KITAB KE-1: KITABUL IMAN (KEIMANAN). Bab ke-23 : Penjelasan Bahwa Dien itu adalah anNashiihah.

0
9295

 Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah

✅ Hadits no 95.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ الْمَكِّىُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ قُلْتُ لِسُهَيْلٍ إِنَّ عَمْرًا حَدَّثَنَا عَنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِيكَ قَالَ وَرَجَوْتُ أَنْ يُسْقِطَ عَنِّى رَجُلاً قَالَ فَقَالَ سَمِعْتُهُ مِنَ الَّذِى سَمِعَهُ مِنْهُ أَبِى كَانَ صَدِيقًا لَهُ بِالشَّامِ ثُمَّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ ».

🍃 Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abbaad al-Makkiy (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Sufyan ia berkata: Aku berkata kepada Suhail sesungguhnya ‘Amr menceritakan kepada kami dari al-Qo’qo’ dari ayahmu ia berkata dan aku berharap dia tidak menyebutkan satu perawi. Ia berkata: saya mendengar dari orang yang ayahku mendengar darinya yang merupakan temannya di Syam. Kemudian telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Suhail dari Atho’ bin Yazid dari Tamiim ad-Daariy –semoga Allah meridhainya- bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: Agama ini adalah anNashihah. Kami bertanya: Untuk siapa? Nabi bersabda: untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin secara umum.

🌹 Catatan Penerjemah:

🌷 Para Sahabat Nabi telah memahami makna anNashiihah yaitu memurnikan atau mengikhlaskan sesuatu. Karena itu mereka bertanya sikap anNashiihah itu diberikan kepada siapa. Nabi menjelaskan bahwa anNashiihah ditujukan untuk Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum.

▶ anNashiihah kepada Allah adalah dengan mengikhlaskan ibadah kepadaNya, tidak mensekutukanNya dengan suatu apapun, menghinakan diri di hadapanNya, berbaik sangka terhadapNya, dan berbagai keyakinan, ucapan, atau perbuatan yang harus dilakukan untuk Allah.

⏩ anNashiihah kepada KitabNya adalah dengan meyakini Kitab-Kitab yang Allah turunkan kepada hambaNya, namun yang dijadikan pedoman bagi kaum muslimin saat ini hanyalah alQuran, dengan mempelajari al-Quran, memahaminya, melaksanakan, mendakwahkan, dan membelanya.

➡ anNashiihah kepada RasulNya adalah dengan membenarkan semua berita yang datang dari beliau, mentaati perintahnya, menjauhi larangannya, mencintai beliau lebih dibandingkan manusia lainnya, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan tuntunan dari beliau.

↗ anNashiihah kepada pemimpin kaum muslimin adalah dengan Mengakui kepemimpinannya, mentaati perintahnya selama tidak dalam kemaksiatan kepada Allah, menjaga kehormatan dan kewibawaannya di hadapan rakyat, membantu mensukseskan kebijakan-kebijakannya yang ma’ruf, memberikan nasehat kepadanya secara diam-diam dengan cara yang beradab (sesuai hadits ‘Iyaadh bin Ghonm), sabar terhadap kekurangan dan kedzaliman yang ada padanya, berdoa kepada Allah untuk kebaikan mereka (para pemimpin).

↪ Sikap anNashiihah kepada kaum muslimin secara umum adalah dengan bersikap kepada mereka hal-hal yang kita senang diperlakukan demikian.

💐 (disarikan dari penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin dalam ta’liq ala Shahih Muslim juz 1 halaman 172 dengan penambahan).

🌏 Jarir bin Abdillah adalah salah seorang Sahabat Nabi yang benar-benar ingin mewujudkan sikap an-Nashiihah pada setiap muslim karena beliau telah berbaiat kepada Nabi untuk bersikap demikian. Suatu hari ia perintahkan kepada maulanya untuk membeli kuda seharga 300 dirham. Maka, maulanya tersebut kemudian mendapatkan penjual dan kudanya yang cocok dengan harga itu, didatangkan kepada Jarir. Sang penjual sebenarnya sudah setuju kudanya dijual dengan harga 300 dirham.
Ketika ditunjukkan pemilik kuda dan kudanya itu, kemudian Jarir memperhatikan bahwa sebenarnya kuda itu sangat bagus. Ia kemudian berkata: Wahai saudaraku, kudamu lebih tinggi harganya dari 300 dirham, apakah kau mau aku beli dengan harga 400 dirham? Penjualnya mengatakan: terserah engkau wahai Abu Abdillah (julukan Jarir). Jarir berpikir u

lang dan menimbang, kemudian berkata lagi : kudamu lebih baik dari 400 dirham, bagaimana kalau aku beli dengan harga 500 dirham. Pemilik kuda berkata lagi : terserah engkau wahai Abu Abdillah. Demikian seterusnya, Jarir menambah seratus-seratus dirham, hingga mencapai 800 dirham.
Setelah selesai transaksi, orang yang keheranan dengan sikap Jarir tersebut menanyakan mengapa Jarir berbuat demikian. Akhirnya Jarir berkata : Sesungguhnya aku telah berbaiat kepada Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam untuk bersikap anNashiihah kepada setiap muslim (Syarh Shahih Muslim karya anNawawy juz 2 halaman 40, dinukil secara ringkas dari riwayat atThobarony).

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

📚 Dikutip dari Buku “Terjemah Shahih MUSLIM (Abul-Husain Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi Rahimahullah)”. Jilid 1

Penerbit : Cahaya Sunnah- Bandung