Beranda Kisah PELAJARAN DARI KISAH YANG DICERITAKAN ABDAH BIN ABDIRRAHIM

PELAJARAN DARI KISAH YANG DICERITAKAN ABDAH BIN ABDIRRAHIM

1196
0
BERBAGI

Ditulis Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

قال عبدة بن عبد الرحيم دخلنا بلاد الروم وكان معنا شاب يقطع نهاره بقراءة القرآن والصوم وليلة بالقيام وكان من أعلم الناس بالفرائض والفقة فمررنا بحصن لم نؤمر أن نقف عليه فمال إلى ناحية الحصن ونزل عن فرسه يبول فنظر إلى من ينظر من فوق الحصن فرأى امرأة فاعجبته فقال لها بالرومية كيف السبيل إليك فقالت هين تنصر فنفتح لك الباب وأنا لك ففعل ودخل الحصن فنزل بكل واحد منا من الغم ما لو كان ولده من صلبه ما كان أشد عليه فقضينا غزاتنا فرجعنا فلم نلبث إلا يسيرا حتى خرجنا إلى غزوة أخرى فمررنا بذلك الحصن فإذا هو ينظر مع النصارى فقلنا يا فلان ما فعل قرآنك ما فعل علمك ما فعل صومك وصلاتك فقال أنسيت القرآن كله حتى لا أحفظ منه إلا قوله ” ربما يود الذين كفروا لو كانوا مسلمين ذرهم يأكلوا ويتمتعوا ويلههم الأمل فسوف يعلمون

Abdah bin Abdirrahim berkata: Kami memasuki negeri Romawi. Bersama rombongan kami ada seorang pemuda yang selalu melewati siang dalam kehidupannya dengan membaca al-Quran dan berpuasa. Sedangkan waktu malam ia lewati dengan melakukan qiyaamul lail. Pemuda ini termasuk orang yang paling berilmu tentang hukum warisan dan fiqh.

Suatu saat kami melewati suatu benteng yang sebenarnya kami tidak diperintah untuk berhenti di sana. Pemuda itu kemudian menuju sudut benteng, turun dari kudanya dan kencing. Ia kemudian melihat ke atas ada seorang wanita cantik yang menawan hatinya.

Pemuda itu pun berkata kepada wanita itu dalam bahasa Romawi: Bagaimana caranya untuk bisa mendapatkanmu.

Wanita itu berkata: Mudah. Jadilah seorang Nashrani. Aku akan bukakan pintu untukmu dan aku menjadi milikmu.

Pemuda itu pun melaksanakan perintah wanita tersebut. Ia pun masuk ke dalam benteng. Kami pun sangat bersedih dengan kesedihan yang sangat. Jika dibandingkan seandainya itu terjadi pada anak kandung kami sendiri, kesedihan akibat sikap (murtad) pemuda itu akan lebih besar. Kami pun menyelesaikan pertempuran kami kemudian kami pulang.

Tidak berapa lama kami pun keluar untuk pertempuran yang lain. Kami melewati benteng itu. Kami melihat pemuda itu sedang melihat keluar bersama kaum Nashara. Kami berkata kepadanya: Wahai fulan, apa yang terjadi dengan bacaan Quranmu?! Apa yang terjadi dengan puasa dan sholatmu?! Pemuda itu berkata: Aku telah lupa dengan seluruh ayat alQuran kecuali hanya (2) ayat, yaitu:

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (2) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (3)

Orang-orang kafir akan berharap duhai seandainya dulu mereka adalah muslim. Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang serta dilalaikan oleh angan mereka, sungguh nantinya mereka akan mengetahuinya (Q.S al-Hijr ayat 2-3)

( Tarikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asaakir (37/378) dan lafadz sesuai dalam Tarikh Dimasyq, Syu’abul Iman karya al-Baihaqiy (4/54)), al-Muntadzham karya Ibnul Jauziy (5/130))

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah tersebut, di antaranya:

    1. Seseorang tidak boleh merasa ujub (bangga diri) dengan banyaknya pencapaian darinya. Selama seseorang masih hidup, tidak aman dari fitnah. Bisa saja seorang tergelincir dan menyimpang sebelum mencapai finish akhir kehidupannya. Pemuda itu adalah seorang yang hafal Quran, banyak mengisi waktunya dengan baca Quran. Siang hari puasa, malam Qiyamul Lail. Ia ahli fiqh. Ia juga ikut dalam jihad bersama kaum muslimin. Namun kemudian ia menjadi murtad – wal iyaadzu billaah -. Semestinya hanya kepada Allah saja lah seseorang berharap husnul khotimah (akhir kehidupan yang baik) dan memohon dijauhkan dari suu-ul khotimah (akhir kehidupan yang buruk).
    2. Besarnya fitnah wanita bagi kaum pria. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

      مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ

      Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang lebih membahayakan bagi kaum lelaki dibandingkan (fitnah) wanita (H.R al-Bukhari dan Muslim)

      Dalam kisah tersebut, fitnah langsung menimbulkan pengaruh dengan sekali pandangan.

    3. Hanya Allah saja yang bisa memberikan hidayah. Barangsiapa yang Allah beri hidayah tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa yang Allah sesatkan, tidak ada yang bisa memberikan hidayah kepadaNya.

Catatan: Sebagian referensi menyebutkan bahwa yang murtad itu adalah Abdah bin Abdirrahim. Itu suatu kesalahan. Yang benar adalah bahwa yang bercerita tentang kisah itu adalah Abdah bin Abdirrahim, sedangkan yang murtad adalah seorang pemuda yang tidak disebut namanya. Abdah bin Abdirrahim adalah termasuk guru al-Imam anNasaai yg dinilai shoduq oleh sebagian Ulama. Beliau wafat tahun 244 H.

Wallaahu A’lam.

 Baca Juga: SEPENGGAL KISAH MUJAHID MUDA [dari Kitab Jihad, Ibnul Mubarok]