Beranda Fiqih KAJIAN FIQH : ADZAN DAN IQOMAT (Bag ke-1)

KAJIAN FIQH : ADZAN DAN IQOMAT (Bag ke-1)

1231
0
BERBAGI

Di Tulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

Kumandang adzan adalah panggilan untuk sholat menuju masjid dan pertanda waktu sholat telah masuk. Waktu-waktu sholat InsyaAllah akan dijelaskan pada bab ‘Syarat yang Harus Dipenuhi Sebelum Pelaksanaan Sholat’.

Hukum Adzan

Adzan hukumnya adalah fardlu kifaayah. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ

Jika datang (waktu) sholat, adzanlah salah seorang di antara kalian (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Malik bin al-Huwairits)

Adzan adalah syiar Islam yang nampak jelas. Salah satu tanda bahwa suatu daerah adalah wilayah Islam jika di area itu terdengar kumandang adzan.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا غَزَا بِنَا قَوْمًا لَمْ يَكُنْ يَغْزُو بِنَا حَتَّى يُصْبِحَ وَيَنْظُرَ فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا كَفَّ عَنْهُمْ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ أَذَانًا أَغَارَ عَلَيْهِمْ

Dari Anas bin Malik bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam jika akan menyerang suatu kaum, beliau tidak memulai penyerangan hingga datang waktu Subuh dan melihat keadaan. Jika terdengar adzan beliau menahan (tidak jadi menyerang). Jika tidak mendengar adzan, beliau menyerang kaum itu (H.R al-Bukhari no 575 dari Anas bin Malik)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُغِيرُ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ وَكَانَ يَسْتَمِعُ الْأَذَانَ فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا أَمْسَكَ وَإِلَّا أَغَارَ فَسَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْفِطْرَةِ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجْتَ مِنْ النَّارِ فَنَظَرُوا فَإِذَا هُوَ رَاعِي مِعْزًى

Dari Anas bin Malik beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam (memulai) penyerangan jika terbit fajar. Beliau akan menyimak suara adzan (di waktu itu). Jika beliau mendengar adzan, beliau tahan (tidak menyerang). Namun jika tidak terdengar, beliau menyerang. Kemudian (suatu ketika) terdengar seorang laki-laki berkata (dalam adzan): Allaahu Akbar Allaahu Akbar. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menyatakan: berada di atas fithrah. Kemudian (orang itu) berkata: Asy-hadu anlaa ilaaha illallaah, asyhadu an laa ilaaha illallaah. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: engkau keluar dari neraka. Kemudian para Sahabat melihat kepada arah suara adzan itu ternyata (yang mengumandangkan adzan) adalah penggembala kambing (H.R Muslim dari Anas bin Malik)

Lafadz-lafaz adzan yang disyariatkan:

Berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid riwayat Abu Dawud,atTirmidzi, Ibnu Majah:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ -اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ – أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ- أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ- أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ – أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ -حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ -حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ -حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ -حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ -اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ- لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Lafadz adzan berdasarkan hadits Abu Mahdzuuroh riwayat Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ -اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ- أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ- أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ- أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ- أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ -أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ- أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ- أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ- أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ -حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ -حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ- حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ -حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ- اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ- لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه

Catatan :

Lafadz adzan yang pertama adalah yang masyhur dikumandangkan di seluruh penjuru dunia saat ini.

Lafadz adzan yang kedua adalah yang dipilih oleh al-Imam asy-Syafi’i dalam kitabnya al-Umm.

Inti perbedaan antara lafadz pertama dengan kedua adalah bahwa dalam lafadz kedua ada at-Tarji’, yaitu kembali mengucapkan dua kalimat syahadat (masing-masing dua kali). Setelah ucapan asyhadu anna muhammadar rosuulullah yang kedua di bagian pertama kembali mengucapkan asyhadu an laa ilaaha illallaah.

Boleh menggunakan kedua jenis bacaan adzan tersebut, namun jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah, sebaiknya menggunakan lafadz adzan yang masyhur saja.