Anjuran Untuk Ikhlas Dan Menjaga Waktu (d)

0
321

Alangkah baiknya orang yang berkata:

Umur itu lebih singkat waktunya

Daripada disia-siakannya di dalam hitungan

Raihlah keuntungan-keuntungan di dalamnya

Karena dia berjalan sebagaimana berlalunya awan

Bahkan dunia itu sendiri singkat sekali. Allah berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah prmainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan antara kalian, serta berbangga-bangga dalam hal banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kau lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti)ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhoan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 20)

Allah berfirman:

فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia itu laksana iar hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi suburlah karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi. Kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Kahfi: 45)

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَن لَّمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu,adalah seperti air (hujan)yang Kami turunkan dari langit,lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi.Di antaranya adayangdimakn manusiadanbinatang ternak.Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya,dan memakai (pula)perhiasannya ,dan pemilik-pemiliknyamengira bahwa mereka pasti menguasinya,tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang.Lalu Kami jadikan (tanaman-tanamanya)Laksankanlah tanam-tanamanyanng sudah disabit ,seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir.” (Yunus: 24)

Di dalam ayat-ayat ini dan yang semisalnya terdapat penghinaan terhadap urusan dunia, dan bahwasanya dunia adalah tempat yang fana dan akan sirna.

Ad-Dunya adalah kata ber-wazan (pola) fu’la dari kata ad-dunuw yang berarti dekat. Dinamakan demikian karena dunia mendahului yang lain (akhirat). Ada pula yang berpendapat bahwa dia dinamakan dunia karena dia akan segera sirna. Hal ini disebutkan oleh Al-Hafizh dalam Fathul Bari di awal hadits dari Shahih Al-Bukhori (hadits no. 1).

Dunia adalah harta yang akan sirna dan sebatas tempat berteduh. Tertipu oleh dunia merupakan kebinasaan. Allah berfirman:

وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

“Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahw mereka adalah orang-orang yang kafir.” (Al-An’am: 130)

Seorang penyair mengatakan:

Dialah dunia, yang mengatakan dengan sepenuh mulutnya;

Berhati-hatilah, berhati-hatilah dari sergapan dan seranganku

Maka janganlah kalian tertipu oleh satu senyuman dariku,

Ucapanku membuat tertawa, namun perbuatanku menyebabkan tangisan

Dunia adalah negeri kepayahan dan kelelahan. Seorang pemimpin di dunia tidak merasa bahagia dengan kepemimpinannya. Seorang pedagang tidak berbahagia dengan perniagaannya. Seorang bpetani tidak merasa bahagia dengan pertaniannya, dan seterusnya. Jika dunia baik untuk seseorang dari satu sisi, maka ia menjadi musibah dan bencana baginya dari sisi yang lain.

Kebahagiaan di dunia ini tidaklah sempurna bagi seorang pun. Allah berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (Al-Balad: 4)

Maksudnya dalam kepayahan.

Disebutkan di dalam Ash-Shahihain dari hadits Abu Qatadah:

Sebuah jenasah diusung lewat di hadapan Rasulullah, Beliau bersabda: “Bebas dan terbebas darinya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan bebas dan terbebas darinya?” Beliau menjawab: “Seorang hamba yang beriman terbebas dari kepenatan dan gangguan kehidupan dunia menujun rahmat Allah. Sedangkan hamba yang jahat menjadikan para hamba yang lain, negeri-negeri, pepohonan dan binatang-binatang terbebas dari kajahatan darinya.”

( Diambil dari Nasehat Untuk Kaum Musliman, Pustaka Ar Rayyan )