain menambah kekufuran mereka.

“Hingga datangnya bukti yang jelas”, (yaitu) bukti yang terang benderang. Kemudian Allah menjelaskan apakah bukti tersebut. (Yaitu) Rasul yang Allah utus yang mengajak manusia kepada kebenaran, dan diturunkan kepada beliau kitab yang beliau baca, untuk mengajari manusia hikmah dan menyucikan mereka, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Karena itu Allah menyatakan (yang artinya) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan. Artinya, terjaga untuk tidak didekati Syaithan.Tidak ada yang menyentuhnya kecuali yang disucikan. Karena itulah Kalam (ucapan) yang tertinggi.

Allah menyatakan tentangnya: di dalamnya, pada lembaran-lembaran itu, terdapat kitab-kitab yang lurus, yaitu berita-berita yang jujur, perintah-perintah yang adil, yang menunjukkan pada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.

Jika telah datang kepada mereka bukti ini, saat itulah akan jelas siapa yang benar-benar mencari kebenaran dan siapa yang tidak demikian. Sehingga orang yang celaka, mengalami kecelakaan setelah disampaikan bukti, dan menjadi hidup (mulia) orang yang hidup (mulia) dengan adanya bukti.

Kalau Ahlul Kitab tidak beriman dan tunduk kepada Rasul ini, itu bukanlah hal pertama dari kesesatan dan pembangkangan mereka. Mereka terpecah belah berselisih hingga menjadi kelompok-kelompok.

“Kecuali setelah datang kepada mereka bukti”, yang mengharuskan orang-orang yang menerimanya untuk bersatu di dalamnya. Namun, karena kebusukan dan kerendahan mereka, tidaklah petunjuk yang datang kecuali semakin membuat mereka sesat (karena menentang, pent). Tidak ada lagi kecuali kebutaan.

Padahal seluruh kitab berasal dari sumber yang sama, agama yang sama. Pada seluruh syariat (Nabi yang diutus, pent) tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadah hanya kepada Allah mengikhlaskan agama. Artinya, mereka harus mempersembahkan seluruh ibadah yang lahiriah maupun batin hanya mengharap Wajah Allah (ikhlas) dan mencari kedekatan dengan Allah.Agama itu adalah yang hanif, artinya berpaling dari seluruh agama yang menyelisihi agama Tauhid.

Pada ayat ini (ayat ke-5) terdapat pengkhususan penyebutan sholat dan zakat, padahal sudah masuk dalam pernyataan: beribadah kepada Allah dengan ikhlas, karena keduanya (sholat dan zakat) memiliki keutamaan dan kemuliaan tersendiri. Barangsiapa yang menegakkan dua ibadah tersebut (sholat dan zakat) ia bisa (dengan taufiq Allah, pent) menegakkan seluruh syariat agama.

Yang demikian itu, tauhid dan keikhlasan dalam agama adalah agama yang lurus yang bisa menyampaikan seseorang kepada Surga yang penuh kenikmatan. Sedangkan agama selainnya akan menghantarkan pada Neraka.

Kemudian Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang kafir setelah datangnya bukti yang jelas. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab dan kaum musyrik berada di Neraka Jahannam”. Adzabnya telah mengepung mereka, dan sungguh keras (pedih) siksaannya. “Mereka kekal di dalamnya”, tidak akan dikurangi adzab untuk mereka, dan mereka pun dalam keadaan putus asa di dalamnya.

“Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk” karena mereka mengenal kebenaran kemudian meninggalkannya. Kerugianlah bagi mereka di dunia dan di akhirat.

Lafadz Asli dalam Tafsir as-Sa’diy (ayat 1-6 Surat al-Bayyinah):

