Beranda Kewanitaan Mari Senantiasa Bersyukur,Bersabar dan Bertaubat

Mari Senantiasa Bersyukur,Bersabar dan Bertaubat

831
0
BERBAGI

              Di Tulis Oleh Al Ustadz Marwan

Saudariku –rahimakumullah-

Ibnu Umar –radhiallahu’anhuma– dalam satu petuahnya : “Jika kalian berada di waktu sore hari maka janganlah engkau tunda hingga masuk pagi hari, dan jika engkau berada di waktu pagi hari, maka janganlah engkau tunda hingga masuk waktu sore hari, pergunakanlah masa sehatmu untuk menghadapi masa sakitmu, dan manfaatkan masa hidupmu untuk menghadapi kematianmu.

Sebuah motivasi dengan landasan yang pasti, ditilik dari keadaan kehidupan manusia di dunia ini yang tak luput dari tiga keadaan yang mesti dilalui. Karena dalam kehidupan di dunia ini manusia berputar pada tiga keadaan yang akan dilaluinya :

  1. Keadaan mendapatkan nikmat yang menuntut untuk seseorang bersyukur.
  2. Keadaan tertimpa perkara musibah dan sesuatu yang tidak ia senangi menimpa dirinya, yang menuntut untuk bersabar.
  3. Terjatuh dalam dosa karena mengikuti hawa nafsu dan terperangkap dalam tipu daya syaithon, yang menuntut seseorang untuk segera bertaubat dari perkara yang menimpanya dari dosa-dosa tersebut.

Keberadaan seseorang pada suatu waktu dalam kehidupan dunia ini adalah kesempatan, terlebih ketika seseorang dipenuhi dengan berbagai macam kenikmatan terkait dengan keluasan rizqi dari sisi Allah Ta’aala, apakah berupa ilmu,berbagai fasilitas kehidupan serta  kesempatan dan kesehatan. Untuk kepentingan apa menunda amalan yang seharusnya dilakukan di satu dari waktu pagi hingga menunda sampai sore hari? Untuk apa menunda ketika di saat sehat hingga ia jatuh sakit? Untuk apa menunda saat sempat hingga datang perkara-perkara yang menyibukkan? Dituntut dari hati-hati manusia yang bersih dan akal-akal yang sehat untuk bisa mengambil pelajaran dari keadaannya. Hingga Rasul kita Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengatakan :

“Dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai dari padanya, yaitu nikmat kesehatan dan kesempatan”.

Mensyukuri nikmat itulah suatu keniscayaan. Niscaya harus  bagaimana? Mengakui dengan sepenuh hati bahwa seluruh kenikmatan itu datangnya adalah dari sisi Allah semata. Dan mengucap dengan lisan ucapan syukur dan pujian hanya untuk Allah semata. Serta menggunakan berbagai bentuk kenikmatan tersebut di dalam amalan ketaatan hanya kepada Allah Ta’aala. Demikianlah kesempurnaan mensyukuri nikmat.

Tidak menunda-nunda amalan ketaatan yang seharusnya seorang hamba melakukannya di saat tersebut. Bukan maknanya tergesa-gesa. Ketergesa-gesaan adalah tercela, akan tetapi bersegera dan bergegas untuk beramal shalih, bersegera dan bergegas memenuhi yang menjadi kewajibannya dan jangan ditunda-tunda saat kesempatan di depan mata untuk beramal shalih.

Masa sehat, adalah nikmat. Terlebih saat perputaran kehidupan dengan taqdir Allah Ta’aala tertimpa ujian berupa sakit, lebih besar lagi nikmat sehat akan dirasa. Allah Ta’aala menimpakan sakit bagi seorang hamba yang beriman bukan untuk membinasakan seorang hamba mukmin tersebut, akan tetapi adalah untuk menguji kesabarannya dan peribadatannya kepada Allah Ta’aala. Jika seorang hamba mukmin tersebut mampu bersabar, menjadilah ujian yang menimpa tersebut sebagai karunia dari sisi Allah Ta’aala. Menjadilah hamba tersebut seorang yang ridho dengan keadaannya. Dan tergolong sebagai hamba-hamba yang dipenuhi keikhlasan hingga tak satupun dari kalangan musuhnya mampu untuk menundukkannya terlebih menguasainya, firman Allah Ta’aala :

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ ۚ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلًا

Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. dan cukuplah Rabb-mu sebagai Penjaga”.(al-Israa’ : 65)

 

“Tinggalah penyesalan”, ini bukanlah suatu ungkapan yang tanpa makna, tetapi suatu ungkapan penuh arti yang harus kita cermati. Kalaulah penyesalan itu ketika masih di dunia, maka harapan besar masih menanti, masih terbuka lebar pintu taubat hingga ajal mendatangi. Namun kalau penyesalan itu adalah ketika nafas telah di kerongkongan, atau setelah kematian, apalah arti sebuah penyesalan. Firman Allah Ta’aala :

:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ( ) وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ ( ) وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku Termasuk orang-orang yang saleh?”

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (al-Munafiqun : 9-11)

 

Saudariku, maknai arti sebuah penyesalan saat masih ada kesempatan hidup di dunia ini. Karena di antara syarat bertaubat adalah adanya penyesalan. Penyesalan penuh atas dosa-dosa yang telah dijalani, untuk kemudian bertekat kuat takkan mengulangi kembali atas berbagai kenistaan-kenistaan yang telah dikerjakan di masa yang telah berlalu. Taubat yang disertai keikhlasan hanya mencari keridhaan Rabb-nya.

Jika seorang hamba bertaubat dengan kesungguhan, bertaubat dengan taubat yang benar, maka Allah akan menerima taubatnya. Dan jika Allah Ta’aala menghendaki kebaikan seorang hamba, maka Allah Ta’aala akan bukakan pintu taubat bagi hamba tersebut, ia akan mengalami penyesalan, merasa pecah hatinya dan kemudian ia kembali kepada Allah Ta’aala, sehingga ia hanya bertaqarrub (mendekatkan diri) dengan berbagai perbuatan hasanah hanya kepada Allah Ta’aala semata, berdoa dan memohon pertolongan hanya kepada Allah Ta’aala semata.

Senantiasa ia melihat aib dirinya satu sisi, kemudian sisi lain ia senantiasa melihat begitu luasnya keutamaan dan rahmat Allah Ta’aala, senantiasa ia melihat kebaikan yang diberikan Allah Ta’aala kepadanya Seorang yang senantiasa melihat keaiban  dirinya menumbuhkan rasa malu kepada Allah Ta’aala, dan rendah di hadapan-Nya serta kemudia takut kepada Allah Ta’aala.

Sedangkan  senantiasa memandang keutamaan Allah Ta’aala menjadikan seorang hamba mencintai Allah Ta’aala dan senantiasa menginginkan apa yang ada di sisi Allah Ta’aala, sehingga terkumpullah pada diri seorang hamba mukmin yang bertaubat, antara cinta, berharap dan rasa takut kepada Allah Ta’aala.

Wallahu Ta’aala a’lam.