Beranda Fatwa-Fatwa FATWA SYAIKH BIN BAZ DAN IBN UTSAIMIN TENTANG RINTIHAN ORANG YANG SAKIT

FATWA SYAIKH BIN BAZ DAN IBN UTSAIMIN TENTANG RINTIHAN ORANG YANG SAKIT

112
0
BERBAGI

Penerjemah: Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

1. Fatwa Syaikh Bin Baz rahimahullah

السؤال: هل يجوز الأنين للمريض أم هذا من الشكوى سماحة الشيخ؟
الجواب: الأنين لا بأس به إذا تألم لا بأس، ليس من الشكوى، إذا دعت الحاجة إلى ذلك وصار فيه راحة له فلا بأس

Pertanyaan: Apakah boleh bagi orang yang sakit merintih (mengaduh), ataukah itu termasuk pengaduan (yang dilarang, pent) wahai Samahatus Syaikh?

Jawaban Syaikh Bin Baz rahimahullah:

Merintih tidak mengapa, jika ia merasakan sakit. Hal itu tidak mengapa. Bukan termasuk mengadu (yang dilarang, pent). Jika memang hal itu dibutuhkan, dan bisa menimbulkan perasaan nyaman, tidak mengapa.
(https://binbaz.org.sa/fatwas/12851/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A7%D9%86%D9%8A%D9%86-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B1%D9%8A%D8%B6)

2. Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah

عن صحة قول: أنين المريض تسبيح وصياحه تكبير وتقلبه من جانب إلى جانب جهاد في سبيل الله هل هذا الكلام صحيح؟
فأجاب رحمه الله تعالى: هذا ليس بصحيح بل أنين المريض إذا كان يعبر عن الشكوى فهو حرام ولهذا دخل رجل على الإمام أحمد رحمه الله وهو في مرضه فوجده يئن فقال له إن فلانا من التابعين وأظنه طاووسا يقول إن أنين المريض يكتب عليه لقوله تعالى (ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد) فأمسك رضي الله عنه أعني الإمام أحمد أمسك عن الأنين فإذا كان الأنين يعبر عن الشكوى فهو حرام وإذا كان بمقتضى الطبيعة وشدة المرض فإنه لا يؤاخذ عليه الإنسان لكنه لا يؤجر عليه وكذلك تقلبه من جنب إلى جنب فإنه ليس فيه أجر نعم إذا كان فيه راحة لبدنه فإن الإنسان يؤجر عليه من أجل طلب الراحة لبدنه لأن طلب الإنسان الراحة لبدنه أمر يثاب عليه حتى جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم أن الرجل إذا أكل من ماله يبتغي بذلك وجه الله فإنه يؤجر ويكون أكله هو من ماله صدقة

Pertanyaan tentang ucapan: “Rintihan orang yang sakit adalah tasbih, teriakannya adalah takbir, gerakan membolak-balikkan badan dari satu sisi ke sisi lain adalah jihad di jalan Allah”. Apakah ucapan ini benar?

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Ini tidaklah benar. Bahkan, rintihan orang yang sakit jika merupakan bentuk pengaduan (menampakkan ketidakrelaan akan takdir Allah, pent), ini haram. Seorang laki-laki pernah masuk menemui al-Imam Ahmad rahimahullah yang sedang sakit. Orang itu mendapati al-Imam Ahmad merintih. Kemudian orang itu berkata: Sesungguhnya seorang Tabi’in, yang aku mengira itu adalah Thowus berkata: Sesungguhnya rintihan orang yang sakit akan ditulis (oleh Malaikat, pent).

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tidaklah terucap suatu ucapan, kecuali di sisinya ada Malaikat yang selalu mengawasi dan hadir (Q.S Qaaf ayat 18)

Maka beliau –semoga Allah meridhainya- menahan diri untuk tidak merintih. Jika rintihan itu adalah bentuk ketidakrelaan, ini adalah haram. Jika itu sekedar sesuai tabiat, karena saking sakitnya, seseorang tidaklah berdosa. Namun ia tidak berpahala dengannya. Demikian juga jika ia membolak-balikkan tubuhnya dari satu sisi ke sisi yang lain, hal itu tidaklah berpahala. Jika (apa yang dilakukan itu) membuat badannya merasa lebih nyaman, seseorang akan mendapatkan pahala. Ia mendapatkan pahala karena upayanya untuk membuat badannya terasa lebih nyaman. Karena upaya seseorang untuk membuat badannya terasa lebih nyaman, akan mendatangkan pahala.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam bahwasanya seorang laki-laki yang ia memakan dari (bagian) hartanya, dengan mengharapkan Wajah Allah (ikhlas), ia akan mendapatkan pahala. Perbuatannya memakan dari (bagian) hartanya itu adalah (ternilai) shodaqoh.
(Fataawa Nuurun alad Darb libni Utsaimin (194/33)).