Daily Archives: April 13, 2004

Apa yang sebenarnya terjadi ? Sejarah Mumayyi’un, agar Anda tidak terjatuh (didalamnya)

Kronologi sejarah kelahiran, perkembangan, warisan at Tamyi’, diwarisi oleh Al Ikhwaniyyah (Ikhwanul Muslimin, di Indonesia membentuk partai PKS, Al Haramain, Syariahonline, red)

Sebuah Sejarah Kronologis dari kelahiran, perkembangan, dan pewarisannya melalui jalan Hasan al-Banna.

Ketika semua bermula 1930-an, 1941-an

[Al-Banna]: “Nata’awan, fii maa tafakna, wa na’dziru ba’dhan, fii maakhtalafna.” (Kita saling bantu membantu dalam hal yang kita sepakati, dan kita saling toleransi dalam hal-hal yang kita perselisihkan). Inilah Tamyi’ Generasi pertama.

Implikasi:
1. Saling membantu dan bekerja sama dengan semua Mubtadi’
2. Penghilangan segala macam Jarh dan Tajrih dan Tabdi’ kepada para Mubtadi’
3. Penghancuran al-Wala dan al-Bara di sekitar aqidah dan manhaj Salafy
4. Penyingkiran penghalang sosial dan metodologikal antara Salafiyyun dan Ahlul Bid’ah

Secara Keseluruhan: Penghapusan Jarh, Tajrih terhadap Ahlul Bid’ah wadh-Dholalah, secara fundamental, sebagai sebuah prinsip.

Respon Ahlus Sunnah: Ketika Aqidah Salafy menyebar di tangan para Ulama Salafy pada tahun 1970, 1980 ke depan, menjadi jelaslah bahwa Ahlus Sunnah menentang Ahlul Bid’ah, memboikot mereka, menjarh (mencela, red) mereka dan memperingatkan terhadap mereka dan buku-buku mereka. Hal ini menjadi terkenal dan tersebar. Beberapa orang yang benar-benar di atas manhaj Ikhwany berjuang untuk membangkitkan penjelmaan yang baru dari Bid’ah-nya Hasan al-Banna. Mengetahui bahwa Jarh dan peringatan Ahlus Sunnah terhadap Ahlul Bid’ah tidak dapat diacuhkan, mereka berusaha untuk menetralisasi pengaruh dari Jarh Tajrih ini, meskipun maksud sebenarnya adalah berharap untuk menghilangkannya (Jarh tersebut), tapi ini tidaklah mungkin karena alasan sejarah.

Muncul reaksi balik pada 1980-1990

[al-‘Audah]: Menyebutkan hal-hal baik ketika mengkritik (al-Muwazanah) merupakan keadilan.
[‘Abdurrahman ‘Abdulkhaliq]: Beragamnya Jama’ah adalah diizinkan dan bermanfaat.
[Salman al-‘Audah]: Membedakan antara al-Firqah an-Najiyah dan at-Thaifah al-Mashurah (memasukkan Jama’ah-jama’ah ke dalam al-Firqah an-Najiyah).
[Adnan ‘Ar’ur]: Kita membenarkan (kesalahan) tapi tidak melakukan Jarh (terhadap orangnya).
[Keseluruhan di atas]: Kita mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk. Inilah Tamyi’ Generasi kedua

Implikasi:
1. Menetralkan pengaruh Jarh, Tajrih dan Tahdzir yang dibuat oleh Ulama Salafy terhadap Jama’ah-jama’ah Hizbiyyah
2. Mengaburkan penghalang antara Ahlus Sunnah dengan Ahlul Bid’ah yang baru-baru saja tegak oleh keutamaan penyebaran aqidah Salafy yang membedakan antara Salafiyyun dengan Mubtadi’un. Membuat jalan lain untuk membangun jembatan penghubung dengan para Ahlul Bid’ah.
3. Mendorong kerjasama yang sama (dengan Ahlul Bid’ah) yang telah Hasan al-Banna buat pertimbangan dengan ‘mengambil yang baik dan membuang yang jelek’, entah itu berkaitan dengan orang, kelompok, buku, ataupun kaset.

Secara keseluruhan: Netralisasi terhadap jarh yang sebenarnya tidak dapat dihindarkan.

Respon Ahlus Sunnah:
Para Ulama Salafy, yang di depan mereka yaitu Syaikh Rabi’ bin Hady, menolak bid’ah-bid’ah ini, yaitu al-Muwazanah dan bekerjasama dengan jama’ah-jama’ah, dan juga prinsip bathil Adnan Ar’ur, dan mereka (para Ulama Salafy) menjelaskan bahwa ketika mengkritik dan menjarh dengan tujuan memperingatkan, maka jarh dan tajrih adalah cukup, dan jarh itu sendiri adalah adil, dan merupakan manhaj yang benar dan manhaj yang sejati. Maka kemudian dikenal jarh saja (tanpa menyebutkan sisi baik) adalah manhaj Salaf, dalam konteks memperingatkan dari bid’ah dan orang-orangnya. Maka seorang yang dengan akar Ikhwany menyembunyikan dirinya dalam barisan Salafiyyun, dan menampakkan dirinya sebagai pembela Sunnah dan orang-orangnya, maka ketika kesempatannya pas (meninggalnya 4 Imam, (yaitu Imam Ibn Baz, Imam Ibn Utsaimin, Imam al-Albany, dan Imam Muqbil –rahimahumullah-red)), mereka keluar untuk membawa sesuatu yang pendahulu mereka gagal membawanya. Melihat bahwa jarh saja (tanpa al-Muwazanah) merupakan hal yang tidak dapat diacuhkan, dan bahwa hal ini merupakan hal yang telah dikenal oleh Salafiyyun, dia muncul untuk merintangi dan membatasi jarh dan tajrih yang dibuat oleh Ahlus Sunnah, dan membuat prinsip barunya, dan membawa sebagian dari prinsip orang-orang sebelumnya, namun, menyamarkannya entah bagaimana. Tujuan aslinya adalah penghilangan jarh, namun ini tidak mungkin karena alasan sejarah.

Sisa-sisa dari fitnah:
Sisa-sisa dari fitnah yang tetap berada di atas kesesatan adalah mereka yang tetap bersama Hizbiyyin ini, dan Ushul bathil mereka, dan tetap berada dalam apa yang mereka di atasnya dengan menggunakan ucapan yang umum yang datang dari Syaikh al-Albany, Syaikh Ibn Baz, Syaikh Ibn Utsaimin, dan selain dari mereka pada awal tahun 1990 di mana realita dari Hizbiyyun ini belum nampak jelas pada para Ulama ini, dan ketika para Ulama ini melontarkan nasehat kepada semua yang berkepentingan, bahwa dari sudut pandang mereka bahwa semua yang terlibat perselisihan ini adalah dari Ahlus Sunnah, dan perkara-perkara ini tidaklah berkaitan dengan mereka yang di luar Ahlus Sunnah.

Reaksi balik ke-2 (berasal dari Sulaimany (yaitu Abul Hasan Musthafa bin Sulaiman al-Mishry al Ma’ribi-red), revolusi terbesar (tahun 2000, setelah meninggalnya para Ulama besar, diantaranya Syaikh Muhammad Sholih al Utsaimin, Syaikh Bin Baz, Syaikh Muqbil bin Haadi, red).

