Beranda Aqidah Ketinggian Allah diatas Makhluk Seluruhnya (4)

Ketinggian Allah diatas Makhluk Seluruhnya (4)

533
0
BERBAGI

OLeh Ustadz Kharisman

Pada artikel kali ini, kami akan melanjutkan bab tentang KETINGGIAN ALLAH DI ATAS MAKHLUK SELURUHNYA (3) yang sudah kami tampilkan pekan lalu.

dali yang Keenambelas: Nash-nash tentang penyebutan ‘Arsy dan sifatnya, dan seringnya diidhafahkan kepada Penciptanya yaitu Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang berada di atasnya. Seperti disebutkan dalam ayat-ayat AlQur’an:

{رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ} [النمل: 26]

“Rabb Arsy yang Agung..”(Q.S AnNaml:126).

{وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ * ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ *} [البروج: 14 – 15]

“ Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Yang Memiliki Arsy yang mulya “(Q.S alBuruuj:14-15).

{رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ} [غافر: 15]

“(Allah)lah Yang Mengangkat derajat-derajat, yang memiliki ‘Arsy” (Q.S Ghafir:15).

Penyebutan bahwa Allah istiwa’ di atas ‘Arsy telah dikemukakan dalam sisi pendalilan kesepuluh di atas.

عنْ أبي هريرةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فاسْأَلُوهُ الفِرْدَوسَ فإنَّهُ أوسطُ الجنَّةِ، وأعلى الجنَّةِ، وفوقَهُ عرشُ الرَّحْمنِ»

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus karena sesungguhnya ia adalah tengah-tengah Jannah, dan Jannah yang paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy ArRahmaan” (H.R al-Bukhari).

Ketujuhbelas: Aqidah Nabi-nabi sebelumnya secara tegas menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berada di atas. Hal ini sebagaimana dakwah Nabi Musa kepada Fir’aun, tetapi Fir’aun menentangnya. Sebagaimana dikisahkan dalam AlQur’an:

{وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَاهَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الأَسْبَابَ *} {أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأََظُنُّهُ كَاذِبًا} [غافر: 36 – 37[

Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta (Q.S Ghafir/Mu’min: 36-37).

Ibnu Jarir atThobary menyatakan: maksud ucapan (Fir’aun): Sesungguhnya aku memandangnya sebagai pendusta, artinya: Sesungguhnya aku mengira Musa berdusta terhadap ucapannya yang mengaku bahwasanya di atas langit ada Tuhan yang mengutusnya (Lihat tafsir AtThobary (21/387)).

Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah menyatakan:

“Maka Fir’aun mendustakan Musa dalam pengkhabarannya bahwa Rabbnya berada di atas langit… (I’laamul Muwaqqi’in juz 2 halaman 317).

 

Kedelapanbelas: Pensucian Allah terhadap diriNya bahwa Ia terjauhkan dari segala aib, cela dan kekurangan maupun penyerupaan.

Al-Imam Ahmad rahimahullah ketika membantah Jahmiyyah, beliau berdalil dengan ayat-ayat AlQur’an yang menunjukkan bahwa setiap penyebutan keadaan ‘rendah’ selalu dalam konteks celaan. Setelah menyebutkan dalil-dalil bahwa Allah berada di atas ketinggian, beliau menyatakan:

“Maka ini adalah khabar dari Allah. Allah mengkhabarkan kepada kita bahwa Ia berada di atas langit. Dan kami dapati segala sifat rendah sebagai tercela. Sebagaimana firman Allah:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka..” (Q.S AnNisaa’: 145).

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا رَبَّنَا أَرِنَا الَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ الْأَسْفَلِينَ

Dan orang-orang kafir berkata: “Ya Rabb kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jinn dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina” (Q.S Fusshilat:29)

(Lihat ArRadd ‘alal Jahmiyyah waz Zanaadiqoh karya Imam Ahmad bin Hanbal halaman 147).

