Semangat Salaf dalam Menuntut Ilmu (2)

Muhadharah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Umar Al-‘Adani hafizhahullah.

Dan sebagaimana diketahui pula bahwa agama Allah Ta’ala ini sampai kepada kita dengan begitu mudah dan gampang seakan-akan kita berhadapan dengan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan taufiq, pertolongan dan keutamaan Allah Ta’ala. Yaitu dengan Allah Ta’ala menyediakan bagi kita sebab-sebab dengan adanya perjuangan yang besar yang dilakukan oleh ulama salaf ini. Para pendahulu kita yang shalih dari kalangan shahabat dan tabi’in serta yang datang setelah mereka dari kalangan imam pembawa petunjuk dan penghilang kegelapan telah melakukan perjuangan dan pengorbanan.

Para shahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam wa radhiyallahu ‘anhum- sangat besar semangatnya untuk meraih ilmu yang bermanfaat ini, dalam keadaan mereka itu sangat fakir dan tidak berkecukupan. Diantara mereka ada yang jika tersibukkan dia tetap berusaha mencari pengganti untuk hadir ke hadapan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana hal ini dilakukan oleh ‘Umar bin Al-Khaththab -radhiyallahu ‘anhu- bersama tetangganya seorang anshar. ‘Umar hadir di suatu hari lalu kembali dan menyampaikan kepada tentangganya apa yang dia dengar, dan sang anshary hadir di suatu hari lalu kembali dan menyampaikan kepada ‘Umar apa yang dia dengar berupa wahyu, hikmah dan sunnah. Dan ini adalah satu dari sekian banyak contoh (dari kalangan para shahabat).

(Diantaranya) apa yang terukir dari perawi umat islam dan penghafalnya shahabat yaitu Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-. Dia telah meriwayatkan bagi umat ini jumlah yang besar dan kumpulan yang banyak dari hadits-hadits Rasulillah – shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Yang mana jumlah yang besar dari hadits ini telah membuat murka musuh-musuh islam dari kalangan orang zindiq, atheis, zionis dan pengekor mereka.

Maka mereka mencela kejujurannya dan mereka menciptakan keraguan terhadapa riwayat-riwayat ini sembari mengatakan “kenapa dia bersendiri dengan jumlah yang besar ini dari para shahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang lain. Dan mereka tidak tahu bahwa perbendaharaan yang besar ini yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- untuk umat ini terjadi setelah adanya taufiq dari Allah Ta’ala sebagai buah dari kesungguhan, kegigihannya, pengorbanannya dan kesabarannya menahan lapar, kesabarannya menahan sakit yang dilakukan oleh Abu Hurairah. Kemudian dia -dengan keutamaan dari Allah Ta’ala- mampu meriwayatkan jumlah yang besar ini untuk umat ini. Dalam Ash-Shahih disebutkan dari hadits Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- berkata;

“Mereka berkata: “Sesungguhnya Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits, dan di sisi Allah ada janji.”

Mereka berkata: “Kenapa muhajirun dan anshar tidak menyampaikan hadits seperti hadits-haditsnya.”

Sesungguhnya para saudaraku yang muhajirin tersibukkan dengan kesepakatan dagang di pasar-pasar, dan saudaraku yang anshar tersibukkan dengan pekerjaan harta (pertanian, peternakan) mereka. Dan aku adalah orang yang miskin, aku terus mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan tenang dengan kondisi perutku, maka aku hadir di saat orang-orang pada absen, aku menghafal di saat mereka terlupa. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada suatu hari:

“Tidak seorangpun dari kalian yang menghamparkan pakaiannya sampai aku menyelesaikan ucapanku ini kemudian dia melipatnya ke dadanya terlupa akan ucapanku selamanya meski sedikit.”

Maka aku menghamparkan pakaianku yang bergari dan tidak ada yang melekat padaku kecuali itu sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan sabdanya, kemudian aku melipatnya ke dadaku. Maka demi Dzat yang mengutus beliau dengan al-haq tidaklah aku lupa akan sabda beliau itu sampai hari ini. Demi Allah kalau bukan karena dua ayat dalam kitabullah tidaklah akau menyampaikan hadits kepada kalian meski sedikit selamanya.”

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَØÜà

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُØÝ×

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan dari keterangan dan petunjuk setelah Kami terangkan kepada manusia dalam Al-Kitab mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah, dan mereka dilaknat oleh para pelaknat. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan menjelaskan, maka mereka itulah yang Aku terima taubat mereka dan adalah Aku Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 159-160)

Kesungguhan, kegigihan, semangat dan pengorbanan dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, semangat menuntut ilmu itu -wahai saudaraku di jalan Allah Ta’ala-, akan mengantarkan kita kepada hasil yang besar yang kita harapkan.