[al-Ma’riby]: Kita membenarkan (kesalahan) tapi tidak menghancurkan (orangnya)
[al-Ma’riby]: Manhaj yang luas (untuk mengakomodasi seluruh Ummat)
[al-Ma’riby]: Jama’ah-jama’ah adalah dari al-Firqah an-Najiyah, dan tabdi’ berlaku atas individu dan manhaj dari jama’ah-jama’ah, bukan jama’ah-jama’ah itu sendiri.
[al-Ma’riby]: Kita melakukan tatsabbut terhadap segalanya, yang kita dengar dan lihat oleh diri kita, kita bukan muqallidah
[al-Ma’riby]: Al-Mujmal dan al-Mufashshal, kita membela Sayyid Quthb dan al-Maghrawy, dan Ahlul Bid’ah lainnya, dengan menggunakan prinsip ini untuk memaklumi pernyataan bathil mereka, dan kita menggunakannya untuk membela dan membenarkan pernyataan-pernyataan yang mencela para Shahabat (seperti memanggil mereka dengan sebutah Ghutsaiyyah dan Aradzil), selama kita bisa, sebelum dipaksa untuk bertaubat
[al-Ma’riby]: Kita tidak mengeluarkan dari Salafiyyah, kecuali mereka yang menentang dari kebid’ahan yang pokok, (seperti) Kharijiyyah, Rafidhah, Tajahhum, Irjaa’, Qadar, sedangkan apa yang jama’ah-jama’ah kontemporer telah lakukan dari kebid’ahan-kebid’ahan dari ushul, maka kita tidak bisa mengeluarkan mereka karena hal-hal tersebut (yang mereka lakukan) hanyalah perkara-perkara furu’.
Inilah Tamyi’ Generasi ketiga.

Implikasi:
1. Rintangan dan pembatasan jarh itu sendiri, yang dibuat oleh Salafiyyun atas seseorang yang menyimpang dan keluar dari Sunnah dan Jama’ah, dan atas mereka yang telah berada di atas kebid’ahan dan kesesatan.
2. Menempatkan penghalang antara Jarh yang dibuat oleh para Ulama terhadap orang-orang yang menyimpang dan Ahlul Bid’ah, dan (menempatkan penghalang) antara penerimaan seluruh Ummat terhadap Jarh tersebut (maksudnya supaya ummat tidak menerima Jarh tersebut –red).
3. Memberikan setiap orang di Ummat ini otonomi dan kebebasan yang lengkap, jauh dari Ulama, untuk pergi dan meneliti dan memverifikasi dan menyelidiki bagi diri mereka sendiri, dan mengklaim bahwa ini akan menghindarkan dan menyelamatkan seseorang dari “taqlid”.
4. Memberikan tuduhan “Haddadiyyah” dan “Ghulat” dan “Muqallidah” terhadap para Salafiyyun yang menolak ushul bathil mereka.

Secara Keseluruhan: Rintangan, pembatasan, terhadap Jarh yang (sebenarnya –red) tidak dapat diacuhkan sebagai isolasi terhadap al-Muwazanah (dengan realisasi Ahlus Sunnah bahwa al-Muwazanah adalah Bid’ah dan tidak diperlukan).

Respon Ahlus Sunnah:
Para Ulama Salafy, yang di depan mereka yaitu Syaikh Rabi’ bin Hady, mengetahui beberapa hal ini di tahun-tahun yang lampau, namun terus menerus memberikan nasehat secara rahasia, dan menasehati selama bertahun-tahun. Ketika mubtadi’ Sulaimany mengaduk fitnah yang telah dia rencanakan di Yaman setelah kematian Syaikh Muqbil, para Ulama Yaman melihat kekeraskepalaannya dan kesombongannya atas banyak dari kesalahannya, maka mereka (para Ulama Yaman) menaikkan permasalahan ini kepada Syaikh Rabi’. Setelah menasehati dengan lembut dan halus, as-Syaikh merobohkan tiap kebathilan-kebathilan Bannawy (nisbat kepada Hasan al-Banna –red) satu persatu, dengan penghancuran yang lengkap. Secara keseluruhan, sekitar 25-30 Ahlul ‘Ilmi berbicara dengan tabdi’ dan tahdzir kepada Abul Hasan as-Sulaimany, setelah Revolusi Besar Sulaimany tahun 2002 mencapai puncaknya. Namun revolusi ini juga menyingkap yang lainnya, seperti Usamah al-Quusi (Ulama Yaman yang menyimpang, red) dan yang bersama dengannya, yang masih berhubungan dengan Abul Hasan dan berada di atas manhajnya, meskipun mereka menutupnya pada awalnya. Akhirnya mereka keluar dan membuat tampak hubungan mereka dan al-Wala dan al-Bara’ mereka untuk Abul Hasan. Kehadiran kelompok ini juga merupakan satu dari faktor-faktor terbesar yang menyebabkan kebingungan di kalangan pemuda Salafy, dan membuat mereka berada di atas ushul yang bathil dari Abul Hasan, mengira bahwa mereka berada di atas kebenaran. Ketika kelompok ini menyadari batas-batas mereka, tetap diam, dan tetap bersama pata Ulama yang lebih senior bagi mereka, seperti Syaikh Rabi’, Syaikh Ahmad an-Najmy, dan Syaikh ‘Ubayd al Jabiri dan selainnya, yang berada di atas bayyinah dalam masalah ini, akan lebih baik bagi mereka dan juga bagi para pemuda Salafy, dan berkurangnya kebingungan akibat fitnah yang mengikuti. Tapi ternyata jauh dari netral dan tidak memihak, mereka sebenarnya berada di atas manhaj Abul Hasan, dan ini menjadi nampak ketika mereka mulai mencela dan menyerang Ahlus Sunnah dengan kata-kata yang cukup eksplisit baru-baru ini.

Sisa-sisa dari fitnah ini:
Sisa-sisa dari fitnah ini yang masih berada di atas kesesatan adalah mereka yang tetap bersama mubtadi’ ini dan tidak dapat meloloskan diri mereka dari peran mereka di dalam Revolusi Besar Sulaimany karena mereka diracuni oleh ushul yang bathil. Mereka tetap di atas apa yang mereka berada di atasnya dengan menggunakan ucapan umum yang datang dari semisal Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad al Badr ketika beliau melontarkan nasehat kepada semua yang berkepentingan, yang mana dari sudut pandang beliau bahwa setiap orang yang terlibat dalam perselisihan ini merupakan Ahlus Sunnah, dan bahwa permasalahan ini tidak berkaitan dengan mereka yang sebenarnya telah keluar dari Ahlus Sunnah.

Reaksi Balik ke-3

Masa sekarang ini yang kita saksikan adalah kemunculan dari Thabaqat Tamyi’ yang berada di belakang Abul Hasan al-Ma’riby, dan mereka menyebarkan syubhat kepada para pemuda.