Ibnu Batthoh juga menyatakan: Tuhan kita Allah Ta’ala mencela keadaan rendah dan memuji yang tinggi. Sebagaimana dalam firmanNya:

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ  

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin”.(Q.S al-Muthoffifiin: 18).

’Illiyyin adalah langit ke tujuh…

Dan Allah Ta’ala juga menyatakan:

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ

“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin”(Q.S al-Muthoffifiin:7)

Sijjin yaitu lapisan bumi yang terbawah. (Lihat Ucapan Ibnu Batthoh tersebut dalam kitab al-Ibaanah juz 3 halaman 142-143).

Demikianlah, beberapa sisi pendalilan yang bisa kami sebutkan dalam tulisan ini. Pada tiap sisi pendalilan, terkandung banyak dalil dari AlQur’an maupun hadits yang shahih.

AQIDAH PARA SAHABAT NABI: ALLAH BERADA DI ATAS LANGIT

Setelah dikemukakan sisi-sisi pendalilan berdasarkan AlQur’an dan hadits-hadits yang shahih, berikut ini akan disebutkan ucapan-ucapan para Sahabat Nabi –ridlwaaanullaahi ‘alaihim ajmaiin- tentang keyakinan bahwa Allah berada di atas ‘ArsyNya atau di atas langit:

1) Abu Bakr as-Shiddiq radliyallaahu ‘anhu

Ketika Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam meninggal, Abu Bakr As-Shiddiq menyatakan:

أيها الناس ! إن كان محمد إلهكم الذي تعبدون فإن إلهكم قد مات ، وإن كان إلهكم الذي في السماء فإن إلهكم لم يمت ، ثم تلا   (وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم)  حتى ختم الآية

“ Wahai sekalian manusia! Jika Muhammad adalah sesembahan kalian yang kalian sembah, sesungguhnya sesembahan kalian telah mati. Jika sesembahan kalian adalah Yang berada di atas langit, maka sesungguhnya sesembahan kalian tidak akan mati. Kemudian Abu Bakr membaca firman Allah:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ

“ dan tidaklah Muhammad kecuali seorang Rasul, telah berlalu sebelumnya para Rasul. Apakah jika ia meninggal atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang(murtad)…”(Q.S Ali Imran:144).

Sampai Abu Bakar menyelesaikan bacaan ayat tersebut”(diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushonnafnya pada Bab Maa Ja-a fii wafaatin Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam nomor hadits 37021, al-Bazzar di dalam Musnadnya juz 1 halaman 183).

Riwayat perkataan Abu Bakr As-Shiddiq tersebut adalah shahih. Abu Bakr bin Abi Syaibah meriwayatkan dari Muhammad bin Fudhail dari ayahnya dari Nafi’ dari Ibnu Umar. Semua perawi tersebut (termasuk Abu Bakr bin Abi Syaibah yang merupakan guru Imam al-Bukhari) adalah rijal (perawi) al-Bukhari.

2)      Abdullah bin Mas’ud

Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud menyatakan:

ما بين السماء الدنيا والتي تليها مسيرة خمسمائة عام ، وبين كل سماءين مسيرة خمسمائة عام ، وبين السماء السابعة وبين الكرسي خمسمائة عام ، وبين الكرسي إلى الماء خمسمائة عام ، والعرش على الماء ، والله تعالى فوق العرش ، وهو يعلم ما أنتم عليه

“ Antara langit dunia dengan (langit) berikutnya sejauh perjalanan 500 tahun, dan antara 2 langit sejauh perjalanan 500 tahun, antara langit ke-7 dengan al-Kursiy 500 tahun, antara al-Kursiy dengan air 500 tahun, dan ‘Arsy di atas air, dan Allah Ta’ala di atas ‘Arsy dalam keadaan Dia Maha Mengetahui apa yang terjadi pada kalian” (diriwayatkan oleh Ad-Daarimi dalam kitab ArRaddu ‘alal Jahmiyyah bab Maa Bainas Samaa-id Dunya wallatii taliiha juz 1 halaman 38 riwayat nomor 34).