Dalam Ash-Shahih diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah dia berkata:

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengar dari engkau hadits yang banyak namun aku melupakannya”. Beliau bersabda: “Hamparkan selendangmu!” Maka aku menghamparkannya. Lalu beliau menciduk dengan kedua tangan beliau kemudian bersabda: “Genggamlah!” Maka aku menggenggamnya maka tidaklah aku lupa sesuatu setelahnya.”

Semangat yang kita butuhkan mengisyaratkan pada penuntut ilmu agar kita memilki kemauan, semangat untuk meraih ilmu yang bermanfaat, selalu dan terus-menerus maka akan datang hasilnya.

Abu Hurairah tidak sebatas hanya memiliki keterusan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keterusan bersama guru itu bisa jadi terjadi selama puluhan atau ratusan kali, namun jika bisa terkumpul antara keterusan bersama guru, kesabaran dan semangat seorang penuntut ilmu akan meraih kebaikan yang banyak bi idznillah.

Dan Abu Hurairah berkumpul padanya dua pekara keterusan dan bersabar bersama guru dan semangat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi saksi akan semangatnya mencari ilmu. Dalam Ash-Shahih dari hadits Abu Hurairah berkata,

“Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling bahagia dengan syafa’at engkau pada hari kiamat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku telah menyangka wahai Abu Hurairah, tiada seorangpun yang bertanya akan hadits ini sebelum engkau, karena apa yang aku lihat akan semaangatmu mendapatkan hadits. Orang yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat orang yang berkata: “Tiada ilah yang benar kecuali Allah” secar ikhlas dari kalbunya atau dari dirinya.”

Demikian terjadi pada banyak shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wa radhiyallahu ‘anhum. Bersungguh-sungguh, semangat dan berkorban.

Berikut terjemah Al-Qur’an dan tinta dari tinta-tinta umat ini yaitu Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akannya:

“Ya Allah dalamkanlah pemahamannya dalam agama ini dan ajarkan padanya tafsir.”

Yaitu dengan Allah Ta’ala menambahkan kepadanya ilmu dan hikmah, dan dia tidaklah hanya bersandar kepada do’a nabawy ini lalu duduk di rumahnya. Bahkan dia semangat dan bersungguh-sungguh dan begadang (demi ilmu) sampai dia menjadi ulama besar islam, mendalam dalam fiqih, tafsir, aqidah, bahasa dan ilmu nasab, serta tentang hari-hari arab dan selan itu.

Dari mana Ibnu ‘Abbas mendapatkan ilmu yang luas ini? Terwujud padanya do’a nabawiyah, Allah mengabulkan do’a nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun Ibnu ‘Abbas juga Allah menolongnya untuk mengejar ilmu dan semangat meraihnya, memanfaatkan waktu dan kesempatan sedang dia berada di zaman yang penuh menuntut ilmu yaitu zaman pembesar shahabat. Ada Abu Bakar orang terbaik umat ini setelah nabinya, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu Mas’ud, Ubay, Mu’adz dan mereka-mereka para ulama besar.

Dan hal itu tidak memalingkan Ibnu ‘Abbas dari menuntut ilmu sebagaimana terkadang terjadi pada sebagian kita. Ketike melihat adanya ulama besar dan bahwa Allah Ta’ala telah memberikan manfaat dengan mereka pada umat, negara dan masyarakat, lalu dia minder dan meremehkan dirinya -dan pantas baginya untuk meremehkan dirinya- namun peremehan dirinya ini bukn pada tempatnya. Dia meremehkan dirinya kemudian menyebabkan dirinya tidak berusaha meraih ilmu dan berkata: Alhamdulillah.

Wahai saudaraku, ulama boleh jadi sekarang hidup, namun bisa jadi besok meninggal, dan harus ada orang yang menggantikan mereka pada umat ini dalam ilmunya. Jika penghamba dunia semangat untuk mengadakan orang yang mengganti posisi mereka dalam semua bidang, dalam ketentaraan, penerbangan, kedokteran, dan teknologi sampai tingkatan sihir sekalipun diperhatikan, sebagaimana dalam hadits yang shahih dalam kisah anak dengan penyihir dan raja.

