Kalimat-kalimat bijak Al-Imam Ahmad rahimahullah

Diposting oleh webadmin pada 7/11/2014

Kalimat-kalimat bijak Al-Imam Ahmad rahimahullah

Rasa takut telah membuatku tidak mampu makan dan minum. Jika aku mengingat kematian, seluruh urusan dunia terasa ringan
bagiku. Dunia itu hanya sebatas makan dan minum, pakaian lalu pakaian. Dunia itu hanya hari-hari yang pendek. Tidak ada yang bisa melebihi nikmatnya kefakiran. Seandainya ada jalan, aku ingin pergi saja agar tidak diingat-ingat lagi.

Sungguh, rasa-rasanya ingin mencapai tataran ilmu Al-Imam Ahmad di dalam memandang
dunia. Ya, bila dunia telah menjadi rendah dan hina di
hati, maka tidak ada lagi kesedihan dan rasa keluh. Segala-galanya diukur dengan
kepentingan akhirat. Rumah tinggal sesungguhnya yang bersifat kekal abadi. Memang, untuk sampai ke tataran tersebut diperlukan waktu yang panjang. Harus melalui
perenungan ayat-ayat Al-Qur’an dan sabda-sabda Rasulullah juga teladan para ulama. Namun, janganlah pernah berputus asa!

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. 29:69)

Aku ingin sekali hidup di lembah-lembah negeri Mekkah agar tidak dikenali. Sungguh aku telah diuji dengan ketenaran. Sesungguhnya pagi
dan petang aku selalu berharap kematian.

Semoga Allah merahmati Al-Imam Ahmad… Alangkah bedanya dengan diri kita yang sangat hina ini! Ingin terkenal dan cinta popularitas. Bercita-cita menjadi orang tenar, walaupun tidak terucap lisan secara terang.

Alangkah jauhnya dengan diri kita yang jahil ini! Semua yang kita lakukan rasa-rasanya ingin
diupdate statusnya. Agar sebanyak mungkin teman dan sahabat menyambang “komentar” di dinding catatan. Duhai bahagianya jika yang mengomentari amat banyak!

Padahal siapa kita

Bandingkan dengan Al-Imam Ahmad yang memang pantas untuk disebut-sebut dan dipuji!
Ternyata beliau malah ingin hidup di lembah sunyi agar tidak Luthfak yaa Rabb…

Setiap orang yang pernah menyakitiku telah aku maafkan kecuali ahli bid’ah. Sungguh aku telah memaafkan Abu Ishaq (khalifah Al Mu’tashim). Aku membaca firman Allah :

ﻭَﻟْﻴَﻌْﻔُﻮﺍ ﻭَﻟْﻴَﺼْﻔَﺤُﻮﺍ ﺃَﻻ ﺗُﺤِﺒُّﻮﻥَ ﺃَﻥْ ﻳَﻐْﻔِﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ
ﻏَﻔُﻮﺭٌ ﺭَﺣِﻴﻢٌ

“…Dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nuur [24] : 22)

Nabi Muhammad juga memerintahkan Abu Bakar untuk memaafkan Misthah.
Apa untungnya untukmu jika Allah menyiksa saudaramu muslim karena sebab dirimu (yang tidak mau memaafkannya)?

Memang tidak mudah menjadi hamba pemaaf! Oleh sebab itu, janji-janji dari Allah untuk hamba yang pemaaf memang sangat mulia. Padahal, jika direnungkan kembali, dosa-dosa dan kesalahan kita kepada Allah tidak terukur lagi.

Namun, subhaanallah, Allah adalah Dzat yang maha memberi maaf dan maha menerima taubat. Bahkan dosa syirik sekalipun Allah maafkan jika diiringi taubat. Lalu, kita sebagai makhluk lemah dan penuh kedzaliman, apa yang menghalangi kita untuk menjadi hamba pemaaf? Tiada lain kecuali karena kesombongan dan kerasnya hati.

Suatu saat nanti kita pun akan sangat mengharapkan maaf dari orang lain. Sebab kita sendiri pun selalu berbuat salah kepada orang lain, meskipun kita tidak merasa atau tidak berani mengakui. Lalu, seperti apakah rasanya jika permohonan maaf kita tidak diterima oleh orang

Bercerminlah pada diri sendiri sebelum menilai orang lain!

Demi Allah, saat terjadi peristiwa itu (Mihnah) aku sangat berharap kematian.Demikian pula aku sangat berharap kematian untuk peristiwa sekarang dan peristiwa dahulu. Sesungguhnya, peristiwa sekarang adalah ujian dunia. Sementara peristiwa dahulu adalah ujian agama.

