TRANSKRIP TERJEMAHAN TAUSHIYAH SYAIKH KHOLID ADZ-DZHAFIRIY KEPADA IKHWAH SALAFY SINGAPURA (RAMADHAN 1437 H) (bag2)

0
716

Penerjemah: Al Ustadz Abu Utsman Kharisman.

Termasuk di antara keutamaan Lailatul Qodr adalah sebagaimana hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang melakukan qiyaamul lail pada Lailatul Qodr dengan iman dan berharap (pahala), akan diampuni dosanya yang telah lalu (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

(Melakukan qiyaamul lail pada Lailatul Qodr) dengan keimanan kepada janji Allah dan keimanan terhadap (hal-hal) yang Allah persiapkan berupa pahala bagi orang yang menegakkannya. (Juga diikuti perasaan) berharap pahala.

Maka hendaknya seorang yang beriman berada dalam kondisi ini. Ia memanfaatkan malam-malam ini untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Ia manfaatkan malam-malam ini untuk kembali kepada al-Maulaa (Allah) Subhaanahu Wa Ta’ala dengan bertaubat kepada-Nya.

Rabb kita Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi tidak butuh terhadap ibadah – ibadah kita. Dia memanggil para hamba-Nya tiap malam:

هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ هَلْ مِنْ تَائِبٍ هَلْ مِنْ سَائِلٍ هَلْ مِنْ دَاعٍ

Apakah ada (hambaKu) yang akan memohon ampunan (sehingga Aku akan ampuni). Apakah ada (hambaKu) yang bertaubat (sehingga Aku terima taubatnya). Apakah ada orang yang meminta (sehingga Aku beri). Apakah ada yang berdoa (sehingga Aku kabulkan)(H.R Muslim dari Abu Hurairah)

Rabb kita Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi adalah Yang Maha Kaya (tidak butuh segala sesuatu, pent).

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ

Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla membentangkan Tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di waktu siang. Dan Dia membentangkan Tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di waktu malam (H.R Muslim dari Abu Musa)

Maka wajib bagi kita untuk mengikhlaskan ibadah-ibadah kita kepada Allah. Janganlah melakukan kesyirikan. Kita harus menghindar dari kesyirikan dan berbagai macam bentuknya. Kita wajib mengikhlaskan Dien hanya untuk Allah.

   فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

Beribadahlah kepada Allah dengan mengikhlaskan Dien untuk-Nya (Q.S az-Zumar ayat 2)

Kita wajib menjauhi kebid’ahan dan hawa nafsu dan kita harus berpegang teguh dengan Sunnah al-Musthofa (Nabi) shollallahu alaihi wasallam dan petunjuk dari Salafus Shalih (para pendahulu yang sholih).

…وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

…Dan orang yang mengikuti selain jalannya orang-orang beriman, niscaya akan Kami biarkan dia ke arah berpalingnya (tidak Kami beri taufiq), dan Kami akan memasukkannya ke Jahannam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali (Q.S anNisaa’ ayat 115)

Demikianlah yang harus kita lakukan – saudaraku di jalan Allah – , pada (waktu –waktu yang diharapkan) kebaikan maupun keberkahannya. Kita hendaknya  memanfaatkannya untuk mencari keridhaan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Berbekal dengan amal sholih, taqorrub (upaya mendekatkan diri) kepada Allah Azza Wa Jalla. Khususnya pada malam-malam yang diberkahi ini.

Jibril pernah datang kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam. Para Sahabat melihat Nabi naik ke atas mimbar. Pada tingkatan pertama beliau mengucapkan Aamiin. Beliau kemudian naik ke tingkatan kedua, mengucapkan Aamiin. Kemudian beliau naik ke tingkatan ketiga dan mengucapkan Aamiin. Para Sahabat bertanya tentang perbuatan beliau tersebut. Di antara ucapan Nabi shollallahu alaihi wasallam adalah: Jibril baru saja mendatangi aku dan berkata:

وَرَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ

Sungguh celaka seseorang yang mendapati Ramadhan, namun tidak diampuni (H.R Ahmad, atTirmidzi, dan lainnya)

Jibril mendoakan (keburukan) untuknya. Orang tersebut tidak memanfaatkan Ramadhan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah, al-Maulaa Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.

(Setelah mendengar doa Jibril itu) Nabi mengucapkan Aamiin. Jibril berdoa sedangkan Nabi mengaminkan. Cukuplah itu sebagai hukuman dan kerusakan (bagi orang tersebut).

Orang yang beruntung itu  – wahai saudaraku di jalan Allah – adalah yang memanfaatkan (waktu-waktu) kebaikan dan keberkahan sebelum berakhirnya usia atau waktu tersebut. (Manfaatkanlah waktu) sebelum masa tuamu. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum datangnya sakit. Sebelum kematianmu. Demikanlah yang seharusnya dilakukan seorang mukmin.

…قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

…Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api Neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Di Neraka tersebut terdapat Malaikat yang keras dan mengerikan, yang tidak bermaksiat kepada Allah dan mengerjakan hal yang diperintahkan (kepadanya) (Q.S atTahriim ayat 6)

Aku meminta kepada Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi agar memberikan taufiq kepada kita menuju petunjuk, dan agar Dia menolong kita agar berpegang teguh dengan Sunnah dan jalan Salafus Sholih.

Dan aku meminta kepada Allah agar memberikan tambahan kebaikan (fadhilah) kepada kita.

Wallaahu A’lam.

Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, dan jazaakumullahu khayran atas kesediaan mendengarkan (taushiyah) ini.

<< file audio taushiyah tersebut bisa diunduh di: https://drive.google.com/file/d/0B8vJBR38HOyQT0RwMndWWU5KNms/view?pref=2&pli=1 >>