Lalu bagaimana dengan ilmu syari’at, jika tidak ada perhatian dari umat, maka ia akan hilang dan habis tidak akan tersisa lagi silsilah sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Abbas di dalam hadits yang masyhur di sisi kalian tidaklah bersandar dan menyerah, namun dia melihat dengan pandangan yang jauh ke depan. Ad-Darimy meriwayatkan, dan Ahmad dalam Al-Fadha’il, dan Ibnu Sa’d dan selain mereka dari hadits Ibnu ‘Abbas dia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat aku berkata kepada seorang pemuda anshar: “Marilah wahai fulan, kita menuntut ilmu.

Sesungguhnya para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup”. Dia menjawab: “Sungguh aneh engkau wahai Ibnu ‘Abbas, engkau lihat manusia butuh kepadamu sementara di antara mereka ada shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata: “Maka aku tinggalkan dia dan aku mengejar menuntut ilmu, jika ada hadits yang sampai kepadaku dari seorang shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dia telah mendegarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku datangi dia dan aku duduk di depan pintu rumahnya lalu angin menrepa wajahku.

Lalu shahabat tersebut berkata kepadaku: “Wahai anak paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang membuatmu datang kemari? Apa kebutuhanmu?” Aku katakan: “Suatu hadits sampai kepadaku yang engkau riwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka dia berkata: “Tidakkah engkau utus seseorang kepadaku?” Maka aku katakan: “Aku yang lebih pantas untuk mendatangimu.” Kemudian Ibnu ‘Abbas berkata: “Maka orang anshar tadi masih dlam kondisinya sehingga manusia berkumpul kepadaku, makaa dia berkata: “Pemuda ini lebih berakal dari pada aku.”

Kenapa demikian? Karena para pembesar dari shahabat (yang anshary tadi beralasan dengan keberadaan mereka), mereka itu meninggal.

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mengalami kematian dan mereka juga akan mati.” (Az-Zumar: 30)

Kematian mesti datang kepada setiap jiwa, berapapun umur seseorang, mesti dia akan sampai pada kematian. Kesungguhan ini pada diri Ibnu ‘Abbas pada dirinya bersama para muridnya. Demikian pula yang kita contoh dari ulama dan masyayikh kita, mereka bersungguh-sungguh pada diri mereka dan mereka semangat untuk mendorong murid-murid mereka. Demikian pula Ahlus sunnah di setiap tempat berada dalam koridor nasehat ini untuk diri mereka, saudara mereka dan murid mereka.

‘Ikrimah rahimahullah termasuk pembesar ulama tabi’in berkata: “Ibnu ‘Abbas mengikat kakiku dan mengajariku Al-Qur’an dan fara’idh (ilmu waris)”. Maka ‘Ikrimah mengantongi segudang manfaat dari semangat gurunya -Ibnu ‘Abbas- ini, maka jadilah dia seorang ‘alim dari sekian ulama umat pada zamannya dan zaman tabi’in. Demikian pula para ulama kita dari genersi tabi’in dan yang setelah mereka, mereka menyadari betapa berharganya ilmu sehingga mereka mendermakan umur mereka yang berharga dan harta yang melimpah lalu mereka memanfaatkan waktunya untuk melakukan ketaatan kepada Allah dan meraih ilmu yang bermanfaat.

Kesungguhan yang besar, pengorbanan dan perjuangan yang dilakukan ulama pendahulu kita. Mereka tidak kenal dengan hidup malas dan curi-curi kesempatan untuk lari dari menuntut ilmu. Akan tetapi waktu mereka siang dan malam terisi dengan usaha menghasilkan ilmu yang bermanfaat.

Ibnu Abi Hatim rahimahullah berkata: “Aku membaca di hadapan bapakku di saat dia menulis, di saat dia jalan, di saat berkendara, di saat dia di rumah, di saat dia di kamar mandi”. Ibnu Abi Hatim adalah syikhul islam dan anak dari seorang syaikhul islam. Ibnu Abi Hatim merupakan pembesar penghafal islam, dan bapaknya juga (Abu Hatim) merupakan pembesar penghafal islam.

Majduddin Ibnu Taimiyah penulis Al-Muntaqa (kakek Syaikhul Islam) jika dia masuk ke kamar mandi dia memberikan pada anaknya sebuah kitab lalu berkata: “Bacalah kitab ini dan angkat suaramu!”. Bacalah kitab ini dan angkat suaramu sedangkan dia dalam kamar mandi. Adapun kita, kita memiliki kamar mandi, tapi tempat apa? Ketika kita di dalam tempat itu adalah tempat kita berpikir, membuka rencan proyek, masuk kamar mandi sembari mengerjakan proyek, berpikir apa yang harus dikerjakan, apa yang akan dibutuhkan pada hari ini dan koreksi apa yang telah lewat.