يقول تعالى: { لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ } أي: [من] اليهود والنصارى { وَالْمُشْرِكِينَ } من سائر أصناف الأمم. { مُنْفَكِّينَ } عن كفرهم وضلالهم الذي هم عليه، أي: لا يزالون في غيهم وضلالهم، لا يزيدهم مرور السنين إلا كفرًا. { حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ } الواضحة، والبرهان الساطع، ثم فسر تلك البينة فقال: { رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ } أي: أرسله الله، يدعو الناس إلى الحق، وأنزل عليه كتابًا يتلوه، ليعلم الناس الحكمة ويزكيهم، ويخرجهم من الظلمات إلى النور، ولهذا قال: { يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً } أي: محفوظة عن قربان الشياطين، لا يمسها إلا المطهرون، لأنها في أعلى ما يكون من الكلام.
ولهذا قال عنها: { فِيهَا } أي: في تلك الصحف { كُتُبٌ قَيِّمَةٌ } أي: أخبار صادقة، وأوامر عادلة تهدي إلى الحق وإلى صراط مستقيم، فإذا جاءتهم هذه البينة، فحينئذ يتبين طالب الحق ممن ليس له مقصد في طلبه، فيهلك من هلك عن بينة، ويحيا من حي عن بينة. وإذا لم يؤمن أهل الكتاب لهذا الرسول وينقادوا له، فليس ذلك ببدع من ضلالهم وعنادهم، فإنهم ما تفرقوا واختلفوا وصاروا أحزابًا { إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ } التي توجب لأهلها الاجتماع والاتفاق، ولكنهم لرداءتهم ونذالتهم، لم يزدهم الهدى إلا ضلالا ولا البصيرة إلا عمى، مع أن الكتب كلها جاءت بأصل واحد، ودين واحد فما أمروا في سائر الشرائع إلا أن يعبدوا { اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ } أي: قاصدين بجميع عباداتهم الظاهرة والباطنة وجه الله، وطلب الزلفى لديه، { حُنَفَاءَ } أي: معرضين [مائلين] عن سائر الأديان المخالفة لدين التوحيد. وخص الصلاة والزكاة [بالذكر] مع أنهما داخلان في قوله { لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ } لفضلهما وشرفهما، وكونهما العبادتين اللتين من قام بهما قام بجميع شرائع الدين.
{ وَذَلِكَ } أي التوحيد والإخلاص في الدين، هو { دِينُ الْقَيِّمَةِ } أي: الدين المستقيم، الموصل إلى جنات النعيم، وما سواه فطرق موصلة إلى الجحيم. ثم ذكر جزاء الكافرين بعدما جاءتهم البينة، فقال: { إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ } قد أحاط بهم عذابها، واشتد عليهم عقابها، { خَالِدِينَ فِيهَا } لا يفتر عنهم العذاب، وهم فيها مبلسون، { أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ } لأنهم عرفوا الحق وتركوه، وخسروا الدنيا والآخرة.

✅Ayat ke-7 Surat al-Bayyinah

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ ٧

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk (Terjemah Q.S al-Bayyinah ayat 7)

Penjelasan dalam Tafsir as-Sa’diy:

لأنهم عبدوا الله وعرفوه، وفازوا بنعيم الدنيا والآخرة

Karena mereka (orang beriman dan beramal sholih) beribadah kepada Allah dan mengenal-Nya, mereka beruntung dengan kenikmatan di dunia dan di akhirat

✅Ayat ke-8 Surat al-Bayyinah

جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ
فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ ٨

Balasan untuk mereka (orang beriman dan beramal sholih) di sisi Rabb mereka adalah Surga-Surga Adn yang sungai-sungai mengalir di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selamanya. Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada Allah. Itu adalah (balasan) bagi yang takut kepada Rabbnya (Terjemah Q.S al-Bayyinah ayat 8)

Penjelasan dalam Tafsir as-Sa’diy:

جنات إقامة، لا ظعن فيها ولا رحيل، ولا طلب لغاية فوقها، { تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ } فرضي عنهم بما قاموا به من مراضيه، ورضوا عنه، بما أعد لهم من أنواع الكرامات وجزيل المثوبات { ذَلِكَ } الجزاء الحسن { لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ } أي: لمن خاف الله، فأحجم عن معاصيه، وقام بواجباته

Surga-Surga sebagai tempat menetap. Tidak akan beranjak dan pergi lagi darinya. Tidak pula mencari yang di atasnya.

“Mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selamanya, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah”. Allah ridha kepada mereka karena mereka melakukan hal-hal yang diridhainya. Mereka pun ridha kepada Allah karena berbagai kemuliaan dan balasan kebaikan yang berlimpah yang disediakan untuk mereka.

Balasan yang baik itu adalah bagi yang takut kepada Allah, menahan diri meninggalkan hal-hal yang dilarangNya, dan menegakkan kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikannya.