Allah Maha Pengampun Lagi Maha Mencintai

Diposting oleh webadmin pada 28/01/2012

Oleh Ustadz Kharisman

Jika anda pernah bersalah kepada seseorang, mungkin masih tersisa perasaan ‘tidak enak’ dalam diri orang tersebut meski ia telah memaafkan. Masih ada yang mengganjal dalam hatinya. Kalau sebelumnya orang itu sangat mencintai anda, maka setelah itu cintanya bisa berkurang, meski hanya beberapa persen. Sulit untuk utuh kembali seperti sedia kala. Berbeda dengan Allah. Jika seorang pernah berdosa kepada Allah, kemudian ia bertaubat dengan sebenar-benarnya. Maka, Allah akan mengampuni dosanya dan kembali mencintainya seperti sedia kala, bahkan bisa lebih dari itu. Itulah makna firman Allah:

…وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ

Dan Dialah Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mencintai (Q.S al-Buruuj:14)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menyatakan: “dalam ayat ini terdapat suatu rahasia (yang halus) ketika Allah menggandengkan penyebutan Maha Pengampun dengan Maha Mencintai. Hal ini untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa jika bertaubat dan inabah kepada Allah, Allah akan mengampuni dosanya dan mencintainya”. Tidak seperti perkataan salah dari orang-orang: “bahwa Allah akan mengampuninya, tapi kecintaan Allah kepadanya tidak kembali (Taisiir Kariimir Rahman hal 918)”.
Karena itu, orang yang bertaubat dari suatu dosa dengan sebenar-benarnya taubat, seakan-akan ia tidak pernah berbuat dosa itu.


التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

Seseorang yang bertaubat dari dosa, bagaikan ia tidak memiliki dosa sama sekali (H.R Ibnu Majah, sanadnya dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (13/471))

Menyakiti Kekasih Allah, Tapi Masih Dibuka Pintu Taubat. Namun, Bagaimana sikap anda terhadap orang yang menyakiti orang-orang terkasih kita? Pasti kita membencinya, Membara dendam dalam dada, dan seakan tidak tersisa ruang pemaafan. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala adalah Yang Maha Pengampun, Pemberi Taubat, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, masih memberikan kesempatan bertaubat kepada orang-orang yang menyiksa para Kekasih-Nya.

Tahukah anda kisah Ashaabul Ukhduud? Kisah itu diisyaratkan dalam Surat alBuruuj. Kaum musyrikin yang dzhalim memaksa orang-orang beriman untuk kafir. Mereka hanya diberi 2 pilihan: “keluar dari keimanan atau masuk ke dalam parit yang berisi api yang menyala-nyala”. Orang-orang beriman pun masuk ke parit tersebut. termasuk seorang ibu yang menggendong anak bayinya. Ia ragu-ragu untuk masuk ke dalam api itu karena kasihan pada anaknya. Namun, atas Kekuasaan Allah bayi itu bisa berkata: Sabarlah wahai ibuku, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran. Lalu terjunlah ibu beserta bayinya itu dengan penuh keimanan kepada Allah. Untuk orang-orang kafir penyiksa tersebut, Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

Sesungguhnya orang-orang yang menguji (memberi pilihan dan menyiksa) orang-orang beriman laki-laki dan wanita kemudian tidak bertaubat, maka baginya adzab Jahannam dan bagi mereka siksa yang membakar (Q.S alBuruuj: 10)

Dalam ayat tersebut Allah mengancam para penyiksa tersebut dengan adzab yang pedih, jika mereka tidak bertaubat. Artinya, Allah masih membuka peluang taubat. Al-Hasan al-Bashri –seorang tabi’i- berkata: “Perhatikanlah Dzat Yang Maha Mulya lagi Pemurah. Mereka telah menyiksa para kekasih (Wali) Allah, namun Allah masih mengajak mereka kepada taubat dan ampunan (Tafsir Ibn Katsir)”.

Allah juga memberikan peluang taubat kepada orang-orang kafir yang masih hidup. Sahabat Nabi Ibnu Abbas berkata: Allah mengajak bertaubat kepada orang-orang yang mengatakan:
(1) Isa adalah Allah
(2) Isa adalah anak Allah,
(3) Uzair adalah anak Allah,
(4) Allah fakir,
(5) Tangan Allah terbelenggu,
(6) Allah adalah satu dari yang tiga (trinitas)
Allah berkata kepada orang-orang (kafir) tersebut:

أَفَلا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Tidakkah mereka bertaubat kepada Allah dan beristighfar kepadaNya, dan Allah adalah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S al-Maidah:74)

(Tafsir Ibnu Katsir)

(dinukil dari buku Sukses Dunia Akhirat dengan Istighfar dan Taubat karya Abu Utsman Kharisman halaman 113-115)

© 2013 Salafy.or.id . Silakan mengutip isi artikel dari salafy.or.id dengan Syarat bukan untuk tujuan komersial, tidak mengubah isi artikel baik menambah atau mengurangi dan menyebutkan alamat sumbernya (link/url)