Mereka (para ulama) menyangka bahwa waktu akan terbuang sia-sia ketika di kamar mandi. Jika masuk kamar mandi dia memberi anaknya kitab dan menyuruhnya membaca dan “Angkat suaramu!”.

Al-Khathib Al-Baghdady rahimahullah tidaklah berjalan di suatu jalan kecuali di tangannya ada permsalahan yang sedang dia bahas. Demikian juga An-Nawawy rahimahullah. Al-Imam Tsa’lab seorang imam ahli nahwu dan adab jika diundang seseorang ke suatu walimah mensyaratkan bagi tuan rumah agar dia diberi tempat yang lapang untuk kitabnya yang dia akan baca. “Saya akan hadir tapi beri aku tempat yang lapang”. Dan adalah sebab kematiannya bahwa dia keluar di hari jum’at setelah ‘Ashr dari masjid, dan di tangannya ada kitab yang dia baca. Tiba-tiba datanglah kuda menabraknya maka dia terjatuh dalam jurang, lalu beliau dikeluarkan mengaduh sakit dan berteriak lalu meninggal di hari yang kedua.

Tidaklah mereka (para ulama) menyia-nyiakan waktu merekaa, bersungguh-sungguh siang dan sore.

Ibnu Abi Hatim rahimahullah berkata: “Kami berada di Mesir selama tujuh bulan dan belum pernah merasakan kuah daging. Siang kami gunakan untuk keliling ke majelis para ulama, dan malam untuk pertemuan dan mencatat. Kami datang ke seorang ulama kami dikabari bahwa dia sakit, maka kami kembali dan kami temukan di jalan ada ikan dijual maka kami membelinya. Dan kami bertiga, sampailah kami ke rumah lalu tibalah jadwal majelis berikutnya maka kami pergi. Demikian berlangsung tiga hari sehingga kami tidak sempat memberikan ikan ini kepada yang bisa membakarnya, kemudian kami memakan ikan tersebut setelah tiga hari dalam keadaan sudah tidak baik kondisinya. Kemudian apa yang dia katakan????

Dia berkata: “Tidak akan diraih ilmu ini dengan berleha-leha.” Tidaklah dia ingin dipuji dengan hal ini, namun dia ingin menjamkan cita-cita. Dan akhir hayat mereka menjadi bukti akan kejujuran dan keikhlasan mereka. Mereka wafat di atas sunnah, dan di atas kebaikan, Allah menjadikan ilmunya bermanfaat bagi negara dan umat.

Al-Bukhary rahimahullah, salah seorang mereka berkata: “Aku melihatnya di suatu malam, dia berdiri sekitar 15 sampai 20 kali menyalakan lentera, menulis faedah (saduran ilmu) yang terbetik pada dirinya kemudian mematikan lentera itu dan kembali.” Dalam satu malam 15-20 kali menyalakan lentera demi menulis saduran ilmu.

Seorang dari mereka berkata: “Aku bertetangga dengan Al-Mundziry 12 tahun, rumahku di atas rumahnya. Tidaklah aku bangun di suatu malam kecuali terlihat ada cahaya lentera dan dia sibuk dengan ilmu.”

Mereka bersungguh-sungguh sehingga sampai kepada derajat yang tinggi dalam ilmu yang bermanfaat yang ditinggalkan untuk umat ini.

Ibnu Abi Dawud salah seorang lautan ilmu berkata: “Aku masuk Kufah dan hanya memiliki satu dirham lalu aku membeli 30 mud baqlah (kacang-kacangan). Maka aku memakan baqlah dan aku menulis riwayat dari Abu Sai’d Al-Asyad. Tidaklah habis kacang itu sampai aku bisa menulis 30 ribu hadits yang maqthu’ dan mursal.”

Mereka sangat pelit terkait dengan waktu yang mana waktu adalah kebutuhan darurat manusia. Waktu makan, waktu buang hajat. Sebagian mereka mengurangi makan, dan sebagian mereka memilih menu yang tidak butuh waktu banyak untuk memakannya.

Al-Farahidy berkata: “Waktu yang paling berat bagiku adalah waktu makan.” Demikian pula An-Nawawy rahimahullah tidaklah makan dalam sehari kecuali satu kali di waktu sahur, dan tidak minum kecuali satu kali menjauhi berbagi macam buah, karena dia akan membasahi tubuhnya sehingga menjadikan aku banyak tidur.