Sambil menggenggam jari jemari, Al-Imam Ahmad melanjatkan, “ Seandainya nyawaku berada ditanganku, pasti telah aku lepaskan”.
Kemudian beliau membuka genggaman tersebut.

Dahulu di masa Al Makmun, Al Mu’tashhim, Al Watsiq, dan dua tahun awal pemerintahan Al Mutawakkil , Al-Imam Ahmad diuji dengan siksaan dan penjara. Demi mempertahankan akidah beliau tetap bersabar. Kemudian, setelah dua tahun Al Mutawakkil memimpin, Al Imam Ahmad diuji dengan harta dunia. Sebab, Al Mutawakkil menghapuskan akidah sesat itu dari pemerintahannya. Al Mutawakkil sering mengutus orang untuk menyerahkan harta dalam jumlah yang sangat banyak untuk Al-Imam Ahmad. Namun, Al – Imam Ahmad menolak.

Luar biasa !
Beliau adalah teladan di dalam bersikap sabar dan tegar ketika menghadapi ujian agama dan dunia. Rahimahullah

“Wahai Abal Hasan (Al Maimuni) ! Hati-hatilah di dalam berpendapat jika engkau tidak memiliki seorang ulama di dalamnya!”

Pelajaran penting! Dalam urusan agama, tidak ada kebebasan berfikir dan berpendapat. Semua pendapat dan wacana dalam ruang beragama harus ditetapkan di atas pondasi dalil dan hujjah yaitu Al Qur’an dan Sunnah. Selain itu harus dipahami sesuai pemahaman para ulama Salaf! Itulah sikap beragama yang benar!

Rizki itu telah dibagi, tidak akan bertambah atau berkurang. Rizki itu disebut bertambah jika pemiliknya memperoleh kemudahan dari Allah untuk menginfakkannya dalam ketaatan. Hal itulah yang akan mengingatkan dan menambah rizki.

Demikian pula ajal manusia. Tidak akang mungkin bertambah atau berkurang.Ajal itu disebut berkurang jika pemiliknya memperoleh kemudahan dari Allah untuk menggunakan di dalam ketaatan sehingga ia menjadi hamba yang taat sepanjang umurnya. Hanya dengan ketaatan umur akan bertambah. Sementara umur akan berkurang dengan
maksiat. Adapun rentang waktu umur tidak akan bertambah atau berkurang.

Kemudian Al-Imam Ahmad membaca firman Allah,

ﻭَﻟِﻜُﻞِّ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺃَﺟَﻞٌ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺟَﺎﺀَ ﺃَﺟَﻠُﻬُﻢْ ﻻ ﻳَﺴْﺘَﺄْﺧِﺮُﻭﻥَ ﺳَﺎﻋَﺔً ﻭَﻻ
ﻳَﺴْﺘَﻘْﺪِﻣُﻮﻥَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.
( QS. Al-‘Araf [7] : 34)

Beliau membimbing kita untuk menilai rizki dan umur secara hakiki. Rizki dan umur sudah
ditentukan oleh Allah. Tidak akan mungkin berkurang atau bertambah. Namun, keberkahan rizki dan umur adalah cita-cita dan tekad kita.

Caranya? Dengan memanfaatkan rizki dan umur di dalam ketaatan. Seribu rupiah untuk bersedekah kepada kaum fakir tentu lebih besar nilainya di sisi Allah dibandingkan seratus ribu yang digunakan untuk membeli rokok, misalnya.

Walaupun hanya berusia 30 tahun lalu meninggal dunia namun dimakmurkan dengan ibadah, tentu lebih bernilai di sisi Allah dibandingkan hidup setengah Abad namun berkubang maksiat. Na’udzu billah min dzalik.

[Dikutip dari blok pemetik-ilmu, dari buku “Dari Ayunan Sampai Liang Lahat IMAM AHMAD rahimahullah Pemuda Ilmu dari Negeri Baghdad , Abu Nasiim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz.]

Ayo, Semangat Thalabul Ilmi Syar’i
WA Pemuda Salafy
➖➖➖➖➖➖
Ittiba’us Sunnahnbsp;

© 2013 Salafy.or.id . Silakan mengutip isi artikel dari salafy.or.id dengan Syarat bukan untuk tujuan komersial, tidak mengubah isi artikel baik menambah atau mengurangi dan menyebutkan alamat sumbernya (link/url)