(Diterjemahkan dari http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=23&Topic=2349, disusun oleh author Salafipublications.com dgn judul Apa yang sebenarnya terjadi ? Sejarah Mumayyi’un, agar Anda tidak terjatuh (didalamnya). Sumber asli dalam Inggris gambar sejarah Tamyi’ http://www.salafitalk.net/st/uploads/HIstoryofTamyeeComplete.gif atau file PDF http://www.salafitalk.net/st/uploads/The_History_of_Tamyee_ZIP.zip)

Hukum Gambar [Termasuk di dalamnya gambar yang dibuat fotografer, pelukis, kameramen, pemahat, pengukir, dengan tangan atau dengan alat. Wallahu A'lam]

Muhammad ‘Arifin dan para pengikutnya menyebarkan buku yang berjudul “Hikmah Dzikir Jama’i” dan tampil di dalamnya beberapa gambar fotografi. Ini menunjukkan betapa bodohnya dia atau pura-pura bodoh terhadap hukum-hukum syari’at Islam.

Berikut ini adalah dalil-dalil yang menyatakan haramnya gambar-gambar bernyawa. Saya ringkas dari kitab Syaikh kami Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullahu (Gharatul Fishal hal 123 -142).
1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melaknat tukang gambar.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dalam sahihnya dari ‘Aun bin Abi Juhaifah dari ayahnya, bahwa dia membeli seorang budak yang mahir membekam, katanya:
إن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم نهى عن ثمن الدم وثمن الكلب وكسب البغي,ولعن آكل الربا وموكله والواشمة والمستوشمة والمصور
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melarang mengambil harga (upah) darah (bekam), anjing, usaha pelacuran. Dan beliau melaknat orang yang memakan riba, wakilnya (pengurusnya, pencatatnya), melaknat tukang tatto, yang minta ditatto dan tukang gambar.”
2. Perintah menghapus gambar
Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam sahihnya dari Abil Hayyaj Al Asadi, katanya:
قال لي علي بن أبي طالب رضي اللع عنه : ألا أبعثك على ما بعثني عليه رسول الله صلى الله عليه وعلىآله وسلم (( ألا تدع تمثالا إلا طمسته ولا قبرا مشرفا إلا سويته)) وفي رواية له :ولا صورة إلا طمستها
“‘Ali bin Abi Thalib berkata kepada saya:”Maukah kamu saya utus melakukan sesuatu sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam pernah mengutusku?”Janganlah kamu biarkan patung melainkan harus kamu hapuskan (lenyapkan), dan tidak ada satu kuburanpun yang menonjol melainkan harus kamu ratakan.” Dalam riwayat lain, tidak ada satu gambarpun melainkan harus kamu hapus.”
3. Gambar itu ada yang diibadahi di samping Allah
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Aisyah radliyallahu ‘anha, katanya:”Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam merasakan sakitnya, sebagian isterinya ada yang bercerita tentang gereja yang mereka lihat di negeri Habsyah yang bernama Maria, waktu itu Ummu Salamah dan Ummu Habibah berada di Habsyah dan melihatnya lalu menyebut-nyebut keindahannya serta gambar-gambar yang ada padanya, maka beliau berkata:
أولئك إذا مات منهم الرجل الصالح بنوا على قبره مسجدا ثم صوروا فيه تلك الصور , أولئك شرار الخلق عند الله
“Mereka itu, apabila meninggal seorang tokoh yang shaleh di kalangan mereka, maka mereka dirikan masjid (tempat ibadah) di atas kuburannya, kemudian mereka buat gambar-gambar di dalamnya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk di sisi Allah.”
4. Malaikat tidak masuk ke rumah yang ada gambarnya
Hal ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu ‘Abbas dari Abi Thalhah radliyallahu ‘anhum, katanya:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب ولا تصاوير
“Malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar.”
Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu ‘Umar radliyallahu ‘anhuma, katanya:”Jibril pernah berjanji untuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, namun tidak juga datang. Beliau sedih dan semakin bertambah. Kemudian beliau keluar dan bertemu dengan Jibril lalu mengatakan apa yang dirasakannya, kata Jibril:
إنا لا ندخل بيتا فيه صورة ولا كلب
“Sesungguhnya kami tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat gambar dan juga anjing.”
Imam Muslim meriwayatkan dari hadits ‘Aisyah radliyallahu ‘anha, katanya:
واعد رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم جبريل عليه السلام في ساعة يأتيه فيها فجاءت تلك الساعة ولم يأته وفي يده عصا فألقاها من يده وقال : ((ما يخلف الله وعده ولا رسله)). ثم التفت فإذا جرو كلب تحت سريره, فقال: يا عائشة متى دخل هذا الكلب ههنا؟ فقالت: والله ما دريت. فأمر به فأخرج. فجاء جبريل , فقال رسول اللهصلى الله عليه وسلم ((واعدتني فجلست لك فلم تأت؟)) فقال: منعني الكلب الذي كان في بيتك, إنا لا ندخل بيتا فيه كلب ولا صورة.
“Rasulullah pernah mengadakan janji dengan Jibril bahwa dia akan datang suatu saat yang ditetapkan, tapi ternyata tiba waktunya Jibril tidak datang. Sementara di tangan beliau ada sebatang tongkat, dan beliau lemparkan seraya berkata:”Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya, begitu juga para Rasul-Nya.” Kemudian beliau menoleh ternyata melihat seekor anak anjing di bawah tempat tidurnya, beliau berkata:”Ya ‘Aisyah, kapan anjing ini masuk ke mari?” ‘Aisyah berkata:”Demi Allah saya tidak tahu.” Lalu beliau perintahkan supaya dikeluarkan, kemudian setelah dikeluarkan, Jibril datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berkata:”Engkau sudah berjanji, dan saya sudah duduk menunggumu, namun kamu tidak datang.” Kata Jibril:”Saya terhalang oleh anjing yang ada di rumahmu. Sesungguhnya kami tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing, dan rumah yang di dalamnya ada gambar.”
Diriwayatkan oleh Imam An Nasai dan Ibnu Majah serta Abu Ya’la Al Maushuli dalam musnadnya dan lafaz ini dari beliau, dari hadits ‘Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu, bahwa dia pernah membuat makanan dan mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, beliau datang dan melihat di rumah ada tirai yang bergambar, beliau segera kembali. Dia berkata:
فقلت: يا رسول الله ما رجعك بأبي أنت وأمي؟ قال : إن في البيت سترا فيه تصاوير وإن الملائكة لا تدخل بيتا فيه تصاوير
“Saya berkata:”Ya Rasulullah, bapak ibuku tebusanmu, mengapa anda kembali?” Kata beliau:”Sesungguhnya di rumah itu ada tirai yang bergambar. Dan sesungguhnya malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambar.”
5. Termasuk manusia yang paling keras mendapat siksa hari kiamat adalah tukang-tukang gambar
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari ‘Abdillah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma, katanya:”Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
إن أشد الناس عذابا يوم القيامة المصورون
“Sesungguhnya orang yang paling keras mendapat siksa pada hari kiamat adalah para tukang gambar.”
Dalam riwayat lain:
إن الذين يصنعون هذه الصور يعذبون يوم القيامة يقال لهم: أحيوا ما خلقتم
“Sesungguhnya mereka yang membuat gambar-gambar ini akan disiksa pada hari kiamat, dikatakan kepada mereka:”Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan.”
6. Tukang-tukang gambar termasuk orang yang paling zalim
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, katanya:”Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
من ذهب يخلق كخلقي فليخلقوا حبة وليخلقوا ذرة
“Siapa yang mencoba meniru ciptaan-Ku hendaklah dia coba ciptakan sebutir biji, atau dzarrah.”
7. Dalil yang mengharamkan gambar bernyawa
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dan lafaz ini dari Muslim, dari hadits ‘Aisyah, katanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menemui saya dan saya sedang menggunakan satir sehelai kain yang bergambar. Berubah warna muka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Beliau segera merobek satir itu kemudian berkata:
إن من أشد الناس عذابا يوم القيامة الذين يشبهون بخلق الله . وفي رواية : فقطعناه فجعلناه وسادة أو وسادتين.
“Sesungguhnya orang yang paling keras mendapat siksa pada hari kiamat adalah mereka yang meniru-niru ciptaan Allah. Dalam riwayat lain:”Kemudian kami potong-potong kain itu lalu dibuat jadi satu atau dua bantal.”
8. Larangan membuat gambar
Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Jabir, katanya:
نهى رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم عن الصورة في البيت ونهى أن يصنع ذلك.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melarang adanya gambar di dalam rumah dan melarang membuatnya.”(Dihasankan oleh Syaikhuna Muqbil Al Wadi’i).
Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dari hadits Jabir radliyallahu ‘anhu:
أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم نهى عن الصور في البيت, ونهى الرجل أن يصنع ذلك وأن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أمر عمر بن الخطاب زمن الفتح وهو بالبطحاء أن يأتي الكعبة فيمحو كل صورة فيها, ولم يدخل البيت حتى محيت كل صورة فيها.
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melarang adanya gambar di rumah, dan melarang membuatnya. Dan beliau pernah memerintahkan ‘Umar bin Al Khaththab dan ketika itu beliau di Bathha` untuk menghapus semua gambar yang ada dalam Ka’bah. Dan Beliau tidak masuk ke Baitullah sampai semua gambar sudah dihapus.”
Syaikh Muqbil Al Wadi’i rahimahullahu mengatakan:”Kamu lihat dalam hadits ini terdapat dalil-dalil yang mengharamkan gambar secara umum, baik itu yang berjasad, atau tidak.
9. Menggambar merupakan dosa besar
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At Tirmidzi dari Abu Hurairah, katanya:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
يخرج عنق من النار يوم القيامة له عينان تبصران وأذنان تسمعان ولسان ينطق يقول : إني وكلت بثلاثة : بكل جبار عنيد, وبكل من دعا مع الله إلها آخر, وبالمصورين
“Keluar satu sosok dari jahannam pada hari kiamat, mempunyai dua mata untuk melihat, dua telinga untuk mendengar dan lisan untuk berbicara, katanya:”Sesungguhnya aku ditugasi untuk (menyiksa) tiga orang:”Semua yang zalim dan penentang. Semua yang berdo’a kepada sesembahan selain Allah, dan tukang-tukang gambar.”
Imam At Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan sahih gharib. Kata Syaikh Muqbil hadits ini sahih, rawinya semua tsiqat.