Sebagian mereka menyedikitkan makan di saat makan sehingga tidak butuh banyak minum, sehingga banyk masuk kamar mandi sehingga terbuat sedikit waktunya.

Ibnu Aqil berkata (yang maknanya): “Aku memilih kue lalu siram dengan air dibanding roti karena adanya perbedaan jenis.” Dia mengambil kue lalu menjadikannya seperti tepung lalu menelannya satu kali telan bersama dengan air, dan tidak memilih roti (terlalu lama makannya). Ii tidaklah berlebih-lebihan, Ibnu Aqil mampu dengan semangat ini mengarang kitab judulnya “Al-Funun” yang terdiri dari 800 jilid.

Adz-Dazhaby berkata: “Tidak diketahui dalam islam karya yang lebih besar dari kitab ini dalam 800 jild.” Beliau mengumpulkan padanya permasalahan aqidah, fiqih, bahasa, ushul, tafsir, sya’ir-sya’ir, wejangan, hasil pemikiran dan sebagainya. Maka cepat dalam makan, dalam berjalan, dalam menulis sesuatu yang dikenal dari ulama kita. As-Suyuthy berkata: berkata guru kami Al-Kinany dari bapaknya (penulis Al-Khithabah”: “Kecepatan temannya ilmu dalam tiga perkaraa: Dalam makan, berjalan dan menulis.”

Ibnu Sahnun ahli fiqih dari Malikiyah, dia memiliki budak wanita bernama Ummu Mudan. Suatu malan dia tersibukkan dengan menulis suatu kitab sampai larut, dan Ummu Mudan telah menyiapkan makan malam. Ummu Mudan berkata: “Tuanku makan malaan sudah siap.” Dia berkata: “Aku sedang sibuk”. Ummu Mudan ingin tidur kaena telh banyak begadang, namun dia beranjak menyuapi kepada Ibnu Sahnun dan dia tidak merasa. Ketika telah adzan fajr dia berkata: “Maafkan aku Ummu Mudan, malam ini sangat tersibukkan, datngkanlah makanannya!” Ummu Mudan berkata: “Demi Allah, aku telah suapkan kepadamu tuanku.” Dia berkata: “Demi Allah, aku tidak menyadarinya.”

Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabary disebutkan padanya sbuah faedah ilmiyah ketika dia menjelang kematiannya, maka dia meminta diberi tinta dan kertas. Ada yang berkata: “Sekarang di saat yang begini ahai imam?” Dia menjawab: “Tidak sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk meninggalkan menyalin ilmu sampai dia mati.”

Ibnul Qayyim berkata Syaikhul Islam guru kami mengabarkan bahwa dia tertimpa suatu penyakit dan dokter berkata padanya: “Engkau membaca dan menelaah itu akan menambah sakitmu”. Dia berkata: “Aku tidak bisa”. Dia diminta untuk libur dan istirahat beberapa hari. Dia berkata: “Aku tidak bisa”.

Sebuah semangat.

Kita mendorong dan menghibur diri kita dengan hikayat-hikayat dan kisah ini, semoga Allah menolong kita untuk menanamkannya pada diri kita.

Bersungguh-sungguhlah wahai saudaraku, mari kita menanggung ujian dan lelah demi ilmu, demikian wahai saudaraku untuk kita bisa berusaha semampu mungkin meraih ilmu yang bermanfaat, terlebih lagi sarana untuk kita mencari ilmu sangat mudah di zaman ini. Maka kita harus memanfaatkan kesempatan dan kemudahan ini. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam dan shalawat serta salam semoga tercurah untuk nabi kita Muhammad, keluarga beliau dan shahabat beliau semuanya.

Sekian sampai di sini dengan sedikit peringkasan.

Diterjemahkan oleh:

‘Umar Al-Indunisy

Darul Hadits – Ma’bar, Yaman

(http://www.assalafy.org/mahad/?p=519#more-519, http://www.assalafy.org/mahad/?p=540#more-540)

Sambutan

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Ta’ala. Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya serta para sahabatnya nan mulia. Atas pertolongan Allah Ta’ala, Salafy.or.id bisa ditayangkan kembali setelah beberapa saat undur diri dari dunia maya. Berbagai sisi coba kami benahi. Meski dengan upaya tersebut, masih terasa banyak kekurangan yang… Selengkapnya »

Meniti Jejak Salafush Shalih

© 2013 Salafy.or.id . Silakan mengutip isi artikel dari salafy.or.id dengan Syarat bukan untuk tujuan komersial, tidak mengubah isi artikel baik menambah atau mengurangi dan menyebutkan alamat sumbernya (link/url)