KEDUDUKAN HATI ( Bagian Kedua )

0
485

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah Ta’ala telah menciptakan pada setiap manusia tiga wadah yang pokok:
1. Otak
2. Hati
3. Perut.

Otak adalah wadah berfikir dan mengingat, hati adalah wadah bagi iman dan tauhid, sedangkan perut adalah wadah bagi makanan dan minuman. Masing-masing wadah butuh pengisian, engkaulah yang akan mengisinya dan engkau pula yang akan mendapatkan buahnya.

Hati memiliki kedudukan yang tinggi pada diri manusia;
a. Hati adalah tempatnya iman, kejujuran, keyakinan dan pengagungan kepada Sang Pencipta semesta alam. Hati adalah tempatnya rasa takut, tawakal, kecintaan kepada Allah, ketundukan dan penyerahan diri kepada Allah semata.

{وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ}

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” [QS. Al-Hujuraat: 7]

{قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ}

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Hujuraat: 14]

b. Allah Ta’ala menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. [QS. At-Tiin: 4]

Allah menciptakan untuk manusia sebuah hati agar dengannya bisa mengenal segala sesuatu, sepasang mata agar bisa melihat, hidung untuk mencium bau, telinga untuk mendengar suara, tangan untuk memegang dan meraba, kaki untuk berjalan dan akal untuk berfikir. Semua anggota tubuh ini dikuasai oleh hati. Hati adalah laksana raja bagi seluruh anggota tubuh, sehingga baik atau buruknya amalan anggota tubuh ditentukan dengan baik atau buruknya hati.

Allah Ta’ala berfirman:

{إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ}

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati (akal) atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” [QS. Qaaf: 37]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ، صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ، فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ»

“Ketahuilah, bahwa dalam setiap tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka baik pula seluruh badannya, namun jika segumpal daging tersebut rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya.” [Muttafaqun ‘alaihi]

c. Hati merupakan tempatnya ketakwaan, sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

«التَّقْوَى هَاهُنَا» وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Takwa itu ada di sini.” Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali sambil menunjuk dadanya.” [HR. Muslim, dari shahabat Abu Hurairah]

Jika kita perhatikan dari nash Al-Quran dan As-Sunnah maka kita dapatkan bahwa hati terbagi menjadi tiga macam;
1. Hati yang salim.
2. Hati yang mati.
3. Hati yang sakit.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

{يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)}

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang salim (bersih).” [QS. Asy Syu’araa’: 88-89]

{أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ}

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” [QS. Al-Hadid:16]

{خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ}

“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” [QS. Al-Baqarah:10]

{فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ}

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” [QS. Al-Baqarah:10]

Masing-masing akan kami jelaskan definisi dan keadaannya –insya Allah– pada pertemuan selanjutnya. Wallahul muwaffiq.

wa mms