10. Perintah memotong Gambar sehingga Menyerupai Pohon
Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abu Hurairah, katanya:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
“أتاني جبريل فقال: إني كنت أتيتك البارحة فلم يمنعني أن أكون دخلت عليك البيت الذي كنت فيه إلا أنه كان في باب البيت تمثال الرجال, وكان في البيت قرام ستر فيه تماثيل, وكان في البيت كلب, فمر برأس التمثال الذي بالباب فليقطع فيصير كهيئة الشجرة, ومر بالستر فليقطع ويجعل منه وسادتين منتبذتين توطآن, ومر بالكلب فيخرج.” ففعل رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم وكان ذلك الكلب جروا للحسين أو للحسن تحت نضد له فأمر به فأخرج.
“Jibril datang kepadaku dan berkata:”Saya tadi malam menemuimu, tapi tidak ada yang mencegahku untuk masuk ke rumahmu melainkan karena adanya patung manusia.” Di rumah itu ada sehelai tirai yang bergambar, dan di dalamnya ada anjing. Maka potonglah patungr itu sehingga menjadi seperti pohon, dan tirai itu dibuat jadi satu atau dua buah bantal sandaran. Dan keluarkanlah anjing itu dari rumah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melaksanakannya. Anjing itu ternyata mainan Al Hasan dan Al Husain, yang sembunyi di bawah tempat tidur. Kemudian anjing itu dikeluarkan.”(HR. At Tirmidzi, katanya Hasan. Syaikhuna Al Wadi’i juga mengatakan hadits ini hasan).
11. Semua Yang membuat gambar bernyawa di neraka
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu ‘Abbas, katanya:”Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
كل مصور في النار , يجعل له بكل صورة صورها نفسا فتعذبه في جهنم
“Semua yang membuat gambar di neraka, dibuatkan nafas untuk setiap gambar itu lalu dia disiksa dengannya di Jahannam.”
Dari hadits ini dipahami bahwa gambar yang disebarkan di koran-koran, majalah, TV, video dan alat-alat modern lain, hukumnya haram.

Dan berhati-hatilah terhadap syubhat (tipuan, kerancuan) yang dihiasi oleh ahli ahwa` (pengikut hawa nafsu, ahli bid’ah). Padahal sudah dijelaskan bahwa semua tukang-tukang gambar (juru kamera, foto, pelukis, pemahat dan lain-lain) ada di neraka. Dan kul merupakan lafaz yang menunjukkan sifat umum (menyeluruh), begitu pula kalimat وَلاَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ (dan tidak ada satu gambar (patung) pun melainkan harus kamu hapus).
تِمْثَال berada dalam bentuk nakirah dengan susunan kalimat negatif, sehingga meliputi semua yang mempunyai ruh (jiwa).

Dikecualikan dalam hal ini adalah mainan anak-anak kecil, yang dibuat dari kain perca atau bulu, sebagaimana mainan ‘Aisyah yang berbentuk kuda-kudaan bersayap. Adapun yang dijual belikan dari bahan plastik (boneka), maka ini tidak boleh.

Berhati-hatilah wahai sunni dalam bergaul dengan masyarakatmu, karena kebanyakan mereka bertindak tanpa mengikuti dalil. Bahkan mereka banyak mengikuti musuh-musuh Islam, sedikit demi sedikit. Hal ini seperti yang ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:
لتتبعن سنن من كان قبلكم حذو القذة بالقذة حتى لو دخلوا جحر ضب لدخلتموه . قالوا : يارسول الله اليهود والنصارى؟ قال: فمن. انتهى.
“Sungguh, kalian betul-betul akan mengikuti sunnah-sunnah (jalan hidup) orang-orang sebelum kalian, setapak demi setapak, bahkan seandainya mereka masuk ke dalam lubang dlabb (biawak padang pasir), niscaya kalianpun mengikuti mereka. Para sahabat bertanya:”Ya Rasulullah, apakah (yang akan kami ikuti itu) orang Yahudi dan Nashara?” Beliau berkata:”Siapa lagi?”. (Selesai. Insya Allah bersambung dan terus dilengkapi).