Riwayat perkataan Ibnu Mas’ud ini shohih. AdDaarimi meriwayatkan dari jalur Musa bin Isma’il dari Hammad bin Salamah dari ‘Ashim dari Zir (bin Hubaisy) dari Ibnu Mas’ud. Semua perawinya adalah rijaal al-Bukhari.

3)      Zainab bintu Jahsy

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ زَيْنَبَ بِنت جَحْشٍ كَانَتْ تَفْخَرُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم تَقُولُ: «زَوَّجَكُنَّ أَهَالِيكُنَّ وَزَوَّجَنِي اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سماوات» وفي لفظٍ: كانتْ تقولُ: «إِنَّ اللهَ أَنْكَحَنِي فِي السَّمَاءِ»

Dari Anas –semoga Allah meridlainya- bahwa Zainab binti Jahsy berbangga terhadap istri-istri Nabi yang lain, ia berkata: “Kalian dinikahkah oleh keluarga kalian sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari atas tujuh langit”. Dalam lafadz lain beliau berkata: Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku di atas langit (H.R al-Bukhari).

4)      Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas)

Sahabat Nabi yang merupakan penterjemah AlQur’an ini, ketika menafsirkan firman Allah tentang ucapan Iblis yang akan mengepung manusia dari berbagai penjuru. Iblis menyatakan sebagaimana diabadikan oleh Allah dalam AlQur’an:

{ثُمَّ لآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ} [الأعراف: 17]

“Kemudian sungguh-sungguh aku akan mendatangi mereka dari arah depan mereka, dan dari belakang mereka, dan dari kanan dan kiri mereka” (Q.S al-A’raaf:17).

Abdullah bin Abbas menyatakan:


لم يستطعْ أنْ يقولَ: منْ فوقهم؛ عَلِمَ أنَّ الله منْ فوقهم

“ Iblis tidak bisa mengatakan : (mendatangi mereka) dari atas mereka, karena dia tahu bahwa Allah berada di atas mereka (diriwayatkan oleh AlLaa-likaa-i dalam Syarh Ushulis Sunnah halaman 661 dengan sanad yang hasan).

5)      Abdullah bin Umar

عن زيدِ بنِ أَسْلَمٍ قالَ: مَرَّ ابنُ عمرُ براعٍ فقال: هلْ منْ جَزَرَةٍ؟ فقالَ: ليسَ هاهنا ربُّها، قالَ ابنُ عمر: تقولُ لهُ: أكلَهَا الذئبُ. قالَ: فرفَعَ رأسَهُ إلى السَّماءِ وقالَ: فَأَيْنَ اللهُ؟ فقالَ ابنُ عمر: أنا واللهُ أحقُّ أنْ أقولَ: أَيْنَ اللهُ؟ واشترى الراعي والغنمَ، فأعتقهُ، وأعطاهُ الغنمَ

Dari Zaid bin Aslam beliau berkata: Ibnu Umar melewati seorang penggembala (kambing), kemudian beliau bertanya: apakah ada kambing yang bisa disembelih? Penggembala itu menyatakan: Pemiliknya tidak ada di sini. Ibnu Umar menyatakan: Katakan saja bahwa kambing tersebut telah dimangsa serigala. Kemudian penggembala kambing tersebut menengadahkan pandangannya ke langit dan berkata: Kalau demikian, di mana Allah? Maka Ibnu Umar berkata: Aku, Demi Allah, lebih berhak untuk berkata: Di mana Allah? Sehingga kemudian Ibnu Umar membeli penggembala dan kambingnya, memerdekakan penggembala tersebut dan memberikan padanya satu kambing itu” (diriwayatkan oleh Adz-Dzahaby dalam kitab al-‘Uluw halaman 860, dan Syaikh Muhammad Nashiruddin menyatakan bahwa sanad hadist ini jayyid (baik)).

 

           Demikianlah, sedikit penjelasan dalil-dalil dari AlQur’an dan AsSunnah yang shohihah yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhlukNya. Telah dikemukakan pula beberapa ucapan para Sahabat Nabi yang shorih (tegas) tentang aqidah tersebut.

Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan hidayahNya kepada kita semua