(Disalin dari “Bid’ah ‘Amaliyah Dzikir Taubat, Bantahan terhadap ‘Arifin Ilham Al Banjari”, Penulis: Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al Bugisi, Murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, Yaman).

Hadits tentang rincian Asma’ul husna

Telah disebutkan dalam kitab Arifin Ilham “Hikmah dzikir berjama’ah”, hal lampiran bacaan dzikir bahwa termasuk yang dibaca dalam dzikir berjama’ah adalah Asma’ul husna. Lalu disebutkan oleh Ahmad Dimyathi dalam kitabnya, “Amaliah dzikir taubah”, penyebutan rincian dari 99 Asma’ul husna tersebut yang diambil dari beberapa riwayat Tirmidzi, Al-Hakim, Ibnu Hibban,dan yang lainnya. (Amaliah Dzikir Taubah,hal:55-60).

Memang telah diriwayatkan dalam shohih Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(( إن لله تسعة وتسعين اسما ماءة إلا واحدة من أحصاها دخل الجنة ))

“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama seratus kecuali satu,barangsiapa yang meng-ihsho’-nya maka dia masuk kedalam syurga”.
(Muttafaq alaihi ).

Makna “Ihsho'” adalah menghafalnya dan memahami maknanya dan disempurnakan dengan beribadah kepada Allah Azza Wajalla berdasarkan konsekwensinya,yaitu disaat kita hendak meminta ampun maka kita menyebut,”Ya Ghoffar (wahai yang maha Pengampun), dan jika hendak meminta rezki maka kita mengatakan “Ya Rozzaq a(wahai maha pemberi rezki)”. (lihat :Al-Qowa’id al Mutsla, karangan Ibnu Utsaimin:36).

Namun riwayat yang menyebutkan perincian tentang 99 nama tersebut tidak satupun diriwayatkan dari jalan yang shohih, namun seluruh riwayat tersebut tidak terlepas dari berbagai macam penyakit hadits, sehingga para ulama pun melemahkan riwayat tersebut. Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah Ta’ala:
“Sesungguhnya 99 nama tidak ada hadits yang shohih dalam penentuan (nama-namanya) dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Yang masyhur yang beredar di kalangan manusia adalah hadits riwayat Tirmidzi yang diriwayatkan oleh Walid bin Muslim dari Syu’aib bin Abi Hamzah. Dan para hafidz dari ahli hadits mengatakan: Tambahan ini adalah yang dikumpulkan oleh Walid bin Muslim dari para gurunya dari ahli hadits.Dan juga terdapat hadits kedua yang lebih lemah dari yang tadi,yang diriwayatkan Ibnu Majah. Dan telah diriwayatkan tentang jumlahnya selain dua jenis (riwayat tersebut) dari pengumpulan sebagian (Ulama) salaf.
(lihat: Majmu’ Fatawa Syeikhul Islam: 22/ 482).

Beliau juga berkata:”Menentukan (perincian nama tersebut) bukan dari perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam, berdasarkan kesepakatan yang ahli dalam mengenal haditsnya”. (Majmu’ Fatawa: 6/ 382)

Berkata Umar Sulaiman Al-Asyqor:
“Tidak ada hadits yang shohih penyebutan nama-nama tersebut secara rinci yang tidak meninggalkan bagian dalam perselisihan dalam menentukannya,bahkan disebutkan (nama-nama tersebut) secara terpisah dalam kitab Allah dan dalam sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,satu ayat menyebut satu nama, atau dua, atau lebih atau suatu ayat menutupnya dengan satu atau lebih dan terkadang beberapa ayat menyebutkan sejumlah nama-nama tersebut.”. (Lihat kitab: al-Aqidatu fillah, karangan Al-Asyqor, hal:187. Lihat pula kitab Al Qowa’id al-Mutsla: 38-48).

(Disalin dari “Bid’ah ‘Amaliyah Dzikir Taubat, Bantahan terhadap ‘Arifin Ilham Al Banjari”, Penulis: Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al Bugisi, Murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, Yaman).

Cara Bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam

Tokoh Sufi ini (Arifin Ilham) dalam dzikir-dzikirnya menyebutkan pula cara-cara bid’ah dalam mengucapkan shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, antara lain:
اللهم عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته
“Ya Allah, kepadamulah wahai Nabi, rahmat Allah dan berkah-Nya.”
اللهم صل وسلم على رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.”
السلام عليك يا نبي الله
“Kesejahteraan atasmu, wahai Nabi Allah.”
السلام عليك يا رسول الله
“Kesejahteraan atasmu, wahai Rasulullah.”
السلام عليك يا حبيب الله
“Kesejahteraan atasmu, wahai Kekasih Allah.”
يا نبي سلام عليك
“Wahai Nabi, kesejahteraan atasmu.”
يا رسول سلام عليك
“Wahai Rasul, kesejahteraan atasmu.”
يا حبيب سلام عليك
“Wahai kekasih, kesejahteraan atasmu.”
صلوات الله عليك
“Shalawatullah semoga tercurah kepadamu.”

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dari bacaan-bacaan shalawat ini, yaitu:
Yang pertama, tidak demikian cara atau bacaan shalawat yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kepada ummatnya. Dan bukan hak kita untuk membuat-buat cara baru yang berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para sahabatnya, karena hal ini merupakan perbuatan bid’ah dalam masalah agama.

Imam Bukhari (no 3370) dan Muslim (no 406) meriwayatkan dari Ka’b bin ‘Ujrah radliyallahu ‘anhu, katanya:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam keluar menemui kami, lalu kamipun berkata:”Kami sudah tahu bagaimana mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana mengucapkan shalawat untukmu?’ Beliau berkata:
((قولوا : اللهم صل على محمدكما صليت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد اللهم بارك على محمد كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد))
“Ucapkanlah:”Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau memberi berkah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
Dalam riwayat Muslim (no 405) dari hadits Abu Mas’ud Al Badri radliyallahu ‘anhu, katanya:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam datang kepada kami, ketika sedang berkumpul di tempat Sa’d bin ‘Ubadah. Maka Basyir bin Sa’d berkata:”Allah telah memerintahkan kami untuk bershalawat kepadamu, wahai Rasulullah, maka bagaimana caranya?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dia sehingga kami berharap seandainya dia tidak bertanya kepada beliau. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berkata:
قولوا : اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد واسلام كما قد علمتم
“Ucapkanlah:”Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberi berkah kepada keluarga Ibrahim. Di seluruh alam ini, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan ucapan salam sebagaimana yang telah kalian ketahui.”

Dan tidak ada satu dalil yang tsabit sama sekali bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengajarkan para sahabatnya seperti bid’ah yang diada-adakan oleh sufi ini.

Seandainya hal itu memang baik, niscaya mereka pasti telah mendahului kita mengerjakannya, maka hendaklah diperhatikan hal ini!

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengatakan:”Bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sesuai dengan lafaz hadits itu lebih utama (afdlal) dari lafaz yang manapun dan tidak boleh ditambah seperti dalam azan, maupun tasyahhud. Demikian yang ditegaskan Imam yang empat (Malik, Abu hanifah, Syafi’i dan Ahmad –ed). (Muhktashar Ftawa Mishriyah 92).

Diantara bacaan-bacaan shalawat bid’ah yang diada-adakan oleh sebagian kaum sufi adalah seperti yang dipaparkan oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu dalam kitabnya “Minhajul Firqatun Najiyah”. Dan di sini akan saya nukil apa yang ditulis oleh beliau hafizhahullah untuka menambah kejelasan masalah ini:

Bacaan-bacaan shalawat bid’ah
Kami mendengar beberapa bentuk bacaan shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang bid’ah. Sama sekali tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, para sahabatnya, tabi’in dan imam-imam mujtahid. Bacaan-bacaan ini hanyalah buatan beberapa syaikh yang belakangan. Dan setelah itu tersebar di kalangan orang-orang awam dan ahli ilmu. Akhirnya mereka membacanya lebih banyak dibandingkan bacaan yang diajarkan oleh Rasulullah. Bahkan sering pula mereka tinggalkan sama sekali shalawat yang benar (yang diajarkan Rasulullah) dan menyebarkan shalawat yang mereka terima dari para syaikh tersebut. Padahal kalau kita perhatikan dengan seksama bacaan-bacaan shalawat ini terlihat penyimpangannya dari shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah.

Diantara bacaan-bacaan shalawat itu adalah:
اللهم صل على محمد طب القلوب ودواءها, وعافية الأبدان وشفاءها ونور الأبصار وضياءها وعلى آله وسلم
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan kesejahteraan kepada Muhammad, penyenang hati dan obatnya. Penyehat tubuh dan penyembuh, cahaya dan penerang mata, beserta keluarganya.”
Sesungguhnya Asy Syafi (Yang Menyembuhkan) dan Al Mu’afi (Yang Menyehatkan) penyakit pada tubuh, hati dan mata hanyalah Allah satu-satunya. Adapun Rasulullah tidak memiliki kekuasaan terhadap dirinya apalagi orang lain. Susunan kalimat seperti do’a ini bertentangan dengan firman Allah Ta’ala:
قل لا أملك لنفسي نفعا ولا ضرا إلا ما شاء الله.
“Katakanlah (wahai Muhammad):”Aku tidak memiliki kekuasaan emberi manfaat untuk diriku dan tidak pula mudlarat kecuali apa yang dikehendaki Allah.”(Al A’raf 188).
Bertentangan pula dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:
لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم فإنما أنا عبد فقولوا عبد الله ورسوله
“Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku seperti orng-orang Nashara yang memuji Ibnu Maryam (Nabi ‘Isa). Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya.”(HSR. Bukhari).
Al Ithra` adalah berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam memuji.

Saya lihat sebuah kitab tentang keutamaan shalawat yang ditulis oleh seorang syaikh dari Lebanon, tokoh besar kaum sufi dengan susunan sebagai berikut:
اللهم صل على محمد حتى تجعل منه الأحدية القيومية
“Ya Allah limpahkan shalawat kepada Muhammad sehingga Kau jadikan daripadanya Al Ahadiyah Al Qayyumiyah.”
Al Ahadiyah Al Qayyumiyah adalah sebagian dari sifat Allah yang disebutkan dalam Al Quran. Di sini dia sandangkan sifat ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.

Dalam kitab Ad’iyah Ash Shabah wal Masa` yang ditulis oleh seorang syaikh besar dari Suria, katanya:
اللهم صل على محمد الذي خلقت من نوره كل شيء
“Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhammad yang Engkau ciptakan dari nur-nya (cahayanya) segala sesuatu.”
Sesuatu di sini termasuk Adam, iblis, anjing, babi dan sebagainya. Apakah mungkin seorang yang berakal mengatakan bahwa dia diciptakan dari cahaya Muhammad?

Padahal syaithan sendiri mengetahui dari apa dia dan Adam diciptakan, Allah Ta’ala menerangkan perkataan iblis ini dalam Al Quran:
أنا خير منه خلقتني من نار وخلقته من طين
“Saya lebih baik dari dia (Adam). Kau ciptakan aku dari api dan Kau ciptakan dia dari tanah.”(Shaad 76).
Ayat ini dengan tegas membantah perkataan syaikh tersebut [Dan Allah Ta'ala nyatakan pula bahwa Bani Adam ini diciptakan-Nya dari setetes air yang hina. Sebagaimana dalam surat Alif laam As Sajdah ayat 8].

Termasuk bacaan shalawat bid’ah juga:
الصلاة والسلام عليك يا رسول الله , ضاقت حيلتي فأدركني يا حبيب الله
“Shalawat dan salam atasmu, wahai Rasulullah. Sempit rasanya keadaanku, selamatkanlah aku, wahai kekasih Allah.”
Bagian pertama dari shalawat ini dapat diterima, namun pada bagian kedua terdapat bahaya kesyirikan. Yaitu ucapannya أدركني يا حبيب الله selamatkanlah aku wahai kekasih Allah. Ini bertentangan dengan firman Allah Ta’ala:
أمن يجيب المضطر إذا دعاه ويكشف السوء
“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang kesulitan ketika dia berdo’a kepada-Nya dan melenyapkan kesusahan…”(An Naml 62).
Dan:
وإن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو
“Jika Allah menimpakan kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya kecuali Dia sendiri..”(Al An’am 17).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sendiri apabila ditimpa keresahan dan rasa gelisah, selalu berdo’a:
يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث
“Ya Hayyu (Allah Yang Maha Hidup), Ya Qayyum (Allah Yang Maha Berdiri sendiri), dengan rahmat-Mu aku mohon bantuan-Mu.” (HR. At Tirmidzi, katanya hadits hasan).

Bagaimana mungkin boleh bagi kita mengatakan demikian kepada beliau, selamatkanlah kami dan tolonglah kami?! Kalimat dalam do’a ini bertentangan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:
إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله
“Kalau kalian meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika kalian memohon pertolongan, maka minta tolonglah kepada Allah.”(HR. At Tirmidzi, katanya hasan shahih).
Shalawat Fatih, isinya:
اللهم صل على محمد الفاتح لما أغلق
“Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, yang membuka semua yang terkunci.”

Orang yang mengucapkannya mengira membaca do’a ini lebih utama (afdlal) daripada membaca Al Quran 6000 kali. Dan ini dinukil dari ucapan Ahmad At Tijani, pemimpin tarekat (sesat) At Tijaniyah.
Sungguh, ini benar-benar suatu kebodohan kalau ada orang yang berakal apalagi muslim untuk mengatakan bahwa membaca do’a seperti ini lebih utama daripada membaca Kalamullah walau satu kali. Apalagi lebih dari 6000 kali. Ini tidak mungkin diucapkan oleh seorang muslim.

وأما وصف الرسول بالفاتح لما أغلق على إطلاقه دون تقييده بمشيئة الله فهو خطأ, لأن الرسول لم يفتح مكة إلا بمشيئة الله , ولم يستطع فتح قلب عمه للإيمان بالله , بل مات على الشرك والقرآن يخاطب الرسول قائلا :

Adapun mensifatkan Rasulullah sebagai Al Fatih terhadap segala sesuatu yang terkunci secara mutlak, tidak dibatasi dengan masyiatillah (kehendak Allah), ini suatu kesalahan besar. Karena Rasulullah tidak membuka (membebaskan) kota Makkah melainkan dengan kehendak Allah. Nyatanya Beliau tidak mampu membuka hati pamannya (Abu Thalib) untuk beriman kepada Allah. Dan dia mati dalam kesyirikan. Al Quran dengan tegas menyebutkan tentang keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam ini:
إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء
“Sesungguhnya engkau (hai Muhammad) tidak dapat memberi hidayah orang yang kau cintai. Tapi Allah-lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”(Al Qashash 56).
Dan firman Allah Ta’ala:
إنا فتحنا لك فتحا مبينا
“Sesungguhnya Kami telah membukakan kepadamu (pintu) kemenangan yang nyata.”(Al Fath 1).

Penulis Dalailul Khairat dalam Hizb ke tujuh, mengatakan:
اللهم صل على محمد ما سجعت الحمائم, ونفعت التمائم
“Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, sepanjang kicauan burung-burung merpati dan bermanfaatnya jimat-jimat.”

Tamimah (jamaknya tamaim) adalah jimat, yang dipasang pada anak-anak dan yang lainnya untuk melindungi dari ‘ain (penyakit akibat pandangan mata).[Al 'Ain pandangan dari seseorang yang dengki dan jiwanya keji. (Qaulul Mufid syaikh Muhammad Al 'Utsaimin).] Jimat ini tidak akan memberi manfaat bagi yang memasang atau yang dipasangkan kepadanya. Bahkan sebetulnya, ini termasuk perbuatan orang-orang musyrik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
قال : من علق تميمة فقد أشرك . صحيح رواه أحمد
“Barangsiapa yang menggantungkan jimat berarti telah berbuat syirik.”(HSR. Ahmad).
Susunan kalimat dalam shalawat ini bertentangan dengan hadits ini. Dan mengira bahwa kesyirikan dan jimat ini merupakan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Juga ada bacaan lain, yaitu:
اللهم صل على محمد حتى لا يبقى من الصلاة شيء, وارحم محمدا حتى لا يبقى من الرحمة شيء
“Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhammad sehingga tidak ada tersisa sedikitpun shalawat yang ada, dan rahmatilah Muhammad sehingga tidak ada tersisa dari rahmat itu sedikitpun.”
Kalimat ini mengungkapkan bahwa shalawat itu adalah rahmat. Padahal rahmat itu merupakan salah satu sifat fi’liyah (perbuatan) Allah, seakan-akan dia menganggap bahwa rahmat ini bisa dibatasi dan berakhir. Dan Allah membantahnya dengan firman-Nya:
قل لو كان البحر مدادا لكلمات ربي لنفد البحر قبل أن تنفد كلمات ربي, ولو جئنا بمثله مددا
“Katakanlah:”Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat rabbku, niscaya habislah lautan itu sebelum habis kalimat Rabbku itu dituliskan meskipun Kami datangkan tambahan tinta sebanyak itu pula.”(Al Kahfi 109).
Shalawat Basyisyah, dia mengatakan:
اللهم انشلني من أوحال التوحيد, وأغرقني في عين بحر الوحدة, وزج بي في الأحدية حتى لا أرى ولا أسمع ولا أحس إلا بها
“Ya Allah keluarkan aku dari lumpur tauhid dan tenggelamkan aku dalam lautan wihdah (wihdatul wujud). Sandingkan aku dalam keesaan sehingga aku tidak melihat, mendengar dan merasa kecuali dengannya.”

Ini adalah madzhab orang-orang yang meyakini bersatunya Khaliq (Allah) dengan makhluk. Dan tauhid itu di dalamnya ada lumpur dan kotoran, sehingga dia berdo’a agar dikeluarkan dari tauhid dan ditenggelamkan dalam lautan wihdatul wujud agar dapat melihat ilahnya ada pada segala sesuatu. Bahkan tokohnya mengatakan:”Tidaklah anjing dan babi melainkan ilah kita dan Allah tidak lain adalah rahib-rahib yang ada di gereja-gereja.”(Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan).[ Ibnul Mubarak rahimahullahu mengatakan:"Kami sanggup mengutarakan kembali ucapan orang-orang Yahudi dan Nashara tetapi kami tidak sanggup mengungkapkan pendapat orang-orang Jahmiyah yang mengatakan Allah ada di mana-mana."]

Orang-orang nashara terjatuh ke dalam jurang kesyirikan ketika mereka menyekutukan Allah dengan menyatakan ‘Isa putera Allah. Sementara mereka (wihdatul wujud) menjadikan semua makhluk itu sekutu Allah. Maha Suci Allah dari apa yang dikatakan oleh kaum musyrikin ini
Berhati-hatilah wahai saudara sesama muslim, dari bentuk shalawat bid’ah ini. Karena dia akan menjerumuskan engkau ke dalam jurang kesyirikan. Di samping itu juga telah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang tidak berbicara dari hawa nafsunya. Janganlah kamu menyimpang dari tuntunan beliau:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد.
“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu tertolak.”
Shalawat Nariyah. Shalawat ini dikenal oleh mayoritas kaum muslimin. Dikatakan bahwa siapa yang membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat melepaskan diri dari kesulitan, atau menunaikan suatu kebutuhan, pasti akan terlaksana. Ini adalah sangkaan yang sesat dan salah besar. Tidak ada dalilnya sama sekali. Apalagi kalau anda mengetahui isi bacaannya, niscaya anda akan melihat kesyirikan yang nyata, inilah bacaannya:
اللهم صل صلاة كاملة, وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد, الذي تنحل به العقد, وتنفرج به الكرب, وتقضى به الحوائج, وتنال به الرغائب, وحسن الخواتيم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم, وعلى آله وصحبه عدد كل معلوم لك
“Ya Allah limpahkanlah shalawat yang sempurna, kesejahteraan yang lengkap kepada junjungan kami Muhammad yang dengannya belenggu terlepas, kesulitan berakhir, segala kebutuhan terpenuhi, harapan tercapai, akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah), awan menurunkan hujannya dengan wajahnya yang mulia. Begitupula keluarga dan para shabatnya sebanyak yang Engkau ketahui.”
Sesungguhnya di antara prinsip ajaran ‘aqidah tauhid yang diserukan oleh Al Quran dan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan wajib diketahui oleh setiap muslim adalah meyakini bahwa hanya Allah satu-satunya yang melepaskan belenggu, melenyapkan kesulitan, memenuhi segala kebutuhan dan memberikan semua yang diharapkan oleh manusia ketika dia berdo’a kepada Allah.

Tidak boleh bagi seorang muslim berdo’a kepada selain Allah agar menghilangkan kegelisahannya atau menyembuhkan sakitnya, walaupun dia berdo’a kepada malaikat yang didekatkan atau Nabi yang diutus.

Al Quran dengan tegas mengingkari berdo’a kepada selain Allah, walaupun yang diseru dalam do’a itu adalah Rasul ataupun wali:
قل ادعوا الذين زعمتم من دونه, فلا يملكون كشف الضر عنكم ولا تحويلا, أولئك الذين يدعون يبتغون إلى ربهم الوسيلة أيهم أقرب ويرجون رحمته ويخافون عذابه إن عذاب ربك كان محذورا
“Katakanlah:”Panggillah mereka yang kamu anggap (sesembahan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula dapat memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabbnya, siapa di antara mereka yang lebih dekat dan mengharapkan rahmat-Nya serta takut kepada azab-Nya. sesungguhnya azab Rabbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.”(Al Isra` 56-57).

Para ulama ahli tafsir mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan satu golongan manusia yang berdo’a kepada Al Masih (Nabi ‘Isa), atau malaikat atau orang-orang shalih dari kalangan jin.
Bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam rela dikatakan mampu melepaskan belenggu, menghilangkan kesulitan. Padahal Allah berfirman dalam Al Quran memerintahkan:
قل لا أملك لنفسي نفعا ولا ضرا إلا ما شاء الله, ولو كنت أعلم الغيب لاستكثرت من الخير وما مسني السوء, إن أنا إلا نذير وبشير لقوم يؤمنون
“Katakanlah (wahai Muhammad):”Aku tidak memiliki kekuasaan emberi manfaat untuk diriku dan tidak pula mudlarat kecuali apa yang dikehendaki Allah. Seandainya aku mengetahui yang ghaib sungguh aku akan memperbanyak kebaikan dan tentulah aku tidak akan ditimpa kejelekan.”(Al A’raf 188).
Dan pernah datang seseorang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam lalu berkata kepada beliau : ما شاء الله وشئت(Yang dikehendaki Allah dan engkau).”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berkata kepadanya:
أجعلتني لله ندا؟ قل ما شاء الله وحده
“Apakah kau mau menjadikan saya tandingan bagi Allah?Tapi Katakanlah: ما شاء الله وحده (Apa yang dikehendaki Allah satu-satunya).”(HR. An Nasai dengan sanad hasan).
An Nid adalah tandingan atau sekutu.
Dan di akhir bacaan itu sendiri terdapat pembatasan terhadap ma’lumat (yng diketahui) Allah. Ini kesalahan yang fatal.
Seandainya kita ganti bihi (kembalinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam) dengan biha (kembalinya kepada shalawat) tentulah pengertiannya lebih baik. Tanpa harus mengiltizamkan jumlah yang tidak disyari’atkan. Sehingga menjadi seperti berikut ini:
اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على محمد, التي تحل بها العقد
“Ya Allah limpahkanlah shalawat yang sempurna, kesejahteraan yang lengkap kepada junjungan kami Muhammad yang dengannya itu belenggu terlepas.”
Yakni dengan shalawat itu. Karena membaca shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam adalah ibadah yang boleh kita bertawassul (menjadikan perantara) untuk lepas dan selamat dari kesulitan dan kesempitan.
لماذا هذه الصلوات البدعية من كلام المخلوق, ونترك الصلاة الإبراهيمية وهي من كلام المعصوم ؟. (الفرقة الناجية : 224 – 228 )
Mengapa kita mengamalkan shalawat bid’ah yang diajarkan oleh orang yang tidak ma’shum dan kita tinggalkan shalawat Ibrahimiyah yang justeru diajarkan oleh orang yang ma’shum (Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam)? (Firqatun Najiyah 224-228).
أن لفط (حبيب الله) لم تثبت نسبته إلى النبي صلى الله عليه وآله وسلم. وإنما الثابت عنه لفظ (خليل الله ) كما سنذكره إن شاء الله تعالى.
Yang kedua, lafaz habibullah tidak tsabit dinisbahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Yang tsabit adalah justeru khalilullah. Sebagaimana akan kami uraikan.

Ibnu Abil ‘Izzi Ad Dimasyqi dalam Syarah Ath Thahawiyah mengatakan:”Dipastikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memiliki derajat mahabbah yang paling tinggi, yaitu khullah (khalil). Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang sahih dari beliau:
إن الله اتخذني خليلا كما اتخذ إبراهيم خليلا
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan saya sebagai khalil-Nya sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai Khalil.”(HSR. Muslim).
Dan:
ولو كنت متخذا من أهل الأرض خليلا لاتخذت أبا بكر خليلا, ولكن صاحبكم خليل الرحمن
“Dan seandainya aku mengambil khalil dari penduduk bumi ini, maka sungguh aku akan mengambil Abu Bakr sebagai Khalil. Tetapi sahabat kalian ini (beliau sendiri) adalah Khalilur Rahman.”(HSR. Ibnu Abi Syaibah dan semakna dengan ini juga diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim).
Kedua hadits ini sebagaimana disebutkan ada dalam shahihain dan cukup untuk membantah ucapan mereka yang mengatakan:”Khullah untuk Ibrahim, Mahabbah (habib) untuk Muhammad. Maka Ibrahim adalah Khalilullah sedangkan Muhammad adalah habibullah. Di dalam sahih Muslim dari ‘Abdullah bin Mas’ud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
إني أبرأ إلى كل خليل من خلته
“Saya berlepas diri kepada setiap khalil dari khullahnya.”
Adapun mahabbah maka ini berlaku dan ada pada selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman:
والله يحب المحسنين
“Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”(Ali ‘Imran 134).
Dan firman Allah Ta’ala:
فإن الله يحب المتقين
“Maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.”(Ali ‘Imran 76).
إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat dan selalu bersuci.”(Al Baqarah 222).

Dengan demikian jelaslah batilnya ucapan mereka yang mengatakan khullah untuk Nabi Ibrahim, sedangkan mahabbah untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihima wa sallam. Adapun hadits Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi yang di dalamnya disebutkan:
إن إبراهيم خليل الله, ألا وأنا حبيب الله ولا فخر
“Sesungguhnya Ibrahim Khalilullah, dan saya Habibullah, bukan sombong.”
Bukanlah hadits yang sahih. (Syarh ‘Aqidah Thahawiyah 1/164-165, tahqiq Al Arnauth).

(Disalin dari “Bid’ah ‘Amaliyah Dzikir Taubat, Bantahan terhadap ‘Arifin Ilham Al Banjari”, Penulis: Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al Bugisi, Murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, Yaman).

Tamayul (bergoyang-goyang) ketika berdzikir
Lajnah (Lajnah Daimah – Dewan Riset dan Fatwa Saudi Arabia, red) ditanya:”Apakah dzikir yang dilakukan sebagian orang Mesir merupakan bagian dari agama? Misalnya mereka berdiri dan bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan sambil menyebut-nyebut lafadz Allah?

Jawab:
Perbuatan ini, kami tidak tahu dasarnya dalam ajaran agama Allah ini. Dia adalah bid’ah, menyelisihi syari’at Allah, wajib diingkari apalagi kalau mampu melakukannya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“Barangsiapa yang mengada-adakan suatu dalam urusan kami yang bukan daripadanya, maka dia tertolak.”(HSR. Imam Bukhari-Muslim dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anha).
Dan banyak hadits yang shahih dalam masalah ini. (Fatawa Lajnah Daimah 2/521-522).

(Disalin dari “Bid’ah ‘Amaliyah Dzikir Taubat, Bantahan terhadap ‘Arifin Ilham Al Banjari”, Penulis: Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al Bugisi, Murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, Yaman).